Karakter Ilahi yang Terbentuk dalam Diri Orang yang Hidup oleh Roh
Rasul Paulus menggambarkan "buah Roh" sebagai "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri" (Galatia 5:22-23). Sifat-sifat ini mencerminkan karakter Allah dan perilaku orang-orang yang hidup menurut Roh Allah.
Ketika kita hidup dalam persekutuan dengan Allah, kita seperti cabang-cabang baru yang dicangkokkan pada pokok anggur yang hidup dan mulai menghasilkan buah dari pokok tersebut (lihat Yohanes 15:1-11). Jika Allah penuh kasih, sabar, dan senantiasa memancarkan damai sejahtera, kita pun akan menghasilkan buah rohani yang sama ketika hidup dalam persekutuan dengan-Nya, seperti kasih, kesabaran, dan damai sejahtera.
Kita dapat memahami sifat dan tujuan buah-buah rohani ini dengan lebih baik jika kita menelusuri sumbernya serta melihat beragam kaitannya dengan bagian-bagian lain dalam Alkitab.
Sumber Buah Roh
Dengan menyebut sifat-sifat ini sebagai buah Roh, Rasul Paulus menegaskan bahwa semuanya berasal dari Roh Kudus, yang adalah Allah. Roh menumbuhkan sifat-sifat ini dalam diri kita sebagai bagian dari karya Allah untuk memulihkan seluruh ciptaan. Untuk memelajari lebih lanjut tentang siapa Roh Kudus dan karya-Nya yang mengubahkan, saksikan video tematik tentang Roh Kudus ini.
Kita tidak dapat menghasilkan buah rohani dengan kekuatan sendiri. Kita tidak bisa menjadi lebih lemah lembut hanya dengan mengandalkan tekad, ataupun menjadi lebih bersukacita atau setia hanya dengan berusaha lebih keras. Namun, Kitab Suci menunjukkan bahwa manusia turut berperan dalam menyediakan kondisi yang memungkinkan buah rohani bertumbuh. Agar kehidupan dari pokok anggur menghasilkan buah dalam diri kita, kita harus melekat erat pada pokok itu dengan memilih jalan hidup Allah, bukan jalan hidup kita sendiri.
Ketika menulis surat kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus mengungkapkan rasa frustrasinya karena banyak orang telah menjauh dari jalan hidup Allah. Mereka tidak lagi memercayai Injil Yesus, tetapi mulai mengikuti "injil lain" (lihat Galatia 1:6-7). Akibatnya, mereka menerima atau menolak satu sama lain berdasarkan tradisi manusia dan status sosial, bukan saling membagikan dan mengalami kasih Allah yang penuh anugerah. Mereka memilih jalan perpecahan yang menentang Roh Allah dan melawan Injil Kristus yang penuh kasih serta mempersatukan (lihat Galatia 3:28-29).
Karena itu, Paulus mengajar mereka untuk kembali kepada Injil Yesus yang sejati dan ikut ambil bagian dalam karya Roh, bukan menentangnya. Dengan demikian, terciptalah kondisi yang diperlukan agar buah rohani dapat bertumbuh. Paulus mendorong mereka untuk "hidup oleh Roh" (Galatia 5:16). Namun, apa sebenarnya artinya?
Beberapa tradisi memahami hidup oleh Roh sebagai penyerahan diri kepada karya Roh yang mengubahkan pikiran dan hati kita. Ketika Roh mengubah hati kita, perilaku kita pun berubah sehingga kita menghasilkan buah. Tradisi lain memahami hidup oleh Roh sebagai keputusan untuk memercayai Allah dengan menaati petunjuk-Nya. Sebagai contoh, memilih untuk mengasihi dan mengampuni sesama berarti memilih untuk ikut ambil bagian dalam karya Roh Allah, sehingga buah rohani semakin bertumbuh dalam diri kita.
