"Hai, sayang, bagaimana harimu?"
"Baik," jawab putra remaja Anda sambil melemparkan ranselnya ke lantai mobil.
"Apa yang kamu pelajari hari ini?"
"Tidak ada," katanya sambil mengeluarkan headphone-nya.
"Bagaimana hasil ujianmu?"
"Baik," ujarnya sambil mengusap layar ponselnya.
"Ada hal menarik yang terjadi hari ini?" Namun, kini dia tidak lagi mendengar Anda dan tidak menanggapi. Anda mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang salah, apakah dia sedang menyembunyikan sesuatu, atau apakah hubungan Anda dengannya perlahan mulai menjauh.
Anda ingin mendengar cerita tentang bagaimana harinya berjalan.
Atau Anda mengalami sesuatu yang begitu luar biasa pada perjalanan pagi Anda: seekor marmut menyeberang jalan sambil membawa sepotong pizza di mulutnya, kemudian di sisi lain ia bertemu dua burung gagak. Mereka langsung terlibat dalam pertarungan yang epik sekaligus lucu, sampai akhirnya kedua burung gagak itu terbang menjauh dan marmut itu menikmati pizzanya dengan kemenangan. Peristiwa itu begitu mengesankan sehingga Anda tak sabar ingin menceritakannya kepada teman-teman Anda di sekitar dispenser kantor!
Atau Anda sedang membaca buku sejarah sambil meninjau catatan, berusaha mengingat tanggal, fakta, nama, dan tempat untuk ujian hari Jumat. Rasanya semua itu sulit menempel di ingatan, sampai Anda menemukan versi dramatisasi dari beberapa materi tersebut di YouTube. Tentu tidak seluruhnya akurat, tetapi cara itu sangat membantu Anda mengingat peristiwa-peristiwa penting. Anda pun mengikuti ujian dan meraih nilai terbaik di kelas.
Atau Anda sedang berjuang menghadapi kematian ayah Anda. Anda merasa sangat sendirian, dan tampaknya tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami kedalaman kesedihan Anda. Ketika Anda menceritakannya kepada seorang teman, dia berbagi bahwa dia pernah melalui pengalaman serupa sekitar setahun sebelumnya. Seketika Anda merasa dipahami dan terhubung, dan Anda memperoleh wawasan yang membantu Anda melewati masa yang berat itu.
Bercerita bukan sekadar menyampaikan kisah hantu di sekitar api unggun, membaca novel sebelum tidur, atau menonton film keluarga pada hari Sabtu.
Meskipun pengalaman-pengalaman ini merupakan bentuk bercerita yang menyenangkan, semuanya masih jauh dari luasnya peran cerita dalam hidup kita. Kita terus terlibat dalam proses bercerita, dan hal itu merupakan bagian penting dari keberadaan manusia. Cerita menghubungkan kita satu sama lain, membangkitkan kenangan, membuka jalur belajar di dalam otak, serta membantu kita memahami masa lalu dan bersiap menghadapi masa depan.
Sejauh yang kita ketahui, hewan tidak memiliki kemampuan bahasa untuk bercerita; kebanyakan hanya menyampaikan informasi tentang apa yang terjadi saat itu juga. Namun, sebagai manusia, kita mulai memahami dan mengikuti cerita bahkan sejak bayi, lalu mulai menciptakan cerita dari imajinasi kita ketika berusia sekitar dua tahun. Hari ini, putri saya yang berusia dua setengah tahun memberi tahu saya bahwa Donald Duck datang ke rumah kami untuk membantunya mengadakan pesta ulang tahun bagi boneka beruang bayinya, dan karena itulah kucing kami memakai kalung -- yang, menurutnya, memang diminta oleh kucing itu untuk pesta tersebut. "Tahukah kamu itu, Mama?" Tidak, anakku, tetapi syukurlah kamu menceritakannya!
Saya sangat meyakini bahwa Tuhan merancang seni bercerita sebagai sarana bagi kita untuk mengenal-Nya."
Sejak awal, Dia menyampaikan kisah-kisah secara langsung kepada para nabi, yang kemudian membagikannya kepada banyak orang. Setelah itu, kisah-kisah tersebut tidak hanya diwariskan melalui tutur lisan, tetapi juga ditulis dan dipelajari dengan tekun oleh para penulis dan para pelajar. Lalu, datanglah Sang Pencerita Agung. Setelah itu, para pengikut-Nya pergi ke seluruh dunia, menuturkan apa yang Dia ajarkan, dan kini kita memiliki kisah-kisah tersebut yang tertulis dalam firman Tuhan, sambil tetap membagikan cerita hidup kita kepada orang lain.
