Pentingnya Tradisi Lisan

Sebelum Kitab-kitab Injil ditulis, para pengikut pertama Yesus menjaga ingatan tentang diri-Nya dengan saling berbagi cerita mengenai kehidupan, kematian, dan ajaran-Nya.

Dari cara kisah-kisah tersebut berkembang dalam Kitab-kitab Injil, terlihat jelas bahwa para penulis Injil -- yang hidup satu generasi setelah kematian Yesus -- menulis berdasarkan ingatan lisan, yakni cerita-cerita yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para pengikut-Nya. Namun, ketika kita merenungkan kematian Yesus dan membayangkan sekelompok orang yang tetap terikat kepada-Nya serta pada kenangan tentang diri-Nya setelah Dia wafat, periode waktu itu pasti merupakan masa yang sangat menyedihkan dan traumatis. Banyak harapan dan ekspektasi awal mereka runtuh. Semua pembicaraan tentang kedatangan Kerajaan Allah yang segera seolah dibantah oleh kematian-Nya.

Gambar: gambar

Namun, ada pula kisah tentang kebangkitan-Nya -- kisah tentang Dia yang bangkit kembali. Di sekitar ingatan inilah, dan di sekitar pergumulan- pergumulan tersebut, banyak kisah lisan awal tentang Yesus beredar dan mulai terbentuk. Karena itu, kita dapat membayangkan para pengikut Yesus berkumpul di sekitar meja makan dan saling berbicara tentang kenangan mereka -- mungkin tentang sesuatu yang pernah Dia katakan, atau mungkin tentang gambaran singkat yang mereka miliki tentang diri-Nya. Tentu saja, mereka memandang gambaran itu sebagai gambaran tentang kuasa yang besar. Namun, hal yang terus berulang adalah bahwa mereka menceritakan siapa Dia dengan menengok kembali pengalaman tentang apa yang Dia alami melalui kematian-Nya dan melalui kisah kebangkitan-Nya.

Pada masa-masa awal gerakan Yesus, bercerita memegang peranan yang sangat penting. Kita bahkan dapat menyebutnya sebagai gerakan Yesus, karena jika kita memahaminya sebagai Kekristenan -- dilihat dari sudut pandang sebuah gerakan atau agama institusional yang baru terbentuk beberapa ratus tahun kemudian -- kita akan kehilangan nuansa tahun-tahun awal yang masih kasar dan sederhana. Pada masa itu, kelompok-kelompok kecil berusaha mempertahankan ingatan tentang Yesus dan, lebih dari itu, berusaha memahami apa arti Yesus bagi mereka. Inilah fungsi sejati dari kisah-kisah tersebut -- sebagai sarana untuk mengartikulasikan pemahaman mereka tentang Yesus. Dalam proses bercerita ini, ketika kita mengenalinya sebagai bagian hidup dari perkembangan tradisi, kita sedang menyaksikan bagaimana mereka mendefinisikan Yesus bagi diri mereka sendiri. Pada titik inilah kita menangkap sesuatu yang autentik dan mungkin merupakan salah satu bagian paling penting secara historis dalam perkembangan Kekristenan.

TRADISI LISAN BERKEMBANG MENJADI KITAB-KITAB INJIL

Kita perlu mengingat bahwa Yesus wafat sekitar tahun 30 Masehi. Selama kurang lebih empat puluh tahun setelah itu, belum ada Injil tertulis yang menceritakan kehidupan-Nya, setidaknya hingga masa setelah pemberontakan. Pada periode ini, catatan tertulis dalam Kekristenan masih sangat sedikit. Penulis pertama dalam Perjanjian Baru adalah Paulus, dan surat pertamanya ditulis sekitar tahun 50 hingga 52 -- kira-kira dua puluh tahun setelah masa hidup Yesus. Namun, pada rentang waktu antara kematian Yesus dan penulisan Injil pertama, yaitu Injil Markus, jelas bahwa kisah-kisah tentang Yesus telah diceritakan secara luas. Cerita tentang apa yang dialami Yesus, apa yang Dia perjuangkan, dan apa yang Dia lakukan diwariskan secara lisan melalui penceritaan yang terus diulang.