Apa pun cara kita memahami hubungan misterius antara tindakan ilahi dan tindakan manusia, Paulus mengajak kita bekerja sama dengan apa yang sedang dikerjakan Roh dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat ikut ambil bagian dalam karya Allah untuk memulihkan segala sesuatu, termasuk kehidupan kita sendiri.
Gambaran tentang buah yang digunakan Paulus menggemakan pohon kehidupan di Taman Eden (Kejadian 2-3). Gambaran ini juga mengingatkan kita pada kiasan pohon dalam Mazmur 1. Orang yang berakar di tepi "aliran air" dapat menjadi seperti pohon kuat yang menghasilkan buah pada musimnya (Mazmur 1:3).
Air dalam Mazmur 1 melambangkan Taurat Allah, yaitu "hukum" atau "petunjuk" Allah (lihat Mazmur 1:2). Namun, di bagian lain dalam Alkitab, aliran air juga dapat melambangkan Roh (lihat Yesaya 44:3), yang memampukan kita menaati ajaran Allah (Yehezkiel 36:26-27).
Ketika kita meminum air Roh yang memberi kehidupan dengan memercayai dan mengikuti petunjuk Allah, kita bertumbuh menjadi pohon-pohon kehidupan yang kuat. Kita menghasilkan buah yang membawa kesembuhan dan keutuhan bagi dunia di sekitar kita.
Kesembilan Buah Roh
Ketika menyebutkan buah-buah Roh satu per satu dalam Galatia 5:22-23, Paulus tidak bermaksud menyusun daftar yang lengkap. Dia dapat saja menambahkan sifat-sifat lain, seperti belas kasihan dan kerendahan hati (lihat Kolose 3:12), atau ketekunan (lihat 2 Timotius 3:10).
Namun, sembilan buah yang disebutkan Paulus dalam Galatia memberikan gambaran ringkas tentang kehidupan di dalam Roh. Mari kita menelaah rincian dan nuansa penting dari kesembilan buah tersebut.
Kasih
Kasih menempati urutan pertama dalam daftar Paulus. Hal ini tidak mengherankan karena dia sering mengajarkan bahwa kasih lebih penting bagi kehidupan manusia dan pertumbuhan rohani daripada apa pun. Dalam 1 Korintus 13:4-7, Paulus membandingkan kasih dengan buah-buah Roh lainnya untuk menunjukkan keunggulannya. Menurut ahli Perjanjian Baru Ernest DeWitt Burton, hal ini mungkin menunjukkan bahwa Paulus memandang kasih sebagai "sumber yang darinya semua buah lainnya mengalir".[1]
Dalam Alkitab, kasih adalah komitmen yang bertahan lama untuk hadir bersama orang lain dan mengupayakan kebaikannya. Dengan kata lain, kasih selalu memilih untuk bertindak demi kebaikan terbesar orang lain. Kasih sering melibatkan kelembutan atau rasa sayang, tetapi tidak sepenuhnya dikuasai atau ditentukan oleh emosi. Pada dasarnya, kasih adalah tindakan.
Para penulis Alkitab menjelaskan bahwa kasih sejati berakar dalam Allah (1 Yohanes 4:7-8). Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:16) dan senantiasa bekerja demi kebaikan seluruh ciptaan. Konsep kasih yang bersumber dari Allah dan memberi kehidupan ini meresapi seluruh Alkitab.
Kasih mengandalkan kekuatan kelemahlembutan, belas kasihan, dan kejujuran untuk menghadapi kejahatan.
Kitab Keluaran menggambarkan Allah sebagai Penyelamat ilahi yang membebaskan para budak dan menyambut mereka ke dalam hubungan yang menyerupai pernikahan. Allah menyertai mereka dan selalu bertindak demi kebaikan terbesar mereka. Gambaran ini menjadi pola utama kasih Allah.
