Yesus adalah ahli bercerita. Dia sering mengajar orang melalui perumpamaan. Bukankah kita juga seharusnya melakukan hal yang sama?
Beberapa bulan lalu, di gereja tempat saya melayani sebagai pendeta sementara, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan serangkaian khotbah tentang Raja Saul. Saya menceritakan kisah-kisah yang sudah familier bagi jemaat, seperti pengurapan Saul oleh Samuel (1 Sam. 9–10) dan kunjungannya kepada perempuan pemanggil arwah di Endor (1 Sam. 28). Walaupun mereka sudah mengenal kisah-kisah itu, setiap minggu antusiasme mereka justru semakin meningkat. Mereka ingin mendengar cerita berikutnya dan menggali pelajaran hidup yang terkandung di dalamnya. Orang-orang memang menyukai cerita, dan kisah-kisah Alkitab memiliki kuasa untuk membawa perubahan rohani bagi siapa pun yang siap menerimanya.
Penggunaan Cerita oleh Yesus
Yesus adalah ahli bercerita. Dia sering mengajar orang melalui perumpamaan -- kisah-kisah yang diambil dari pengalaman sehari-hari untuk menyampaikan kebenaran rohani. Namun, tidak semua orang siap menerima kebenaran tersebut. Ketika murid-murid bertanya kepada Yesus mengapa Dia mengajar melalui perumpamaan, Dia menjawab:
"Kepadamu sudah dikaruniakan untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak dikaruniakan. Sebab, orang yang mempunyai, kepadanya akan diberikan dan ia akan berkelimpahan. Namun, siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang ia punyai akan diambil darinya. Karena itulah, aku berbicara kepada mereka dalam perumpamaan karena ketika melihat, mereka tidak melihat, dan ketika mendengar, mereka tidak mendengar, juga tidak mengerti." (Matius 13:11-13, AYT)
Yesus menggunakan perumpamaan untuk membedakan pendengar-Nya. Mereka yang memiliki kepekaan rohani -- yang sudah memahami sebagian tentang perkara-perkara Allah dan ingin belajar lebih jauh -- akan menerima "rahasia Kerajaan Surga." Namun, mereka yang tidak memiliki pemahaman rohani dan hatinya acuh tak acuh terhadap hal-hal Allah tidak menangkap kebenaran yang Yesus sampaikan melalui perumpamaan.
Hal ini terlihat jelas dalam "Perumpamaan tentang Penabur" (Mat. 13:3–9, 18–23). Benih melambangkan firman Tuhan yang ditaburkan kepada berbagai jenis orang. Hanya mereka yang "mendengar firman itu dan memahaminya" (Mat. 13:23, AYT) yang menghasilkan buah. Mereka yang tidak siap menerima firman Tuhan karena pekerjaan "si jahat," tekanan dan penganiayaan, atau kekhawatiran dunia beserta tipu daya kekayaan (Mat. 13:19, 21–22, AYT), tidak mengalami kuasa yang mengubah hidup.
Firman Tuhan memiliki sifat yang menyingkapkan dan membedah. Firman itu menembus hingga ke inti keberadaan kita, menimbulkan kegelisahan yang menuntut perubahan (Ibr. 4:13). Perubahan itu menyucikan hati dan memberikan kehidupan yang baru (Yoh. 3:1–8; 2 Kor. 5:17). Firman Tuhan juga memisahkan orang. Pada akhir khotbah Yesus tentang "Roti Hidup," banyak murid berkata, "Ajaran ini terlalu keras. Siapa yang sanggup menerimanya?" Akibatnya, "sejak saat itu banyak… mengundurkan diri dan berhenti mengikuti Dia" (Yoh. 6:60, 66, AYT). Yesus bahkan mengatakan bahwa keluarga pun dapat terpecah karena Dia: saudara melawan saudara, ayah melawan anak, dan anak melawan orang tua (Mat. 10:21).