Fakta bahwa tradisi ini berkembang melalui media lisan sangat penting bagi pembentukan tradisi itu sendiri. Cerita-cerita lisan cenderung disampaikan dalam bagian-bagian yang mudah diteruskan dan mudah diingat. Terkadang kisah-kisah tersebut disusun dalam urutan yang berbeda, atau hanya bagian tertentu saja yang diceritakan. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kumpulan cerita mukjizat yang beredar secara terpisah, demikian pula kumpulan ajaran. Namun, inti dari seluruh tradisi lisan ini adalah ringkasan tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus -- yang dikenal sebagai tradisi Passion.

Lalu, bagaimana kisah-kisah yang saling diceritakan ini akhirnya mulai dituliskan?

Dalam perkembangan tradisi lisan, seiring berjalannya waktu, sebagian dari kisah-kisah tersebut mulai dituangkan dalam bentuk tulisan. Pernyataan-pernyataan ringkas yang merangkum isi kisah tentang Yesus inilah yang kemudian dipahami sebagai Injil -- Kabar Baik, yakni cerita tentang Yesus. Namun, istilah Injil, atau kabar baik, pada dasarnya berarti sebuah pewartaan tentang apa yang telah terjadi -- Kisah Besar. Inilah yang menjadi hakikat kitab-kitab Injil: sebuah tradisi naratif yang menyampaikan kisah Yesus.

KISAH KEBANGKITAN

Bagaimana kisah kebangkitan dimulai? Kita perlu mengingat bahwa Kitab-kitab Injil itu sendiri -- beserta kisah lengkap tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus -- ditulis jauh setelah peristiwa-peristiwa tersebut terjadi. Jarak waktunya mencakup satu generasi penuh, dan dalam beberapa kasus bahkan mencapai enam puluh tahun, atau dua generasi kemudian. Karena itu, kisah-kisah tersebut memiliki waktu yang panjang untuk berkembang dan mengalami perubahan. Namun, kita dapat melihat bahwa kisah-kisah itu berakar pada bagian-bagian kecil dari tradisi lisan yang telah beredar selama bertahun-tahun sebelumnya.

Hal ini tampak jelas bahkan dalam surat-surat Paulus. Paulus sendiri tidak menulis Injil. Dia juga tidak banyak menceritakan tentang kehidupan Yesus. Dia tidak pernah menyebut kisah mukjizat, tidak mengatakan apa pun tentang kelahiran Yesus, dan tidak membahas pengajaran Yesus melalui perumpamaan atau ciri-ciri khas lain dari tradisi Injil. Yang Paulus sampaikan kepada kita terutama berkaitan dengan kematian Yesus, dan dia melakukannya dengan cara yang menunjukkan bahwa dia sedang mengulang materi yang sudah dikenal luas. Karena itu, ketika dia berkata, "Saya menerima dan saya sampaikan kepada kalian," dia merujuk pada khotbahnya. Namun, pada saat yang sama, dia juga menjelaskan bahwa isi khotbah tersebut -- materi yang dia sampaikan -- telah dibentuk melalui tradisi lisan itu sendiri.

Salah satu contoh paling penting dari hal ini terdapat dalam Surat Pertama kepada Korintus. Dalam dua bagian yang berbeda dari surat tersebut, Paulus menyampaikan potongan-potongan materi lisan awal yang dia ulangi dengan cara tertentu agar para pendengarnya mengingat kembali apa yang telah mereka dengar sebelumnya. Dengan kata lain, Paulus mengandaikan bahwa mereka akan mengenali materi tersebut. Karena kita dapat mengidentifikasi bagian-bagian ini dari cara Paulus menuliskannya, kita kemudian dapat merekonstruksi bagaimana bentuk materi awal itu sebelum pernah dituangkan dalam tulisan.