Dalam Perjanjian Baru, kasih Allah yang memberikan diri terlihat paling jelas ketika Logos ilahi, atau Sang Firman, menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret. Untuk menjadi manusia, Allah merendahkan diri dari kemuliaan kehidupan ilahi yang tidak terbatas dan masuk ke dalam penderitaan serta kerusakan dunia kita demi memulihkan manusia dan seluruh ciptaan (lihat Filipi 2:3-11).
Jadi, kasih berarti memberikan hidup atau diri kita sendiri untuk memelihara orang lain.
Roh memampukan kita menanggapi kasih Allah dengan menunjukkan kasih murah hati yang sama kepada satu sama lain (lihat 1 Yohanes 4:7-21). Bahkan, Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk mencerminkan kasih Allah bukan hanya kepada teman dan sesama, melainkan juga kepada orang-orang yang menentang mereka dan kepada musuh (Matius 5:44). Kasih sejati tidak memandang bulu. Kasih memperlakukan setiap orang sebagai ciptaan Allah yang berharga dan menyadari bahwa gambar Allah telah diembuskan ke dalam diri setiap manusia.
Meskipun demikian, kasih bukanlah optimisme naif yang menutup mata terhadap kerusakan dan kejahatan. Kasih mengandalkan kekuatan kelemahlembutan, belas kasihan, dan kejujuran untuk menghadapi kejahatan. Dengan demikian, kita dapat meluruskan ketidakadilan dan membebaskan diri dari pola perilaku yang merusak. Kasih juga menawarkan pengampunan. Kasih tidak memperhitungkan kesalahan orang lain dan selalu berupaya memulihkan hubungan (1 Korintus 13:4-7).
Sukacita
Sukacita adalah kegembiraan yang meluap dari dalam hati. Buah rohani ini dapat tumbuh dari rasa syukur atas berbagai pemberian Allah atau dari pengharapan pada janji-Nya untuk memperbarui segala sesuatu.
Ketika melihat karya Allah di sekitar kita, baik dalam peristiwa ajaib (lihat Kisah Para Rasul 8:6-8) maupun dalam keseharian (Pengkhotbah 2:24-26), sukacita dapat muncul dalam diri kita. Sukacita dapat meledak seketika ketika seseorang menerima kabar tak terduga bahwa dirinya telah bebas dari kanker. Sukacita juga dapat tumbuh perlahan ketika kita menikmati aroma roti yang baru dipanggang. Semilir angin musim panas yang menyentuh kulit dapat memantik sukacita, demikian juga percakapan yang bermakna dengan teman-teman. Sukacita sering muncul ketika kita berjumpa dengan kebaikan atau keindahan.
Namun, sukacita tidak bergantung pada pengalaman menyenangkan atau kehidupan nyaman yang penuh kenikmatan. Kita bahkan dapat mengalami sukacita di tengah kesukaran (lihat 2 Korintus 8:2). Yakobus mengajak kita untuk "menganggapnya sebagai sukacita" ketika kita "menghadapi berbagai pencobaan". Dia menyadari bahwa kesukaran sering menyertai proses pembentukan kita menjadi pribadi yang "utuh dan tidak kekurangan suatu apa pun" (Yakobus 1:2-4).
Hal ini tidak berarti bahwa penyebab penderitaan manusia itu baik atau bahwa orang tidak boleh berduka ketika terluka. Namun, sukacita dapat menyertai keadaan sulit apa pun ketika kita memercayai bahwa Allah terus berkarya dan senantiasa mendatangkan keindahan dari abu penderitaan (Yesaya 61:3). Sukacita seperti ini lebih menyerupai rasa cukup dan ketenangan daripada kegembiraan yang menggebu-gebu. Sukacita ini mengingatkan kita bahwa air mata hanya sementara dalam perjalanan Allah menuju pemulihan manusia yang sempurna.
