1. Dia adalah nabi pertama dan terbesar di antara empat Nabi Besar: Menempati urutan pertama di antara Yeremia, Yehezkiel, dan Daniel, tulisan-tulisan Yesaya membentuk kitab kenabian terpenting dalam Perjanjian Lama. Wawasan teologisnya sangat luas dan telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan teologi Yahudi dan Kristen sesudahnya.
2. Kitabnya dikenal sebagai "Injil Kelima": Meskipun gelar ini sering disematkan pada Tanah Suci, Bapa-Bapa Gereja juga menggunakannya untuk menggambarkan kitab Yesaya! Dibandingkan nabi-nabi lain, Yesaya berkali-kali menunjuk kepada Kristus yang akan datang. Karena itu, tidak mengherankan jika, setelah Mazmur, kitab Yesaya menjadi kitab yang paling banyak dikutip dalam Perjanjian Baru.
3. Tulisan-tulisannya dapat dibagi menjadi dua atau tiga bagian: Kepengarangan dan penyusunan kitab Yesaya menjadi pokok perdebatan besar di kalangan para ahli. Sebagian ahli memandang kitab ini sebagai karya yang tersusun atas tiga bagian sastra. Namun, pembagian dasar menjadi dua bagian cukup membantu kita menangkap inti kitab ini:
(1) Yesaya 1-39 terutama ditujukan kepada Yerusalem dan kerajaan Yehuda di selatan, dengan pesan penghakiman pada tahun 700-an SM, ketika Kekaisaran Asyur mengancam kelangsungan kerajaan tersebut.
(2) Yesaya 40-66 ditujukan kepada kelompok pembaca yang serupa, tetapi pesan utamanya adalah penghiburan dan latarnya adalah masa Pembuangan Babel pada tahun 500-an SM.
4. Pelayanan kenabiannya dimulai ketika malaikat menyentuh bibirnya dengan bara api: Meskipun terdapat dalam pasal 6, penglihatan tentang Yesaya yang menyaksikan kemuliaan Allah dan berjumpa dengan seorang serafim bersayap enam menggambarkan awal pelayanan kenabiannya. Serafim itu mengambil bara dari mazbah surgawi dan menyentuhkannya pada bibir sang nabi. Tindakan tersebut menyucikan bibir Yesaya sebelum dia menyampaikan pesan Allah.
Yesaya 6 juga mengisahkan para malaikat dalam sidang surgawi yang menyerukan kekudusan Tuhan melalui nyanyian pujian yang terus-menerus. Seruan mereka menjadi sumber Sanctus, atau "Kudus, Kudus, Kudus", yang hingga kini menjadi bagian dari Misa Katolik.
5. Dia bernubuat selama lebih dari lima puluh tahun: Meskipun sosok Yesaya masih diselimuti misteri, para ahli menduga bahwa dia dilahirkan dalam keluarga bangsawan di Yerusalem. Kita juga mengetahui bahwa pelayanan kenabiannya berlangsung sepanjang pemerintahan beberapa raja (lihat Yesaya 1:1), dari masa Raja Uzia (sekitar 783-742 SM) hingga setidaknya masa Raja Hizkia (sekitar 715-687 SM).
Tradisi Yahudi kuno bahkan menyatakan bahwa Yesaya masih hidup pada masa pemerintahan Manasye, putra Hizkia. Itu berarti Yesaya kemungkinan telah bernubuat selama lebih dari lima puluh tahun!
6. Sion merupakan tema utama dalam tulisan-tulisannya: Nubuat Yesaya ditujukan kepada Yehuda, terutama ibu kotanya, Yerusalem. Di sepanjang kitab ini, Yerusalem disebut "Sion", sebutan yang berkaitan erat dengan kerajaan Daud.
Meskipun mula-mula merujuk pada sebuah kota tertentu, Sion kemudian menjadi lambang Israel dalam arti yang lebih luas. Karena itu, seruan Yesaya kepada Yerusalem juga menjadi ajakan -- sekaligus peringatan -- bagi seluruh umat Allah.
7. Dia menubuatkan kedatangan Imanuel: Yesaya 7 memuat salah satu nubuat yang mungkin paling terkenal dalam seluruh Kitab Suci: "Seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, nama-Nya akan disebut: Imanuel" (Yesaya 7:14, AYT).
