Cara Anda Menceritakan Kisah Allah Itu Penting

Dalam sebuah tulisan, saya pernah membahas betapa pentingnya orang Kristen belajar menceritakan kisah rohani mereka secara lebih efektif. Saya menulis, "Semakin sedikit orang yang ingin mendengarkan ceramah agama atau khotbah gereja, tetapi mereka akan mendengarkan cerita dari kehidupan rohani Anda jika Anda dapat menceritakannya dengan cara yang menarik."

Selain itu, ada satu kisah lain yang juga perlu kita pelajari untuk disampaikan dengan lebih baik -- yaitu kisah tentang Allah.

Yang saya maksud adalah kisah besar Alkitab tentang bagaimana Allah menyatakan diri-Nya kepada umat manusia, menebus kita dari ketakutan dan kematian, serta merancang masa depan bagi seluruh ciptaan. Ini adalah kisah agung tentang kasih dan kehancuran, ketakutan dan pengharapan, kebenaran dan kebohongan, serta tentang keteguhan Allah yang penuh kasih dalam menyelamatkan segala sesuatu yang telah Dia ciptakan.

Inserted image

Dahulu, kita mereduksi kisah ini menjadi sekadar informasi tentang bagaimana seseorang bisa masuk surga setelah meninggal. Kisah Allah yang begitu megah dan indah dipersempit menjadi kisah tentang kita -- dosa kita, kematian kita, hukuman kita. Mungkin Anda mengenalnya dalam bentuk penjelasan seperti traktat Jembatan Menuju Kehidupan:

Saya tidak menyukai pendekatan ini, bukan terutama karena apa yang dikatakannya, tetapi karena apa yang tidak dikatakannya. Jembatan Menuju Kehidupan menekankan dosa pribadi, tanggung jawab pribadi, dan keselamatan pribadi. Seseorang diminta memilih menyeberangi jembatan (Yesus) dari bumi menuju surga tanpa penjelasan tentang Allah yang datang ke bumi atau tentang rencana-Nya untuk menebus seluruh dunia. Traktat ini juga mengabaikan sebagian besar isi Injil -- mengesampingkan makna pelayanan Yesus dan Kerajaan Allah -- lalu merangkum kabar baik menjadi, "Yesus datang untuk mati bagi Anda."

Cerita itu bahkan tidak terdengar seperti sebuah kisah. Kedengarannya lebih seperti presentasi penjualan.

Namun, bukan seperti itu para penulis Perjanjian Baru menceritakan kisah tersebut. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes tidak memulai dan mengakhiri narasi mereka dengan kematian Yesus bagi dosa-dosa kita. Mereka menyampaikan kisah yang jauh lebih utuh dan mendalam. Setiap detail dalam keempat Kitab Injil memiliki arti penting dalam keseluruhan cerita. Bahkan dalam surat-surat Paulus, ketika dia dengan sengaja menyebut "kabar baik", dia merujuk pada atau menceritakan kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar, "Yesus datang untuk mati."

Dalam pembukaan suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menyajikan versi yang sangat ringkas dari kisah itu -- seolah-olah dia sedang mengingatkan mereka akan cerita yang sebenarnya sudah mereka kenal:

"Paulus, hamba Yesus Kristus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan bagi Injil Allah; yaitu Injil yang telah Allah janjikan sebelumnya melalui nabi-nabi-Nya dalam Kitab Suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging lahir dari keturunan Daud, dan yang dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa menurut Roh Kekudusan melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita. Melalui Dia, kami telah menerima anugerah dan kerasulan untuk membawa ketaatan iman demi nama-Nya, di antara seluruh bangsa bukan Yahudi, termasuk kamu yang dipanggil untuk menjadi milik Kristus Yesus.” (Rom 1:1-6, AYT)

Dalam ringkasan Injil tersebut tidak ada penyebutan eksplisit tentang kematian Yesus, kecuali secara tersirat melalui rujukan pada kebangkitan-Nya. Injil versi Paulus mencakup (a) identitas mesianik Yesus, (b) garis keturunan-Nya secara jasmani dari Daud, (c) peneguhan-Nya oleh Roh Allah, dan (d) kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Kalimat yang terus terngiang adalah, "Yesus Kristus, Tuhan (Raja) kita." Inilah sebuah kisah -- kisah yang agung dan penuh misteri tentang Allah yang bertindak dalam Kristus, Raja yang telah dijanjikan, yang menaklukkan maut dan bangkit dengan kuasa.