Mengapa Kita Harus Bercerita
Dalam bukunya "Telling the Gospel through Story", Christine Dillon menegaskan bahwa cerita memiliki kemampuan untuk mengubah seseorang. Orang yang semula menolak Injil bisa mulai bersikap lebih terbuka. Mereka yang sebelumnya menganggap Yesus tidak relevan mungkin mulai memikirkan Dia. Orang-orang yang sebelumnya terpisah dapat berkumpul menjadi sebuah komunitas melalui cerita. Kelompok-kelompok kecil bisa terbentuk di sekitar para pencerita, dan dalam beberapa kasus hal ini dapat berkembang menjadi jemaat-jemaat baru. Cerita juga dapat membantu orang membangun cara pandang baru tentang Allah, hidup, dan dunia (Dillon 2012, 23–30). Namun, kita perlu mengingat bahwa tidak semua pendengar akan memberikan respons positif. Sebagian justru bisa menjadi lebih menentang Injil dan menolak pandangan dunia Alkitab.
Persiapan saya untuk pelayanan misi mencakup pelatihan dalam "Chronological Bible Storying". Metode ini sering disebut "Creation to Christ", sebuah pendekatan yang dimulai dari kisah penciptaan dalam Kejadian hingga peristiwa penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus dalam Perjanjian Baru. Tujuannya adalah memberikan gambaran menyeluruh tentang alur besar Alkitab sehingga orang dapat melihat bagaimana setiap bagian saling berkaitan. Kami diajarkan bahwa metode ini terutama digunakan di masyarakat yang tidak bisa membaca sebagai alternatif dari metode studi Alkitab berbasis teks.
Pikiran pertama saya adalah, "Apa kaitannya dengan saya? Saya akan melayani di Jepang, salah satu negara paling melek huruf di dunia!" Namun, pada awal perjalanan pelayanan saya sebagai misionaris, saya mengajar Alkitab di sebuah perguruan tinggi wanita di Jepang bagian barat daya. Sebagian besar mahasiswa adalah penganut Buddha nominal yang belum pernah membuka Alkitab sebelum mengikuti kelas saya. Anggapan awal mereka adalah, "Saya hanya mengambil kelas ini karena wajib untuk kelulusan. Ini tidak ada hubungannya dengan hidup saya." Dalam konteks seperti itu, saya menyadari bahwa penggunaan cerita dapat membantu mereka menangkap gambaran besar pesan Alkitab. Karena itu, selama enam tahun berikutnya saya menerapkan metode Creation to Christ bagi mahasiswa Jepang yang sangat terpelajar.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana cerita bekerja. Banyak mahasiswa yang sebelumnya tidak pernah membaca Alkitab mulai tertarik pada firman Tuhan. Beberapa mulai mengajukan pertanyaan tentang Yesus. Sebagian lainnya menjadi aktif dalam kegiatan kapel dan berbagai bentuk ekspresi iman Kristen. Seorang mahasiswa pernah berkata, "Sebagian besar mata kuliah mengajarkan apa yang kami perlukan untuk mencari nafkah. Namun, di kelas Anda, kami belajar tentang hidup." Namun, saya juga melihat apa yang Yesus ajarkan tentang hati yang tidak siap menerima kebenaran. Ada mahasiswa yang hanya mengerutkan kening, mengambil jumlah absen terbanyak yang diizinkan, dan menyatakan dengan jelas bahwa mereka yakin Yesus dan Alkitab tidak ada hubungannya dengan hidup mereka. Bahkan ada seorang mahasiswa yang berkata bahwa menurutnya cerita-cerita itu hanyalah dongeng yang bodoh.
Siapa yang Membutuhkan Cerita?