Tradisi lisan paling awal bukanlah upaya untuk mengingat secara persis apa yang terjadi, tetapi merupakan upaya kembali kepada simbol-simbol tradisi yang mampu memberi makna pada peristiwa tersebut.

Salah satu contohnya terdapat dalam 1 Korintus 11, ketika Paulus menceritakan bagaimana Yesus menetapkan Perjamuan Terakhir. Bagian ini merupakan salah satu potongan tradisi lisan awal. Contoh lainnya terdapat dalam 1 Korintus 15, ketika Paulus menyampaikan kisah tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus. Dalam pasal ini, uraian Paulus mengenai kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus merupakan catatan tertulis tertua yang kita miliki. Jelas bahwa materi ini adalah apa yang Paulus sendiri dengar dan pelajari selama beberapa tahun. Karena itu, bagian ini menjadi salah satu unit kecil dalam surat-surat Paulus yang membawa kita semakin dekat pada masa sejarah Yesus.

Inilah yang Paulus sampaikan kepada kita. Dia mengatakan bahwa Yesus mati, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci, dengan mengaitkannya pada nubuat. Setelah itu, dia menyatakan bahwa Yesus menampakkan diri. Paulus tidak menceritakan apa pun tentang kubur yang kosong. Tidak ada rujukan sama sekali pada bagian kisah tersebut. Sebaliknya, dia menyampaikan bahwa Yesus menampakkan diri pertama-tama kepada Petrus, kemudian kepada kedua belas rasul, dan selanjutnya kepada lima ratus orang, beberapa di antaranya telah meninggal pada saat Paulus mendengar kisah itu.

Dalam kedua kasus ini, menarik bahwa kita memperoleh informasi yang tidak ditemukan di bagian mana pun dalam tradisi Injil. Karena itu, bagian-bagian ini merupakan unit tradisi lisan yang sangat penting bagi perkembangan tradisi tersebut.

TRADISI LISAN

Ketika tradisi lisan muncul seputar suatu peristiwa sejarah atau tokoh sejarah, yang terjadi justru cukup menarik. Tradisi lisan paling awal bukanlah upaya untuk mengingat secara persis apa yang terjadi, tetapi merupakan upaya kembali kepada simbol-simbol tradisi yang mampu memberi makna pada peristiwa tersebut. Karena itu, kita dapat membayangkan bahwa legenda, mitos, nyanyian, dan doa menjadi sarana utama berkembangnya tradisi lisan. Peralihan menuju tradisi yang diformulasikan secara lebih sistematis dan tampak seperti laporan peristiwa sejarah yang sebenarnya merupakan hasil akhir dari proses perkembangan ini. Hanya para penulis pada tahap berikutnya yang menyusun kisah penderitaan Yesus dalam bentuk laporan yang menyerupai urutan peristiwa sejarah yang terjadi satu demi satu.

Sebagai contoh, dapat dibayangkan bahwa cara paling awal umat Kristen mula-mula menceritakan penderitaan dan kematian Yesus adalah melalui sebuah nyanyian, yaitu nyanyian yang dikutip Paulus dalam Filipi 2. Nyanyian ini berbicara tentang Dia yang berada dalam rupa Allah, yang merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib, dan karena itu ditinggikan oleh Allah. Ini merupakan nyanyian yang sangat tua. Paulus mengutip nyanyian tersebut ketika dia menulis surat kepada jemaat di Filipi pada awal tahun 50-an abad pertama, dan nyanyian itu kemungkinan besar telah dinyanyikan dalam komunitas-komunitas Kristen sepuluh atau dua puluh tahun sebelumnya. Beginilah kisah itu pertama kali disampaikan. Fakta bahwa kisah ini disampaikan dalam bentuk nyanyian menunjukkan bahwa penceritaan tersebut berakar kuat dalam kehidupan ibadah komunitas. Di sinilah sesungguhnya tradisi lisan bermula. Kisah itu kemudian terus hidup ketika diceritakan ulang dan dinyanyikan ulang... bisa dinyanyikan kembali sebagai nyanyian, atau diceritakan kembali sebagai narasi, sekali lagi dalam konteks ibadah komunitas.