Ketika Paulus menguraikan kisah Allah dalam Kristus secara lebih luas, kita melihat bagaimana dia melengkapinya dengan detail-detail sejarah, seperti dalam khotbahnya di Antiokhia di Pisidia dalam Kisah Para Rasul 13:16-39. Saya tidak akan menyalin seluruh khotbah itu. Anda dapat membacanya sendiri. Namun, pusat pesannya adalah rangkaian peristiwa dalam kehidupan Yesus. Bukan hanya empat pokok yang diringkas dalam Roma 1, tetapi juga pembebasan Israel dari Mesir, bangkitnya Raja Daud, kelahiran Kristus, pelayanan Yohanes Pembaptis, keunggulan Yesus atas Daud, penolakan-Nya oleh para pemimpin agama, kematian-Nya di tangan Pontius Pilatus, penguburan-Nya, kebangkitan-Nya, hingga pelayanan-Nya setelah bangkit. Paulus kemudian menutup khotbahnya dengan:

"Oleh karena itu, biarlah diketahui olehmu, Saudara-saudara, bahwa melalui Dia inilah pengampunan atas dosa-dosa dinyatakan kepadamu, dan melalui-Nya, setiap orang yang percaya dibebaskan dari segala sesuatunya, yang darinya kamu tidak dapat dibebaskan oleh Hukum Taurat Musa." (Kisah Para Rasul 13:38-39, AYT)

Perhatikan bagaimana kesimpulan itu sejalan dengan ajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman. Namun, perhatikan juga bahwa Paulus dengan jelas menautkannya pada peristiwa-peristiwa sejarah -- pemerintahan Mesianik Yesus, kehidupan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya. "Kabar baik" adalah seluruh kisah Yesus, termasuk apa yang mendahului kedatangan-Nya dan apa yang terus Dia kerjakan sesudahnya.

Inti Injil, karena itu, mencakup kisah kelahiran Yesus -- yang menegaskan hak-Nya atas takhta kekal yang dijanjikan kepada Daud -- mukjizat-mukjizat-Nya yang menyatakan hadirnya Kerajaan Allah dan menunjukkan bahwa Dia adalah Raja, pengajaran-Nya yang mengumandangkan undangan Kerajaan sekaligus menetapkan tuntutannya, kematian-Nya yang menebus dosa manusia, serta kebangkitan-Nya yang menegaskan bahwa Dia adalah Anak yang ditetapkan Allah sebagai Hakim dunia dan Tuhan atas Kerajaan yang akan datang. Kita perlu belajar menceritakan kisah besar ini dengan lebih utuh dan hidup.

Lalu, bagaimana jika kita mengolah kembali ilustrasi lama "Jembatan Menuju Kehidupan" sehingga gambarnya menjadi seperti ini:

Inserted image

Dalam ilustrasi ini, saya menggabungkan gagasan dari Geoff Holsclaw dan Daniel Erlander untuk membentuk versi jembatan yang baru -- mohon maaf atas gambar tangan yang sederhana.

Bayangkan kita berada di sudut kiri atas, berseru, "Tolong!" Kita dilahirkan dalam tatanan dosa dan kematian. Dosa bukan sekadar kondisi batin pribadi, seakan-akan hanya melekat pada hati masing-masing individu. Dosa merasuki seluruh tatanan hidup. Dosa memunculkan keterasingan dari Allah sekaligus keterasingan satu sama lain. Dalam bagian yang diberi judul "Tatanan Kematian", terlihat gambaran tentang orang-orang kecil yang tergilas oleh roda kehidupan, penimbunan sumber daya, eksploitasi alam, konsumsi berlebihan, ketidakadilan, ketimpangan, kesombongan, serta ketergantungan pada kekuatan manusia yang rapuh dan terbatas.