Pengalaman saya di Jepang bukanlah sesuatu yang luar biasa atau unik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kekuatan cerita tidak hanya berguna bagi masyarakat yang tidak bisa membaca; cerita juga efektif di tengah masyarakat yang sudah melewati tahap literasi. Banyak orang di dunia sebenarnya memiliki kemampuan membaca, tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Faktanya, sekitar dua pertiga penduduk dunia tergolong sebagai "pembelajar lisan" (Willis 2004, 3–5). Mereka mampu membaca, tetapi lebih mudah menyerap informasi melalui cara-cara non-teks, seperti mendengarkan cerita, melihat gambar, atau menonton film. Avery Willis mencatat:
"Banyak pembelajar lisan bisa membaca, tetapi lebih memilih belajar secara lisan. Jika budaya mereka sejak dahulu bersifat lisan, mereka cenderung tetap memilih metode lisan meskipun mereka berpendidikan tinggi. Ketika sebuah masyarakat dipenuhi pembelajar lisan, cara belajar ini memengaruhi budaya secara keseluruhan dan meresap ke banyak aspek kehidupan, termasuk cara berpikir dan mengambil keputusan." (2004, 6)
Penelitian lain menunjukkan bahwa meskipun hanya sekitar lima persen penduduk Amerika Serikat benar-benar buta huruf, hampir lima puluh persen tidak mampu berfungsi pada tingkat literasi yang tinggi. Temuan serupa muncul di negara-negara maju seperti Australia, Kanada, Jerman, dan Inggris (Willis 2004, 18–19). Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan membaca yang tidak berlanjut setelah orang menyelesaikan pendidikan formal. Banyak lulusan sekolah menengah dan universitas berhenti membaca buku setelah tamat, sehingga dalam beberapa tahun kemampuan membaca mereka menurun hingga setara tingkat kelas enam atau tujuh.
Dalam kursus storytelling yang saya ajarkan, saya sering menggunakan data ini untuk mengingatkan mahasiswa pentingnya menjaga kebiasaan membaca. Saya berkata kepada mereka, "Kalian telah mengeluarkan terlalu banyak biaya untuk pendidikan kalian hanya untuk kembali membaca setingkat kelas tujuh!" Setiap kali saya mengajar, saya mensurvei mahasiswa untuk mengetahui berapa banyak yang lebih nyaman belajar secara lisan dibandingkan secara cetak. Biasanya sekitar lima puluh persen mahasiswa saya lebih memilih metode lisan. Persentase ini tidak mengejutkan karena sejalan dengan rata-rata nasional, dan mencerminkan budaya di mana generasi muda lebih banyak memperoleh informasi dari televisi dan internet yang minim teks, daripada dari buku.
Kita hidup dalam budaya yang semakin meninggalkan analisis sastra abstrak dan diskusi teoretis. Cara tersebut digantikan oleh pengolahan informasi yang lebih konkret dan berurutan, yang sesuai dengan pola belajar lisan. Dalam situasi seperti ini, narasi perlu dipadukan dengan unsur visual seperti seni, drama, dan tindakan simbolis agar orang dapat mengalami kebenaran melalui rangkaian peristiwa. Baik dalam Kitab Suci maupun dalam sejarah gereja, tersedia banyak bentuk ekspresi yang memperlihatkan Injil melalui tindakan dan simbol -- mulai dari baptisan dan perjamuan kudus hingga seni visual dan drama.
Sayangnya, representasi visual tentang Injil terkadang justru membuka peluang terjadinya penyembahan berhala. Karena itu, kalangan evangelis yang bersikap ikonoklastis cenderung menolak penggunaan unsur visual tersebut. Sebagai respons, kita perlu mendorong pengembangan seni, drama, dan ritual yang digunakan dengan cara yang tepat untuk menyampaikan kebenaran rohani. Kita juga perlu mempertimbangkan penggunaan "cerita yang sederhana dan mudah dipahami" (perumpamaan), serta berbagai bentuk diagram, gambar, dan artefak lain (Hesselgrave 1978, 228–233).
