Cerita Alkitab yang Disampaikan Secara Lisan Menjangkau Orang-Orang Biasa

Saat pulang kerja dengan kereta bawah tanah, Patrick Stein memandang sekeliling dengan santai. Dua hal langsung menarik perhatiannya: pertama, sebagai pria berusia lima puluhan, dia mungkin termasuk penumpang tertua, sementara usia rata-rata di kota Afrika Utara ini hanya 26 tahun. Kedua, hampir semua orang memakai earbud dan terpaku pada ponsel mereka, masing-masing larut dalam dunia pribadi.

Sebagai misionaris International Mission Board, dia bertanya dalam hati apa yang bisa membuat orang tertarik dan mau menyimak cerita Alkitab. Ketika kereta bergerak berderak di rel, sebuah gagasan mulai muncul: bagaimana jika cerita Alkitab disajikan secara lisan dan bisa diputar di ponsel? Karena orang mendengarkan ponsel mereka melalui headphone atau earbud, tidak ada yang tahu apa yang sedang mereka dengarkan -- sebuah bentuk privasi yang sangat bernilai di wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim.

Selama berbulan-bulan, tim misionaris berpengalaman bersama orang percaya lokal yang bekerja dengan Stein telah berdoa secara strategis agar Roh Kudus menunjukkan cara baru untuk menjangkau kota mereka. Jawaban atas doa itu datang melalui perjalanan kereta ini.

Walaupun banyak orang dapat membaca, mereka umumnya belajar secara lisan.

"Kami memandang doa seperti 'walkie-talkie' pada masa perang. Kami berdoa seolah berkata, ‘Hei, kami membutuhkan dukungan di titik itu,’" kata Stein, mengenang bagaimana mereka menargetkan doa sesuai kebutuhan dan melihat Tuhan menanggapinya dengan kuat. "Kami memohon secara spesifik agar diberi cara untuk membagikan cerita Alkitab dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang biasa."

Stein menjelaskan bahwa Alkitab lokal ditulis dalam dialek yang sudah tidak digunakan siapa pun. Di kota berpenduduk jutaan ini, bahkan mereka yang mahir membaca lebih memilih Alkitab bahasa Inggris karena lebih mudah dimengerti. Setelah lebih dari satu dekade hidup di tengah budaya setempat, Stein menyadari bahwa kedua jenis Alkitab itu tetap bukan pilihan yang efektif. Walaupun banyak orang dapat membaca, mereka umumnya belajar secara lisan. Selain itu, jika mereka ingin menjangkau "orang biasa" yang berjualan minuman ringan di pinggir jalan, media cetak tidak akan efektif.

Tim tersebut akhirnya membutuhkan dua tahun untuk menyusun "50 Story Together Bible Stories" dalam bahasa modern lokal, dengan alur besar berjudul "Penyelamat yang Dijanjikan". Setiap cerita mengarah kepada Yesus, baik yang diambil dari Perjanjian Lama maupun dari kitab Wahyu.

"Kami memiliki tim pencerita yang seluruh anggotanya adalah orang percaya lokal. Mereka menyusun cerita dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami," kata Stein. "Kami melibatkan aktor profesional untuk melakukan perekaman karena kami ingin hasilnya menarik dan mampu memikat pendengar."

Cerita berdurasi dua menit ini -- tersedia dalam format video maupun audio -- digunakan untuk pemberitaan Injil dan pembinaan iman, dan dapat diunduh melalui situs web. Stephens Amani, seorang pendeta lokal, sudah memakai pendekatan ini untuk membagikan Injil. Saat menjelaskan betapa sederhana alur cerita yang menuju kepada Yesus, dia tersenyum dan berkata bahwa metode ini menjadi cara yang mudah untuk membawa orang kepada Raja segala raja.

"Ini sangat mudah digunakan dan orang-orang benar-benar menyukainya," ujar Amani. "Mereka saling membagikannya melalui media sosial."

Inserted image

Membawa cerita-cerita ini ke media sosial menjadi langkah lanjutan yang alami. Di wilayah yang sering mengalami penganiayaan terhadap orang Kristen, langkah ini memberi lapisan privasi tambahan dalam pemberitaan Injil. Sebuah cerita dapat diposting sehingga siapa pun bisa menontonnya. Setelah itu, seseorang dapat mengajukan pertanyaan lewat kolom komentar. Banyak orang tidak memiliki sosok yang aman untuk diajak bertanya tentang iman Kristen.

Di balik layar media sosial, ada tim orang percaya lokal yang sudah terlatih. Stein menjelaskan bahwa ada banyak troll yang hanya ingin berdebat atau mencoba mengungkap identitas orang Kristen. Orang percaya lokal telah belajar menyingkirkan kebisingan dan menemukan mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.

"Menggunakan media sosial seperti ini untuk menyebarkan Injil tidak sepenuhnya aman," kata Stein, sambil menegaskan bahwa selalu ada risiko ketika memberitakan kabar baik di wilayah ini. "Namun, orang percaya lokal telah memutuskan bahwa menyebarkan Injil layak menghadapi risiko tersebut."

Sebuah emoji hati atau wajah sedih pada sebuah postingan bisa memicu percakapan Injil yang pada akhirnya mengubah hidup seseorang. Seorang pria melihat iklan tentang kisah-kisah Yesus di media sosial. Dia mulai berinteraksi dengan orang percaya lokal secara online dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang semakin mendalam.

"Kemudian tibalah waktunya untuk bertemu langsung," kata Stein, sambil menjelaskan bahwa tujuan utama mereka adalah membawa para pencari kebenaran dari ruang online ke pertemuan tatap muka. "Pria ini bertemu dengan mitra nasional kami, mendengar Injil, lalu menjadi pengikut Yesus. Sekarang dia sedang dibina menggunakan 50 cerita itu."

"Ini hanyalah salah satu contoh bagaimana proyek Story Together Bible Stories berperan penting sebagai kontak awal seseorang dengan firman Tuhan," tambahnya.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : International Mission Board
Alamat artikel : https://www.imb.org/2023/07/17/oral-bible-stories-reach-everyday-people/
Judul asli artikel : Oral Bible stories reach ‘everyday’ people
Penulis artikel : Sue Sprenkle
Memuat data...

Mulai PA Online sekarang!