Siapa yang Pertama Kali Menceritakan Kisah-kisah Alkitab dan Mengapa Hal Itu Penting

Tradisi lisan, dalam konteks perkembangan Alkitab, merujuk pada berbagai kegiatan awal seperti bercerita, mengajar, mewartakan, bernyanyi, dan aktivitas sejenis yang menyampaikan sejarah, kisah, lagu, serta doa-doa. Semua itu kemudian membentuk bagian dari Alkitab tertulis. Tradisi lisan penting bagi pemahaman yang egaliter tentang Alkitab -- baik asal-usulnya, perkembangannya, sifatnya, maupun relevansinya -- karena perempuan memainkan peran kunci dalam tahap lisan perkembangan Alkitab.

Dua contoh spesifik berikut akan membantu memperjelas peran tradisi lisan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Salah satu contoh yang paling jelas terdapat dalam Kitab-kitab Injil. Semua Kitab Injil ditulis puluhan tahun setelah peristiwa-peristiwa yang diceritakan di dalamnya. Selama rentang waktu tersebut, kisah-kisah yang kini kita kenal dari Kitab-kitab Injil belum dibukukan, tetapi disampaikan secara lisan. Kisah-kisah itu diceritakan oleh para pengkhotbah dan guru, oleh ibu dan ayah kepada keluarga mereka, oleh para rasul sendiri, serta oleh banyak orang lain yang namanya kini hilang dalam catatan sejarah.

Inserted image

Kitab Amsal juga memberikan bukti kuat tentang keberadaan tradisi lisan. Perhatikan Amsal 25:1: "Ini pun amsal-amsal Salomo yang disalin oleh orang-orang Hizkia, raja Yehuda" (AYT). Salomo memerintah hampir 300 tahun sebelum Hizkia, sementara Kitab Amsal baru disusun dan tersedia jauh setelah masa pemerintahan Hizkia berakhir. Selama berabad-abad itu, penyampaian dan pengulangan peribahasa-peribahasa tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang melatarbelakangi Kitab Amsal.

Setelah melewati tahap perkembangan lisan, muncul anggapan umum bahwa Alkitab ditulis oleh pria. Namun, anggapan ini mungkin tidak sepenuhnya benar. Sebagai contoh, Surat Ibrani kemungkinan ditulis oleh Priskila. Jurnal akademik CBE, Priscilla Papers, telah membahas pertanyaan ini berulang kali selama bertahun-tahun. Namun, sekalipun semua kitab Alkitab ditulis oleh pria, banyak bagian Alkitab secara jelas mencatat perkataan perempuan. Contoh yang cukup panjang antara lain Pujian Maria dalam Lukas 1:46–55 serta nasihat ibu Lemuel dalam Amsal 31.

Namun, kita tetap perlu mempertimbangkan apakah klaim yang sering didengar bahwa pria menulis Alkitab setidaknya mendekati kebenaran. Namun, dalam proses mempertimbangkannya, kita tidak boleh melupakan tradisi lisan. Penting untuk dipahami bahwa perempuan memang berkontribusi nyata dalam perkembangan Alkitab. Akan terasa konyol, bahkan menggelikan, jika kita menganggap bahwa perempuan berdiam diri selama puluhan tahun dan berabad-abad antara saat peristiwa-peristiwa itu terjadi dan saat semuanya akhirnya dicatat secara tertulis.

Sebagai contoh, bagaimana petunjuk-petunjuk dalam Amsal 31 dapat diingat selama bertahun-tahun sejak pertama kali diucapkan oleh seorang ibu hingga akhirnya dituliskan oleh seorang penulis? Tentu kita tidak boleh beranggapan bahwa hanya pria yang menjaga ajaran tersebut tetap hidup. Demikian pula dengan nyanyian yang dinyanyikan oleh para pemimpin seperti Musa dan Miriam (Keluaran 15), serta Debora dan Barak (Hakim-hakim 5) -- apakah masuk akal jika teks-teks ini hanya ditransmisikan oleh pria sambil menunggu untuk dibukukan? Atau adakah orang yang berpikir masuk akal yang akan berpendapat bahwa meskipun saksi manusia pertama pada pagi Paskah adalah perempuan, hanya pria yang melestarikan kisah-kisah tersebut sampai para penulis Kitab Injil menuliskannya? Tentu saja tidak. Perempuan sama aktifnya dengan pria dalam melestarikan Alkitab sepanjang berbagai tahap perkembangannya. Orang Kristen dari segala usia setidaknya perlu menyadari keberadaan perempuan-perempuan penting ini dan bersyukur atas peran mereka.

Perempuan sama aktifnya dengan pria dalam melestarikan Alkitab sepanjang berbagai tahap perkembangannya.

Apakah kita dapat menemukan lebih banyak bagian lain yang secara jelas menunjukkan bahwa tradisi lisan tertanam dalam teks tertulis Alkitab? Dan apakah kita dapat melihat jejak kontribusi perempuan dalam teks-teks Alkitab yang kemungkinan besar ditulis oleh pria? Pertanyaan sebaliknya justru mudah dijawab. Kita pasti tidak akan melihat kontribusi perempuan jika kita tidak mencarinya. Untuk menutup pembahasan ini, mari kita perhatikan satu contoh kontribusi seorang perempuan yang sangat jelas, karena dalam kasus ini Alkitab secara terbuka mengakui tradisi lisannya sendiri.

Contoh tersebut terdapat dalam Amsal 31, yang telah disebutkan sebelumnya. Ayat pembukanya berbunyi, "Perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan oleh ibunya kepadanya" (AYT). Perlu diperhatikan bahwa ayat ini bukanlah sebuah amsal. Ayat ini merupakan komentar dari penyusun kumpulan amsal tersebut. Penyusun ini menyadari adanya sejarah lisan di balik materi yang disusunnya dan mengetahui dengan jelas asal-usulnya. Dia sebenarnya dapat saja tidak menambahkan penjelasan apa pun, atau cukup menulis, "Kata-kata Raja Lemuel," tanpa menyebutkan sumber ajaran tersebut. Namun, kita justru mendapatkan pernyataan lengkapnya, yang memberikan gambaran segar tentang asal-usul Amsal 31.

Meskipun peran seorang perempuan dalam tradisi lisan di balik Alkitab tampak sangat jelas dalam Amsal 31:1, sebagian besar contoh lainnya tidak disampaikan sejelas itu. Namun, saya yakin bahwa ketika kita melihatnya satu kali, hal itu dapat membuka mata kita untuk melihatnya lagi dan lagi di bagian-bagian lain.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : CBE
Alamat artikel : https://www.cbeinternational.org/resource/who-first-told-bibles-stories-and-why-it-matters/
Judul asli artikel : Who First Told the Bible’s Stories and Why It Matters
Penulis artikel : Jeff Miller

Mulai PA Online sekarang!