Jenis-Jenis Cerita
Pelatihan awal saya dalam bercerita menekankan penggunaan metode kronologis, sehingga saya sempat beranggapan bahwa inilah satu-satunya alat yang dimiliki seorang pencerita. Selama bertahun-tahun di Jepang bagian selatan, metode itulah yang saya gunakan. Namun, ketika saya pindah ke Tokyo, saya mengalami kesulitan mengumpulkan sekelompok orang yang bersedia mendengarkan rangkaian cerita Alkitab secara kronologis.
Di sisi lain, saya mulai menjalin hubungan dengan orang-orang baru yang ingin bertumbuh secara rohani, tetapi juga bergumul dengan pertanyaan besar tentang bagaimana menjalani kehidupan Kristen di tengah masyarakat yang paling baik bersikap apatis, dan kadang bersikap menentang Injil. Saat kami bertemu untuk minum kopi dan membahas persoalan mereka, saya menyadari bahwa cerita-cerita Alkitab dapat saya gunakan untuk mengajarkan prinsip-prinsip yang relevan bagi pergumulan mereka.
Orang-orang memang menyukai cerita, dan kisah-kisah Alkitab memiliki kuasa untuk membawa perubahan rohani bagi siapa pun yang siap menerimanya.
Sebagai contoh, banyak kisah dalam Perjanjian Lama menekankan pentingnya ketaatan kepada pimpinan Allah dalam hidup kita. Dua cerita yang sangat kuat adalah panggilan Musa (Kel. 3–4) dan panggilan Yesaya (Yes. 6). Kisah perempuan pemanggil arwah di Endor (1 Sam. 28) menyinggung praktik-praktik leluhur, sedangkan kisah perempuan yang tertangkap berzina (Yoh. 8) dapat membantu menjelaskan bagaimana Yesus ingin mengampuni dosa kita. Melalui pengalaman-pengalaman ini, saya menyadari bahwa terdapat jauh lebih banyak kemungkinan dalam bercerita selain metode kronologis.
Dalam kursus bercerita yang saya ajarkan, saya membimbing para siswa untuk menggunakan empat jenis cerita dalam pemberitaan Injil dan pembinaan rohani.
Bercerita Alkitab secara kronologis. Pendekatan ini dikenal sebagai metode "Creation to Christ", yang saya pelajari bertahun-tahun lalu. Tujuannya adalah membantu pendengar memahami bagaimana keseluruhan Alkitab saling terhubung, serta melihat hubungan antara doktrin-doktrin penting -- seperti penciptaan dan penebusan, atau dosa dan keselamatan. Kuncinya adalah menempatkan peristiwa Kristus sebagai puncak dan penggenapan dari seluruh narasi Alkitab. Karena itu, kisah-kisah dalam Perjanjian Lama perlu diceritakan dalam pola janji dan penggenapan, sebab semua persoalan besar dalam Perjanjian Lama menemukan jawabannya di dalam Yesus Kristus.
Cerita Alkitab secara dialogis. Ini adalah pendekatan percakapan dalam bercerita yang saya temukan sangat efektif selama melayani di Tokyo. Pengalaman saya juga sejalan dengan tulisan sejumlah pencerita berpengalaman. Daniel Sheard mencatat bahwa orang yang jarang membaca biasanya belajar melalui "pertukaran verbal" yang berlangsung dalam percakapan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, "cerita pendek dengan alur sederhana" dapat menjadi sarana yang "dipakai Tuhan untuk menarik orang kepada-Nya" (Sheard 2007, 12, 18–19).
Christine Dillon menyebut pendekatan tersebut sebagai "bercerita dalam kesempatan sekali saja." Pengalamannya menunjukkan bahwa kesempatan semacam ini dapat berlangsung hanya tiga puluh menit atau bahkan hingga tiga jam, dan dalam rentang waktu itu seseorang bisa saja hanya menceritakan satu kisah Alkitab atau beberapa cerita sekaligus. Kuncinya adalah peka terhadap kesempatan yang Tuhan berikan, lalu memanfaatkan waktu yang tersedia sebaik mungkin (Dillon 2012, 173–175).