Sukacita sejati dapat berupa kegembiraan yang meluap karena pengalaman baik ataupun keyakinan damai yang diperoleh melalui pergumulan ketika memercayai janji Allah untuk mengakhiri seluruh penderitaan (Wahyu 21:3-5). Keduanya merupakan buah Roh yang penuh kuasa. Sukacita tersedia bagi kita dalam keadaan apa pun yang kita hadapi. Kita pun bersukacita ketika melihat tanda-tanda ciptaan baru mulai muncul di sekitar kita.
Damai Sejahtera
Kata Yunani untuk "damai sejahtera", eirene, mengacu pada damai batin dalam hati sekaligus kedamaian dalam hubungan dengan orang lain. Dalam Galatia 5, Paulus tidak menjelaskan secara khusus mana yang dia maksud. Kemungkinan besar, dia memikirkan keduanya. Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa sekalipun berada di tengah kesulitan dan penganiayaan, mereka dapat dipenuhi damai sejahtera karena Dia telah "mengalahkan dunia" (Yohanes 16:33).
Karena itu, Paulus mengajak kita membawa segala kekhawatiran kepada Allah. Dia menopang dunia dalam keseimbangan dan memerintah atas semua penguasa di bumi. Ketika kita memercayai hal ini, damai sejahtera-Nya dapat bertumbuh sebagai buah rohani dalam hati dan pikiran kita (Filipi 4:6-7).
Paulus juga sangat memedulikan kedamaian dalam hubungan dan kesatuan dalam komunitas. Dia mengajak orang-orang untuk "mengejar hal-hal yang mendatangkan damai sejahtera dan membangun satu sama lain" (Roma 14:19, AYT). Roh memampukan kita menjadi pembawa damai, hidup rukun dengan orang-orang di sekitar kita, dan bahkan memasuki konflik untuk mengusahakan penyelesaian yang damai.
Kesabaran
Bayangkan seseorang dengan hidung memanjang seperti seruling atau belalai gajah. Gambaran aneh ini dapat membantu kita membayangkan ungkapan "panjang lubang hidung", sebuah kiasan penting dalam Alkitab Ibrani yang menggambarkan kesabaran. Namun, apa hubungan "panjang lubang hidung" dengan kesabaran?
Seperti tokoh kartun yang asapnya menyembur dari telinga, dalam gambaran orang Ibrani kuno, asap kemarahan keluar dari hidung seseorang. Hidung yang panjang membuat asap kemarahan membutuhkan waktu lebih lama untuk keluar. Dengan kata lain, orang tersebut tidak segera bertindak dalam kemarahan.
Karena itu, ungkapan Ibrani "panjang lubang hidung" sering diterjemahkan sebagai "lambat untuk marah" (lihat Keluaran 34:6; Amsal 15:18). Para penerjemah Yunani awal memakai kata yang berakar pada makrothum, atau "sabar", untuk menyampaikan gagasan tersebut.
Perjanjian Baru menyatakan bahwa Allah sabar dalam mendatangkan penghakiman karena Dia "tidak ingin seorang pun binasa, tetapi agar semua orang dapat datang kepada pertobatan" (2 Petrus 3:9, AYT). Ketika Roh Allah menolong kita memandang orang lain sebagaimana Allah memandang mereka, kita memperoleh kekuatan untuk memperlakukan mereka dengan kesabaran ilahi.
Alih-alih meledak dalam penghakiman atau kemarahan, kita dapat ikut ambil bagian dalam karya Allah dan menumbuhkan buah kesabaran. Kita menunjukkan belas kasihan kepada semua orang, mengampuni mereka, dan mendampingi mereka dalam proses pertumbuhan.
Kemurahan dan Kebaikan
Dua buah Roh berikutnya saling berkaitan. Para penerjemah Yunani awal menggunakan khrestotes ("kemurahan") dan agathone ("kebaikan") untuk mewakili akar kata Ibrani tov, yang menggambarkan sesuatu yang baik, indah, berfungsi sebagaimana mestinya, dan adil.