Bercerita merupakan bagian dari asal mula iman kita, sesuai dengan kata-kata terkenal dari Paulus dalam Surat Roma:
"... iman datang dari pendengaran, dan pendengaran melalui Firman Kristus." (Roma 10:17, AYT)
Kita mendengar melalui orang-orang yang kita kenal dan percayai -- mereka yang membagikan cerita kepada kita: kisah pribadi tentang pergumulan dan penebusan, kisah yang kita dengar melalui khotbah dan pengajaran, atau kisah yang datang langsung dari firman Tuhan. Cerita-cerita inilah yang, tanpa ragu, menuntun Anda -- ya, Anda -- kepada iman Anda.
Yesus sangat memahami kekuatan sebuah cerita.
Bukan kebetulan bahwa sebagian besar pengajaran-Nya disampaikan melalui perumpamaan. Kini kita mengetahui bahwa, secara kognitif, bercerita jauh lebih efektif untuk mengajar dibandingkan sekadar memberikan ceramah atau menyampaikan informasi secara langsung.
Bercerita bukan sekadar menyampaikan kisah hantu di sekitar api unggun, membaca novel sebelum tidur, atau menonton film keluarga pada hari Sabtu.
Coba ingat kembali pengalaman Anda sendiri. Mungkin Anda pernah memiliki guru atau dosen yang kering, membosankan, dan sangat informatif. Dari kelas seperti itu, seberapa banyak yang Anda ingat? Mungkin tidak banyak, selain betapa sulitnya menahan kantuk setiap hari. Namun, Anda mungkin juga pernah memiliki guru yang hidup, hangat, dan pribadi, yang sering menggunakan contoh nyata atau ilustrasi hipotetis -- singkatnya, cerita -- untuk menjelaskan materi mereka. Kelas-kelas seperti itulah yang Anda ingat. Ini karena cerita menciptakan lebih banyak koneksi saraf, sehingga informasi lebih mudah tertanam dalam ingatan.
Cerita, contoh, dan anekdot mengaktifkan berbagai pusat dalam otak: memori dan pengalaman, imajinasi, prediksi, emosi, dan tentu saja, pemrosesan bahasa. Semakin banyak indra yang digambarkan dalam sebuah cerita, semakin banyak pusat sensorik yang ikut terlibat. Selain itu, metafora adalah salah satu fungsi paling kompleks dalam otak manusia -- dan sangat penting dalam bercerita -- sehingga otak kita dengan senang hati menyerap informasi yang disampaikan melalui cerita.
Yesus menggunakan beragam strategi bercerita yang membuat perumpamaan-perumpamaan-Nya semakin mengena, dan Allah melakukan hal serupa di seluruh firman Tuhan, bahkan memanfaatkan keterampilan para penulis untuk menegaskan pesan-Nya.
Tokoh yang mudah kita pahami, detail sensorik yang kuat, gambaran yang hidup, latar yang relevan, dialog yang ringkas, konflik yang berkesan, penyelesaian yang mengagumkan, tema yang mendalam -- serta perangkat bahasa seperti permainan kata, alusi, dan pilihan kata yang penuh energi -- semuanya tersebar di sepanjang firman Tuhan dalam kisah-kisah yang Dia ingin kita ketahui.
Sebagai murid, memahami seni bercerita memberi kita apresiasi yang lebih dalam terhadap firman Tuhan dan kisah-kisah di dalamnya. Dan sebagai pembuat murid, kemampuan untuk bercerita dengan lebih baik memungkinkan kita menggunakan keterampilan yang Allah berikan untuk menjalankan perintah terakhir Yesus.
Dalam seri ini, kita akan mempelajari beberapa komponen utama dalam menyusun cerita yang kuat dari sudut pandang seorang pengikut Allah. Kita akan melihat contoh-contoh dari firman Tuhan dan menelusuri bagaimana unsur-unsur ini dapat membentuk narasi yang berdaya guna ketika kita membagikannya kepada orang lain hari ini.
Sebagai pembuat murid, kemampuan untuk bercerita dengan baik menolong kita memaksimalkan keterampilan yang Allah anugerahkan untuk memenuhi perintah terakhir Yesus.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Renew |
| Alamat artikel | : | https://renew.org/why-storytelling-is-important-to-the-life-of-a-christian/ |
| Judul asli artikel | : | Why Storytelling is Important to the Life of a Christian |
| Penulis artikel | : | Taffeta Chime |
- Log in to post comments