Eugene Peterson mengingatkan bahwa Yesus adalah ahli bercerita dalam percakapan sehari-hari, dan Dia menggunakan cerita dengan cara yang sesuai bagi setiap pribadi dan situasi mereka (2008, 18). Peterson menuliskan bahwa kita pun dapat dipakai sebagai alat Allah untuk menyampaikan kebenaran rohani, bahkan ketika kita tidak sepenuhnya menyadarinya.
"Roh Kudus hadir dalam percakapan spontan dan santai kita sama seperti dalam khotbah formal dan pengajaran yang terencana… Melalui bahasa kita, Roh Kudus menyampaikan kata-kata damai, kasih, anugerah, dan belas kasihan Yesus, bahkan ketika kita tidak menyadarinya -- setidaknya tidak pada saat itu terjadi." (Peterson 2008, 22, 24)
Banyak kali ketika saya berada di Jepang, saya datang ke pertemuan pembinaan murid dengan agenda yang sudah saya persiapkan dengan cermat. Namun, tidak lama setelah percakapan dimulai, saya sering kali harus meninggalkan agenda tersebut karena masalah yang sedang dihadapi orang lain ternyata berbeda jauh dari apa yang sudah saya rencanakan. Daripada memaksa dia mengikuti materi yang sudah saya siapkan, saya justru mendapati diri saya berkata, "Bolehkah saya menceritakan sebuah kisah yang mungkin berkaitan dengan apa yang sedang Anda alami?" Jawabannya hampir selalu, "Ya, silakan. Apa pun yang bisa Anda lakukan untuk membantu saya sangat saya hargai." Setelah itu, saya akan menceritakan sebuah kisah Alkitab yang relevan dengan krisis yang sedang dia hadapi, lalu kami membahas bagaimana kisah tersebut dapat diterapkan dalam situasi yang sedang berlangsung.
Pendekatan ini masih saya gunakan hingga sekarang, terutama ketika mahasiswa datang ke kantor saya untuk mencari nasihat tentang masalah yang mereka hadapi. Saya melihat bahwa cerita-cerita Alkitab adalah harta yang sangat berharga -- sumber kebijaksanaan Allah -- bagi generasi Milenial yang hidup di era pasca-literasi dan pasca-modern. Mereka tidak ingin diperlakukan seolah sedang didoktrin, tetapi mereka menyukai cerita yang baik, terutama ketika mereka dapat memahami bagaimana cerita itu berkaitan dengan kehidupan mereka.
Perumpamaan kontemporer. Yesus menggunakan perumpamaan, dan sudah sewajarnya jika kita mengikuti teladan-Nya dengan melakukan hal yang sama. Namun, saya menemukan bahwa banyak kursus tentang penceritaan Alkitab justru jarang membahas model yang paling mendasar ini. Saya mengusulkan dua pendekatan dalam menggunakan perumpamaan.
1. Sesuaikan perumpamaan Alkitab dengan audiens Anda. Jika audiens Anda adalah penduduk kota di Midwest Amerika pada masa kini, "Perumpamaan Anak Domba yang Hilang" (Luk. 15:1–7) dapat disajikan ulang sebagai kisah seorang anak yang tersesat dari rombongan kelas saat piknik, lalu gurunya meninggalkan siswa lainnya untuk mencarinya. Kisah itu bisa diberi judul "Perumpamaan Anak yang Hilang." Di tengah masyarakat Maasai di Afrika Timur yang menggembalakan ternak, "Gembala yang Baik" dapat menjadi "Gembala Ternak yang Baik." Sementara di lingkungan petani padi di pedesaan Asia Timur, "Perumpamaan tentang Penabur" (Mat. 13:1–9) dapat disajikan sebagai "Perumpamaan tentang Petani Padi."