Khrestotes memiliki makna yang lebih khusus, yaitu "kebaikan aktif" yang ditujukan "kepada orang lain".[2] Allah menunjukkan khrestotes, atau kemurahan-Nya, dengan menawarkan kehidupan sejati kepada manusia melalui Yesus (Efesus 2:4-7) dan dengan berbuat baik kepada "orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang-orang jahat" (Lukas 6:35).
Kita dapat mencerminkan khrestotes Allah melalui tindakan kasih dan kemurahan hati, terutama kepada orang-orang yang mungkin kita anggap tidak layak menerimanya.
Agathone, atau kebaikan, memiliki arti yang lebih umum, yaitu bertindak dengan murni dan benar serta mengikuti Allah, satu-satunya yang sungguh-sungguh baik (Markus 10:18). Ketika menciptakan alam semesta, Allah melihat bahwa dunia itu tov, atau baik, pada setiap tahap penciptaan (lihat Kejadian 1:4; Kejadian 1:10; Kejadian 1:12; Kejadian 1:18; Kejadian 1:21; Kejadian 1:25). Dalam gambaran Alkitab, buah rohani berupa kebaikan mengalir dari sifat asli seluruh ciptaan Allah, terutama manusia. Setelah menempatkan manusia dalam ciptaan-Nya, Allah menyebut segala sesuatu yang telah dibuat-Nya tov me'od, yang berarti "sangat baik" (Kejadian 1:31).
Ketika kita memercayai dan mengikuti petunjuk Sang Pencipta, kita sedang menumbuhkan buah rohani yang berasal dari kebaikan Allah, yang sejak semula diembuskan ke dalam seluruh ciptaan.
Kesetiaan
Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani pistis sering berarti "kepercayaan" atau "iman", tetapi juga dapat berarti "kesetiaan" (lihat Roma 3:3). Bagi para penulis Alkitab, iman dan kesetiaan merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Keduanya mencakup kesetiaan, keandalan, sifat dapat dipercaya, dan loyalitas.
Memiliki iman tidak sekadar berarti memercayai atau menyetujui berbagai pernyataan tentang Allah (lihat Yakobus 2:19). Iman bersifat aktif. Iman menuntut ketergantungan kepada Allah dan kepercayaan yang begitu mendalam sehingga seseorang memilih untuk berjalan menurut jalan-Nya.
Sebelumnya, kita telah melihat bahwa buah-buah Roh menggambarkan karakter Allah sendiri. Para penulis Alkitab secara konsisten menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang setia, dapat diandalkan, dan dapat dipercaya. Dalam Alkitab, Allah tidak pernah digambarkan bertindak tanpa pola, secara kacau, atau digerakkan oleh keinginan yang berubah-ubah. Ketika menerima Roh Allah dan belajar mengandalkan jalan hidup-Nya, bukan keinginan kita yang mudah berubah, kita pun menjadi semakin dapat dipercaya dan setia.
Ketika berdoa di Taman Getsemani sebelum dihukum mati, Yesus mengungkapkan kehendak manusiawi-Nya yang wajar untuk menghindari penderitaan dan kematian. Yesus memohon, "ambillah cawan ini dari-Ku". Dengan kata-kata itu, Dia meminta agar dibebaskan dari tanggung jawab penuh penderitaan yang harus dijalani-Nya. Namun, keputusan-Nya untuk tetap setia lebih kuat daripada keinginan-Nya untuk bertahan hidup. Karena itu, Dia mengakhiri permohonan-Nya dengan komitmen ini: "janganlah keinginan-Ku yang terjadi, melainkan keinginan-Mu" (Lukas 22:42, AYT).