Tradisi lisan berkembang ketika sebuah komunitas berusaha memulihkan ingatan bersama dalam kehidupan komunitasnya. Hal yang sama juga terjadi pada kata-kata Yesus ketika diingat dan diteruskan. Kata-kata Yesus tidak diingat untuk mencatat keindahan khotbah-khotbah-Nya, tetapi untuk menemukan kebijaksanaan yang dapat menata kehidupan komunitas baru. Kutipan-kutipan atau perkataan Yesus yang paling awal tidak kita temukan dalam Injil, melainkan dalam surat-surat Paulus. Setiap perkataan Yesus yang muncul dalam surat-surat Paulus berfungsi sebagai nasihat untuk mengatur kehidupan komunitas. Di situlah tujuan utamanya. Apa pun yang tidak melayani tujuan tersebut tidak akan masuk ke dalam tradisi lisan.

Karena itu, kita tidak dapat kembali dan mengupas lapisan-lapisan yang terbentuk kemudian untuk menemukan lapisan paling awal dari kata-kata Yesus lalu menyimpulkan bahwa itulah yang pasti Yesus katakan. Bahkan lapisan paling awal dari tradisi perkataan Yesus pun telah diformulasikan bukan demi mengabadikan ingatan semata, tetapi demi menopang kehidupan komunitas.

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa cerita-cerita dan tradisi lisan ini akhirnya dituliskan. Salah satu kemungkinannya adalah kebutuhan untuk berkomunikasi dari satu komunitas ke komunitas lain. Satu-satunya cara bagi komunitas-komunitas Kristen yang saling berhubungan untuk memastikan bahwa tradisi mereka tetap seragam dan dapat dibagikan adalah dengan menuliskannya dan saling bertukar kisah-kisah tersebut. Selain itu, penulisan juga dapat berfungsi sebagai semacam surat rekomendasi. Hal ini memang terdengar agak aneh, tetapi kita mengetahui bahwa para rasul Kristen tidak hanya berkeliling melakukan mukjizat, melainkan juga membawa catatan tentang mukjizat yang pernah mereka lakukan di tempat lain, termasuk catatan tentang mukjizat Yesus, sebagai bentuk pengakuan atau akreditasi ketika mereka datang ke komunitas baru...

Dengan demikian, penulisan dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Mungkin pula narasi tentang penderitaan Yesus dituliskan untuk memastikan bahwa, di berbagai komunitas yang berbeda, kisah tentang penderitaan Yesus yang diceritakan dalam perayaan sakramen mengikuti garis cerita yang sama. Namun, penulisan sebuah kisah pada suatu titik tertentu tidak berarti bahwa kisah tersebut kemudian menjadi tetap dan tidak berubah. Ketika sebuah kisah berpindah dari bentuk lisan ke bentuk tulisan, kisah tertulis itu kemudian kembali digunakan dalam penceritaan pada situasi liturgis yang baru. Akibatnya, proses penulisan selanjutnya akan berbeda dari penulisan sebelumnya. Oleh karena itu, kita tidak dapat berbicara tentang sebuah tradisi yang mula-mula lisan lalu menjadi sepenuhnya tetap dan tidak berubah.

(t/Jing Jing)

Diambil dari:
Nama situs : PBS Shows
Alamat artikel : https://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/story/oral.html
Judul asli artikel : Importance of the Oral Tradition
Penulis artikel : PBS Shows

Mulai PA Online sekarang!