Tradisi Lisan: Bagaimana Alkitab Terbentuk

Beberapa tahun yang lalu, sebelum berbicara di sebuah acara, saya tiba lebih awal dan sempat mengikuti ibadah pada hari Minggu itu. Ketika memasuki ruang ibadah, perhatian saya tertuju pada jendela-jendela kaca berwarna. Setiap jendela menggambarkan salah satu penulis Injil -- Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes -- masing-masing memegang sebuah buku dan pena bulu angsa, sambil menatap ke langit, seolah-olah kata-kata yang mereka tuliskan sedang didiktekan langsung oleh Tuhan.

Jendela-jendela itu memang indah. Namun, yang mengusik pikiran saya adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen memiliki gambaran serupa ketika memikirkan bagaimana Alkitab terbentuk.

Mungkin terasa menenangkan untuk membayangkan bahwa Kitab Suci diturunkan secara langsung dari mulut Allah ke tangan para penulisnya. Akan tetapi, secara historis, itulah bukan proses yang sebenarnya terjadi. Kisah-kisah yang kini terkumpul dalam Alkitab disampaikan secara lisan selama bertahun-tahun, puluhan tahun, bahkan berabad-abad sebelum akhirnya dituliskan. Proses penyampaian dan pengulangan kisah-kisah dari kehidupan iman umat Allah inilah yang disebut sebagai tradisi lisan.

Sebuah doa Yahudi kuno diawali dengan seruan untuk mendengar, yang dikenal sebagai "Shema Yisrael". Dalam bahasa Ibrani, doa ini berbunyi, “Dengarlah, hai Israel: TUHAN adalah Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4, AYT). Ketika menyangkut hal-hal terpenting yang perlu kita pelajari dari Allah, kita dipanggil pertama-tama bukan untuk membaca atau menulis, melainkan untuk mendengarkan.

Anda turut mengambil bagian dalam tradisi lisan setiap kali Anda menceritakan sebuah kisah Alkitab. Mungkin Anda sendiri pernah mengalami proses yang sama ketika menerima kisah-kisah tentang Allah dari guru, pendeta, orang tua, atau kakek-nenek Anda. Tradisi lisan bukan hanya cara Alkitab terbentuk secara historis, tetapi juga memiliki sejumlah keunggulan penting bagi Anda sebagai seorang pengajar.

Inserted image

Pertama, tradisi lisan bersifat personal. Proses ini berlangsung secara langsung antara Anda dan para pendengar. Kisah-kisah Alkitab yang mereka pelajari melalui Anda tidak hanya menyampaikan isi ajaran, tetapi juga membangun relasi antara Anda dan mereka. Allah menciptakan seluruh alam semesta karena kerinduan akan relasi, dan Yesus datang untuk memperdalam hubungan antara Allah dan manusia. Yesus bahkan mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia menyebut mereka sahabat. Melalui tradisi lisan, persahabatan dengan Yesus dibangun lewat relasi yang Anda jalin dengan para pendengar.

Meskipun tradisi lisan merupakan seni yang sangat kuno, ia selalu berlangsung di masa kini. Sekalipun Anda menceritakan kisah yang berusia dua ribu tahun atau menyanyikan lagu yang jauh lebih tua, para pendengar mendengarnya pada saat ini juga. Sebuah kisah benar-benar “terjadi” dalam imajinasi mereka ketika Anda menuturkannya. Kata-kata yang Anda ucapkan membangkitkan gambaran-gambaran dalam benak mereka, sehingga masing-masing pendengar membentuk bayangan mentalnya sendiri.

Keunggulan ketiga dari tradisi lisan adalah kemampuannya membangun komunitas. Ketika seorang guru atau pendeta mulai bercerita, ada kesan seolah-olah dia sedang membagikan sesuatu yang bersifat pribadi, bahkan jika ceritanya disampaikan dalam versi yang sedikit berbeda dari yang pernah kita dengar sebelumnya. Orang-orang Kristen adalah sebuah komunitas yang disatukan oleh kisah dan gambaran yang sama. Kita mungkin tidak selalu sepakat dalam menafsirkan kisah-kisah tersebut, tetapi kita sepakat bahwa kisah-kisah itu memiliki makna yang penting.

Dengan mempraktikkan tradisi lisan, kita setia pada Alkitab dan pada cara Alkitab itu sendiri terbentuk. Ajaran-ajaran Alkitab pada dasarnya dimaksudkan untuk dipelajari melalui pendengaran dan disampaikan secara lisan. Yesus hanya digambarkan menulis dalam satu kisah di satu Injil, dan bahkan dalam kisah itu kita tidak diberi tahu apa yang Dia tuliskan (Yohanes 7:53–8:11). Dalam bagian-bagian Injil lainnya, Yesus justru digambarkan sebagai seorang pencerita. Karena itu, ketika kita menghidupkan kembali tradisi lisan, kita sedang meneladani guru pertama dan terbaik kita, yaitu Yesus.

"Tradisi lisan bukan hanya cara Alkitab terbentuk secara historis, tetapi juga memiliki sejumlah keunggulan penting bagi Anda sebagai seorang pengajar."