Yesus memilih melakukan kehendak Allah, apa pun harganya. Pilihan ini mungkin merupakan gambaran kesetiaan yang paling jelas dalam Alkitab. Ketika memilih menempuh jalan yang sama dengan Yesus dengan menyerahkan kehendak kita kepada kehendak Allah melalui kuasa Roh, kita pun menumbuhkan buah kesetiaan. Sebagaimana Allah setia kepada kita (1 Korintus 1:9), kita menanggapinya dengan komitmen yang setia kepada Allah dan sesama.
Pelajari lebih lanjut: Lihat panduan Paskah dan Minggu Kudus kami untuk menelusuri kesetiaan Yesus yang tidak tergoyahkan selama pengkhianatan, pengadilan, dan penyaliban-Nya.
Kelemahlembutan
Kata Yunani prautes diterjemahkan sebagai "kelemahlembutan". Kata ini menggambarkan tindakan yang lembut dan sikap yang rendah hati.[3] Para penulis Alkitab sering menggambarkan Allah melalui kekuatan-Nya yang tak tertandingi dan kuasa-Nya yang berdaulat. Namun, mereka juga menggunakan gambaran seekor induk burung yang melindungi anak-anaknya di bawah sayapnya. Gambaran ini menunjukkan bahwa meskipun Allah Mahakuasa, kekuatan-Nya juga terlihat melalui perhatian yang lembut dan penuh kasih kepada umat-Nya (Mazmur 91:4; Yesaya 31:5).
Yesaya 40:11 memperlihatkan kelembutan Allah melalui gambaran seorang gembala yang mengumpulkan anak-anak domba dalam pelukan-Nya, mendekap mereka dekat di dada-Nya, dan menuntun induk-induk yang menyusui dengan perlahan. Ketika Nabi Elia berjumpa dengan Allah, dia mengira kehadiran ilahi akan tampak dalam gempa bumi yang dahsyat atau api yang berkobar. Sebaliknya, dia menemukan Allah dalam "bisikan" yang lembut (1 Raja-raja 19:12).
Kemudian, dalam Perjanjian Baru, ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret, Dia tidak mengumumkan kedudukan-Nya sebagai Raja dengan bunyi trompet atau pertunjukan megah, pasukan, ataupun kuda perang. Yesus memasuki Yerusalem sebagai Raja yang "lemah lembut" (praus, berkaitan dengan prautes) dengan menunggang seekor keledai muda (Matius 21:5), sebagaimana telah dinubuatkan Nabi Zakharia (Zakharia 9:9).
Ketika berbicara kepada orang-orang yang letih dan berbeban berat tentang kehidupan bersama-Nya, Yesus berkata, "Datanglah kepada-Ku ... dan Aku akan memberimu kelegaan. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah dari-Ku karena Aku lemah lembut (praus) dan rendah hati, dan kamu akan mendapatkan ketenangan dalam jiwamu" (Matius 11:28-29, AYT).
Yesus mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati tidak dinyatakan dengan menguasai orang lain melalui kekerasan, tetapi dengan memedulikan dan membebaskan mereka -- memberikan ketenangan yang mendatangkan damai dan kesembuhan dengan memperlakukan mereka secara lemah lembut.
Setelah Yesus meninggalkan dunia, Roh Allah terus mengajak manusia menempuh jalan kelemahlembutan. Sebagai contoh, Rasul Paulus membandingkan kedatangannya kepada jemaat Korintus dengan membawa "tongkat" teguran atau datang "dengan kasih dan roh kelemahlembutan", yaitu prautes (1 Korintus 4:21). Paulus memilih kelemahlembutan, setidaknya dalam hal ini. Beberapa ayat setelah menguraikan buah Roh, Paulus juga meminta orang-orang menghadapi mereka yang berbuat salah bukan dengan kekerasan, tetapi "dalam roh kelemahlembutan" (Galatia 6:1; lihat juga 2 Timotius 2:25).
Ketika memilih jalan kelemahlembutan, kita menerima manfaat dari buah rohani sejati yang Allah tumbuhkan dalam diri kita sekaligus membagikannya kepada orang lain.