Dari sisi lain, Allah datang kepada kita dari "Tatanan Kehidupan". Dalam tatanan ini terdapat pendamaian. Kita dipanggil menjadi rekan sekerja. Kita saling berbagi sumber daya. Kita berupaya hidup selaras dengan ciptaan. Kita menerima kelimpahan, belas kasihan, dan berkat dari Allah. Di dalamnya kita menemukan keluarga yang baru -- sebuah masyarakat yang telah ditebus dalam Kristus. Kita belajar mengasihi satu sama lain demi kebaikan sesama, bukan demi keuntungan diri sendiri. Inilah kabar baik bagi orang miskin dan tak berdaya, sebab kita bersandar pada kuasa Allah yang setia dan dapat dipercaya.

Dosa merasuki seluruh tatanan hidup. Dosa memunculkan keterasingan dari Allah sekaligus keterasingan satu sama lain.

Seperti dalam ilustrasi "Jembatan Menuju Kehidupan", Yesus menjadi jembatan antara dua tatanan ini. Namun, bukan hanya kematian-Nya yang merentangkan jembatan itu. Kehidupan-Nya -- kelahiran, mukjizat, dan pengajaran-Nya -- bersama dengan kematian dan kebangkitan-Nya, semuanya menjadi bagian dari jembatan tersebut. Kabar baik adalah keseluruhan kisah tentang Yesus Sang Raja dan Kerajaan-Nya -- Tatanan Kehidupan itu sendiri. Penekanannya bukan pada kita, melainkan pada Yesus. Dialah yang menyeberangi jurang pemisah itu untuk membawa Tatanan Kehidupan kepada kita yang terjebak dalam Tatanan Kematian.

Menceritakan kisah Allah berarti menunjukkan bagaimana kelahiran, mukjizat, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus menyingkapkan Tatanan Kehidupan. Itu menuntut kita memahami peristiwa-peristiwa nyata dalam kehidupan Yesus dan memperlihatkan bagaimana semuanya menunjuk pada cara baru menjadi manusia -- cara yang hanya mungkin karena Dia.

Dalam bukunya, The Suburban Captivity of the Church, Tim Foster membedakan antara Injil yang bersifat menghukum dan Injil yang berorientasi pada tujuan. Injil yang menghukum mereduksi kisah Allah menjadi sekadar petunjuk tentang bagaimana menghindari hukuman setelah kematian. Namun, Perjanjian Baru menghadirkan apa yang Foster sebut sebagai Injil yang berorientasi pada tujuan. Kata telos dalam bahasa Yunani kuno berarti tujuan, penggenapan, atau penyelesaian. Menurut Foster, Injil yang berorientasi pada tujuan adalah kisah tentang bagaimana kita dipulihkan kepada maksud semula Allah dalam Kristus. Jika diringkas, kabar baik itu dapat dijelaskan seperti ini:

Allah menciptakan dunia menurut maksud-Nya yang baik. Dia merancang agar kita hidup bersama-Nya dalam Tatanan Kehidupan. Namun, dosa manusia membuka jalan bagi kejahatan dan merusak maksud tersebut. Kita pun terperangkap dalam Tatanan Kematian. Namun, itu bukan tujuan Allah bagi manusia. Dia menghendaki kita bertumbuh dan berbuah dalam relasi dengan-Nya dan dengan sesama. Karena itu, Yesus menjembatani jurang pemisah tersebut. Dia membawa Tatanan Kehidupan ke tanah yang telah diracuni oleh Tatanan Kematian. Dia menghadirkan penyembuhan, sukacita, dan pengampunan. Dia mengusir roh-roh jahat, menegur penguasa yang korup, memberi makan orang lapar, menaklukkan kejahatan, dan mengalahkan maut. Melalui kebangkitan-Nya, Allah memulai tatanan sosial dan politik yang baru sesuai dengan tujuan-Nya. Kita sekarang hidup dalam terang masa depan itu oleh kuasa Roh Kudus.