Tidak semua orang menyadari dirinya sebagai pewaris tradisi lisan. Saya sendiri beruntung memiliki seorang bibi buyut yang sering menceritakan kisah dan menyanyikan lagu untuk saya. Saya menerima warisan tradisi lisan bahkan sebelum saya belajar membaca atau menonton televisi. Namun, saya baru menyadari nilai dari karunia tersebut ketika saya menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sebelumnya, saya tidak pernah memandang pengalaman belajar itu sebagai bagian dari tradisi lisan. Kini, saya memahami betapa berharganya warisan tersebut.

Cara paling sederhana untuk mulai membangun tradisi lisan di kelas Anda adalah dengan menceritakan kisah dan menyanyikan lagu. Mungkin Anda sudah melakukannya selama ini. Jika demikian, teruskanlah praktik yang baik itu. Namun, jika Anda ingin mengembangkan keterampilan bercerita, ada beberapa saran yang dapat membantu.

Untuk menjadi seorang pencerita, yang Anda perlukan hanyalah tubuh, suara, dan imajinasi. Anda cukup menemukan sebuah kisah dan menyampaikannya. Dalam komunitas Kristen, kita memiliki dua Perjanjian yang sarat dengan kisah-kisah yang indah dan bermakna.

Bahan Dasar Bercerita

1. Di mana cerita berlangsung?

Setiap cerita selalu terjadi di suatu tempat. Latar cerita berfungsi seperti panggung bagi sebuah drama yang Anda bangun dalam imajinasi para pendengar. Anda bisa saja membawa mereka ke sebuah bukit yang menghadap Laut Galilea atau ke Bait Suci di Yerusalem. Bayangkan diri Anda berada di setiap latar tersebut, lalu pikirkan hal-hal apa yang penting bagi para peserta didik Anda. Anak-anak taman kanak-kanak tentu akan tertarik pada aspek yang berbeda dibandingkan dengan siswa kelas enam.

2. Siapa saja tokoh dalam cerita ini?

Setiap adegan dalam “drama” ini diisi oleh para tokoh yang menuntun kita menyusuri cerita. Melalui mereka, kita mengenal diri mereka sendiri maupun tokoh-tokoh lainnya. Para tokoh inilah yang menyoroti hal-hal penting dalam setiap adegan. Dengarkan setiap tokoh dengan saksama. Tokoh mana yang paling Anda rasakan kedekatannya? Tokoh mana yang kemungkinan besar akan menarik perhatian para pendengar Anda? Ketertarikan ini dapat berbeda antara pendengar yang lebih muda dan yang lebih dewasa. Tokoh-tokoh tersebut akhirnya menjadi rekan seperjalanan kita dalam iman.

3. Apa saja unsur yang memberi kesan nyata pada cerita?

Setiap cerita memiliki benda-benda yang menyertainya. Ada cerita yang hanya menampilkan sedikit benda, sementara yang lain begitu kaya akan detail, seperti sebuah toko antik yang penuh dengan barang-barang yang mungkin dikenal -- atau justru asing -- bagi para pendengar. Dalam beberapa kasus, akan sangat membantu jika Anda menyiapkan gambar atau contoh dari benda-benda yang muncul dalam cerita. Tanpa itu, pendengar akan kesulitan membayangkan apa yang sedang Anda gambarkan. Pada masa kini, misalnya, Anda mungkin perlu menunjukkan seperti apa domba yang dipelihara di Timur Tengah, karena tongkat seorang gembala bisa jadi merupakan benda yang tidak lagi akrab. Benda-benda ini memberi bobot kenyataan pada cerita. Dapatkah kita membayangkan kelahiran Yesus tanpa palungan dan kain bedung, atau kematian-Nya tanpa mahkota duri dan salib?

4. Bagaimana cerita bergerak dari awal hingga akhir?

Terakhir, perhatikan bagaimana cerita mengalir dari satu adegan ke adegan berikutnya. Setiap adegan merupakan langkah dalam sebuah perjalanan. Para tokoh menuntun kita sepanjang jalan itu, sementara lingkungan di sekitar mereka memberi perjalanan tersebut nuansa kehidupan. Yang terpenting, Anda perlu memastikan bahwa para pendengar ikut berjalan bersama Anda. Untuk itu, Anda mungkin perlu mengulang frasa tertentu, atau bahkan bagian tertentu dari cerita, agar semua orang tetap mengikuti alurnya.

Setiap kali Anda menceritakan sebuah kisah atau menyanyikan sebuah lagu, Anda berdiri sejajar dengan para penyanyi dan pencerita kuno sebagai pewaris tradisi lisan yang sama -- tradisi yang turut membentuk Alkitab. Kisah-kisah itu, setelah ditanam, akan terus bertumbuh dalam imajinasi dan kehidupan para pendengar.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : MinistryMatters site
Alamat artikel : https://ministrymatters.com/2012-01-10_oral_tradition_how_the_bible_came_to_be/
Judul asli artikel : Oral Tradition: How the Bible Came to Be
Penulis artikel : Michael Williams

Mulai PA Online sekarang!