Penguasaan Diri
Atlet yang berhasil memberi teladan tentang penguasaan diri dengan menghindari hal-hal menyenangkan yang dapat merusak tubuh mereka. Meskipun menginginkan kenikmatan dari biskuit atau kue, mereka mendisiplinkan diri untuk memilih sayuran dan protein rendah lemak. Mereka mungkin ingin bersantai, tetapi tetap mendorong diri untuk berlatih keras. Dengan mengendalikan tubuh dan tidak membiarkan keinginan menguasai mereka, para atlet mempersiapkan diri untuk bertanding dengan baik.
Paulus mendorong jemaat Korintus untuk menerapkan disiplin pengendalian diri yang sama ketika mengikuti jalan Allah (1 Korintus 9:24-27). Kita melatih penguasaan diri ketika berpaling dari apa yang disebut Paulus sebagai "perbuatan daging", yaitu upaya sia-sia untuk memperoleh kepuasan diri dengan mengutamakan keinginan sendiri sambil mengabaikan sesama (Galatia 5:19-21).
Memuaskan keinginan sendiri sering tampak sebagai jalan terbaik menuju kebebasan. Namun, tanpa penguasaan diri, kita justru dikuasai oleh keinginan yang terus berubah. Yesus dan para penulis Perjanjian Baru mengajarkan bahwa kehidupan yang baik ditemukan dengan mengasihi Allah dan sesama dalam setiap keadaan. Meskipun tampak bertentangan dengan dugaan kita, penguasaan diri justru memberi kita kebebasan sejati.
Hidup oleh Roh
Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya. Sejak semula, Dia mengajar kita untuk mencerminkan karakter ilahi-Nya. Kita melakukannya dengan menghasilkan buah rohani yang baik, melakukan apa yang benar di mata Allah, serta memelihara ciptaan-Nya dan setiap orang di dalamnya. Ketika hidup hanya untuk diri sendiri dan melakukan apa yang benar menurut pandangan kita, kita menampilkan gambar Allah secara menyimpang. Allah sama sekali tidak mementingkan diri sendiri. Dia adalah kasih yang murni dan selalu bekerja demi kebaikan orang lain.
Sebagai manusia, kita tidak dapat kehilangan gambar Allah, tetapi kita sering menyimpangkannya. Akibatnya, buah rohani yang Allah tumbuhkan dalam diri kita menjadi layu dan mati. Kita keliru menukarkan kehidupan yang baik dengan sesuatu yang nilainya tidak lebih dari apel busuk.
Namun, para penulis Alkitab mengajak kita memercayai bahwa ketika hidup menurut jalan Yesus -- yang menghasilkan setiap buah rohani -- kita juga ikut ambil bagian dalam karya Roh. Allah memperbarui gambar-Nya dalam diri kita (lihat 2 Korintus 3:18).
Hidup oleh Roh menciptakan kondisi yang diperlukan agar Allah menumbuhkan dalam diri kita buah rohani berupa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri -- buah tak ternilai yang membawa kesembuhan dan kehidupan bagi semua orang.
Catatan kaki:
[1] Ernest DeWitt Burton, "A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle to the Galatians", International Critical Commentary (London: T&T Clark, 1988), 314.
[2] Gordon Fee, "God's Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul" (Grand Rapids: Baker Academic, 2009), 450.
[3] Mengenai kerendahan hati sebagai aspek penting dari akar kata Yunani ini, lihat pembahasan tentang kata sifat terkait praus dalam podcast "The Powerless, Grieving, and Unimportant (The Beatitudes Pt. 2)".
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | The Bible Project |
| Alamat artikel | : | https://bibleproject.com/articles/fruits-spirit-and-their-meanings-bible/ |
| Judul asli artikel | : | The Fruit of the Spirit (and Its Meaning) in the Bible |
| Penulis artikel | : | BibleProject Scholarship Team |