Seperti yang pernah dikatakan Dallas Willard, "Injil lebih sedikit tentang bagaimana masuk ke kerajaan surga setelah mati, dan lebih banyak tentang bagaimana hidup di kerajaan surga sebelum mati."

Membagikan kabar baik tidak seharusnya hanya menyasar naluri mempertahankan diri. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menceritakan kembali kisah Yesus, Raja kita, dan Tatanan Kehidupan-Nya yang luar biasa. Berikut beberapa hal yang perlu diingat ketika membagikan iman:

  • FOKUS PADA YESUS: Jangan hanya menceritakan kematian Yesus, tetapi sampaikan seluruh kisah-Nya: kelahiran-Nya sebagai Raja yang dijanjikan, mukjizat dan pengajaran-Nya yang menyingkapkan Tatanan Kehidupan, kematian-Nya yang menebus dosa, serta kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan.
  • GUNAKAN KITAB-KITAB INJIL: Jadikan Kitab-kitab Injil sebagai sumber utama ketika berbicara tentang Yesus. Tekankan bahwa kisah Yesus adalah peristiwa sejarah yang disaksikan saksi mata, pelajarilah Injil dengan sungguh-sungguh, hafalkan atau kuasai kisah-kisahnya, dan tunjukkan bagaimana kehidupan serta pelayanan Yesus mengungkapkan Tatanan Kehidupan.
  • HINDARI SISTEMATISASI: Tidak perlu memuat seluruh kisah Yesus dalam satu percakapan atau merangkumnya ke dalam bagan seperti Jembatan Menuju Kehidupan, Empat Hukum Rohani, atau Dua Cara Hidup. Kuasai kisah Injil secara utuh sehingga Anda dapat menghubungkan pengalaman orang (ketakutan, penyakit, ketidakadilan, korupsi, pergumulan lain) dengan cara Yesus membawa Tatanan Kehidupan ke tengah Tatanan Kematian.
  • TEKANKAN NARASI PENDERITAAN: Sekitar seperlima isi Kitab-kitab Injil menyoroti penderitaan dan kematian Yesus, dari Getsemani hingga penguburan-Nya. Walaupun Injil bukan hanya tentang kematian Yesus, bagian ini tidak boleh diabaikan karena para penulis Injil memberi porsi besar padanya, sehingga kita pun perlu memandangnya dengan keseriusan yang sama.
  • RAYAKAN PEMERINTAHAN MESIANIK YESUS: Tekankan bahwa Yesus adalah Raja. Tunjukkan bagaimana Paulus meringkas Injil dengan menyoroti kebangkitan Yesus dan status-Nya sebagai keturunan Daud (misalnya 2 Timotius 2:8), dan tekankan bahwa Kristus adalah Yang Diurapi yang memerintah; Yesus bukan sekadar guru, melainkan Raja dan Penguasa hidup kita.
  • JADILAH TEOSENTRIS: Jangan memusatkan pemberitaan Injil pada manusia (dosa, kondisi, dan kebutuhan kita) dengan Yesus hanya sebagai solusi di akhir. Mulailah dari Allah: karya-Nya, maksud-Nya, dan pemerintahan-Nya, lalu tempatkan diri kita di dalam kisah-Nya sehingga fokusnya tetap pada Allah, bukan pada kita.
  • ARAHKAN PADA LOYALITAS PRIBADI: Ingat bahwa Yesus memberitakan hadirnya Kerajaan Allah, Tatanan Kehidupan, dan berulang kali memanggil, “Ikutlah Aku.” Saat menceritakan kisah Yesus, jangan berhenti pada informasi atau biografi tokoh, tetapi arahkan hingga pada Kristus yang bangkit dan hidup, yang menuntut kesetiaan dan loyalitas pribadi, masuk ke dalam pikiran dan hati kita, lalu membentuk hidup kita selaras dengan Tatanan Kehidupan-Nya.
Diambil dari:
Nama situs : Michael Frost
Alamat artikel : https://mikefrost.net/the-way-you-tell-the-story-of-god-matters/
Judul asli artikel : The Way You Tell the Story of God Matters
Penulis artikel : Michael Frost
Memuat data...

Mulai PA Online sekarang!