Seperti banyak nubuat dalam tulisan Yesaya, nubuat ini berakar pada peristiwa sejarah yang dekat dengan zaman sang nabi, tetapi sekaligus menunjuk kepada kenyataan adikodrati pada masa depan.
Dalam konteks ini, Raja Ahas yang sinis sedang menghadapi ancaman dari musuh-musuh bangsa lain, tetapi dia tidak mau meminta tanda yang meneguhkan dari Tuhan. Karena itu, Yesaya menyampaikan sebuah tanda sebagai gantinya.
Yesaya 7 hanyalah salah satu dari beberapa pasal yang menyinggung kelahiran Kristus yang akan datang (lihat Yesaya 7-12). Karena itu, Gereja banyak menggunakan tulisan sang nabi selama masa Adven.
8. Dia memberi kita "Nyanyian Hamba" yang terkenal: Yesaya 40-55 memuat sejumlah nubuat penghiburan tentang sosok misterius yang disebut sebagai hamba Allah. Para ahli Perjanjian Lama, John Bergsma dan Brant Pitre, mengidentifikasi tujuh "Nyanyian" tersebut: Yesaya 41:8-16; Yesaya 42:1-9; Yesaya 44:1-5; Yesaya 44:21-28; Yesaya 49:1-13; Yesaya 50:4-11; dan 52:13-53:12.
Dalam banyak hal, Hamba itu menunjuk kepada Kristus, Dia yang "ditikam karena pelanggaran-pelanggaran kita ... diremukkan karena kejahatan-kejahatan kita" (Yesaya 53:5, AYT). Dalam hal lain, Hamba itu tampaknya melambangkan Israel secara keseluruhan.
9. Menurut tradisi Yahudi, dia mati sebagai martir: Sejak zaman kuno, tradisi Yahudi menyatakan bahwa pada masa tuanya Yesaya dihukum mati oleh Raja Manasye yang jahat, putra Raja Hizkia. Bagaimana dia dibunuh? Dengan digergaji menjadi dua!
Meskipun mula-mula merujuk pada sebuah kota tertentu, Sion kemudian menjadi lambang Israel dalam arti yang lebih luas.
Menariknya, Surat Ibrani tampaknya menyinggung tradisi ini ketika menyebut para pahlawan iman Perjanjian Lama:
Namun yang lain, ada pula yang dihina dan dicambuk, bahkan dibelenggu dan dipenjara. Mereka dirajam, digergaji menjadi dua, dicobai, dan dibunuh dengan pedang. Ada pula yang mengembara dengan berpakaian kulit domba atau kulit kambing: mereka sangat miskin, ditindas, dan diperlakukan semena-mena. Dunia ini tidaklah bagi mereka, mereka mengembara di padang gurun dan gunung-gunung, tinggal di celah-celah gunung dan gua-gua di bawah tanah. (Ibrani 11:36-38, AYT)
10. Tulisan-tulisannya menunjuk kepada ciptaan baru: Kitab Yesaya sarat dengan tema eskatologis dan berulang kali memberikan gambaran awal tentang penyempurnaan ciptaan serta kerajaan damai yang akan datang (lihat Yesaya 9:7).
Kalimat terkenal dalam kitab Wahyu tentang Allah yang menghapus setiap air mata, misalnya, berakar pada nubuat Yesaya: "Dia akan menelan kematian untuk selamanya. Dan, TUHAN Allah akan menghapuskan air mata dari setiap wajah" (Yesaya 25:8, AYT).
Kita juga perlu mengingat bahwa, dalam teologi Yesaya, tema pembaruan selalu berkaitan dengan ibadah liturgis. Karena itu, Bukit Bait Allah di Yerusalem -- Sion -- kerap menjadi pusat perhatian (misalnya, Yesaya 66:18-23). (t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | St. Paul Center |
| Alamat artikel | : | https://stpaulcenter.com/posts/what-are-10-things-i-should-know-about-isaiah |
| Judul asli artikel | : | What are 10 Things I Should Know About Isaiah? |
| Penulis artikel | : | Clement Harrold |