Tentu saja, pendekatan ini memiliki potensi masalah. Makna dan bobot teologis dari kisah asli bisa hilang jika perumpamaan disesuaikan secara berlebihan. Untuk mencegah hal ini, saya mengajarkan kepada para siswa untuk mempelajari perumpamaan dalam konteks aslinya, agar mereka memahami unsur-unsur esensial cerita -- bagian-bagian yang tidak boleh diubah tanpa menghilangkan inti pesannya. Saya juga mendorong mereka untuk menemukan kebenaran teologis utama dalam perumpamaan tersebut, lalu mengadaptasinya ke dalam konteks modern dengan tetap menjaga pesan teologis yang sama.
2. Mengembangkan perumpamaan kontemporer. Pendekatan ini mengikuti teladan Yesus, yang menggunakan objek dan situasi kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan kebenaran rohani. Meskipun proses ini tidak mudah, kita perlu ingat bahwa perumpamaan yang baik bukan sekadar cerita yang menarik; tujuan utamanya adalah membangkitkan respons dari pendengar (Fee & Stuart 1982, 126), mendorong mereka untuk mengalami perubahan hati atau tindakan -- untuk mulai mengikuti Kristus atau bertumbuh dalam pengikutannya.
Saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa saya adalah seorang sesama pelancong, bukan guru yang telah tiba di tujuan akhir, dalam hal penggunaan perumpamaan. Selama sekitar lima tahun terakhir saya mempelajari bagaimana menyusun perumpamaan dalam konteks masa kini. Walaupun saya masih berada pada tahap awal, saya belajar bahwa perumpamaan memiliki kekuatan besar untuk menarik perhatian pendengar dan membantu mereka memahami kebenaran yang mungkin tidak mereka sadari sebelumnya.
Kesaksian pribadi. Menceritakan pengalaman pribadi tentang karya Allah dalam hidup kita hampir menjadi seni yang hilang. Banyak orang enggan membuka diri dan bercerita tentang pengalaman mereka secara jujur. Namun, kesaksian pribadi memberikan bukti yang tidak dapat disangkal tentang kasih Allah dan kuasa-Nya untuk mengubah hidup. Karena itu, saya mendorong para siswa untuk berbagi bukan hanya kisah tentang bagaimana mereka pertama kali percaya kepada Yesus Kristus, tetapi juga bagaimana Dia bekerja dalam hidup mereka pada masa sekarang.
Jika satu-satunya kisah yang kita bagikan adalah tentang apa yang Tuhan lakukan lima atau sepuluh tahun lalu, hal itu dapat menimbulkan kesan bahwa Tuhan jauh dan tidak terlibat dalam hidup kita. Namun, ketika kita menceritakan apa yang Tuhan sedang lakukan hari ini, kita menunjukkan bahwa Dia hidup, dekat, dan peduli. Kesaksian semacam ini menjadi jembatan yang efektif menuju kisah-kisah Alkitab, yang memperlihatkan kuasa dan anugerah Tuhan bagi dunia yang sangat membutuhkan kasih-Nya yang mengubahkan.
Referensi:
- Dillon, Christine. 2012. Telling the Gospel through Story. Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press.
- Fee, Gordon D., dan Douglas Stuart. 1982. How to Read the Bible for All It’s Worth. Grand Rapids, Mich.: Academie Books.
- Hesselgrave, David. 1978. Communicating Christ Cross-Culturally. Grand Rapids, Mich.: Zondervan.
- Peterson, Eugene H. 2008. Tell It Slant. Grand Rapids, Mich.: Wm. B. Eerdmans Publishing Co.
- Sheard, Daniel. 2007. An Orality Primer for Missionaries. Tanpa tempat penerbitan.
- Willis, Avery. 2004. Making Disciples of Oral Learners. Lima, N.Y.: International Orality Network / Lausanne Committee for World Evangelization.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Missio Nexus |
| Alamat artikel | : | https://missionexus.org/the-power-of-biblical-storytelling/ |
| Judul asli artikel | : | The Power of Biblical Storytelling |
| Penulis artikel | : | Kelly Malone |
- Log in to post comments