Cerita dan Pesan Alkitab

Definisi Alkitab terdiri dari banyak kitab yang ditulis oleh berbagai penulis selama berabad-abad, tetapi sebagai firman Tuhan, Alkitab merupakan wahyu yang terpadu yang mengungkapkan satu pesan yang utuh. Penting untuk memahami pesan utama Alkitab agar kita dapat menafsirkannya dengan benar dan menerapkannya dengan tepat dalam kehidupan.

Ringkasan Artikel ini menjelaskan pesan utama Alkitab dengan meninjau dua cara untuk menggambarkan kisah besar Kitab Suci. Pertama, alur cerita Alkitab tentang penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan penciptaan baru diulas untuk menolong kita memahami pesan Alkitab secara menyeluruh. Kedua, kisah Alkitab dijelaskan dengan memperhatikan bagaimana rencana Allah dinyatakan melalui perjanjian-perjanjian, mulai dari perjanjian penciptaan hingga perjanjian baru dalam Kristus.

Alkitab adalah kitab besar yang memuat banyak topik, memiliki ragam jenis tulisan, dan mencakup rentang waktu berabad-abad. Namun, meskipun ditulis oleh banyak penulis dan membahas berbagai subjek, Alkitab merupakan satu kisah besar yang menyampaikan satu pesan utama: apa yang Allah Tritunggal, Allah Perjanjian, telah direncanakan sejak kekekalan dan digenapi dalam sejarah untuk memuliakan diri-Nya melalui penebusan umat-Nya, penghakiman atas dosa, dan pembaruan segala sesuatu dalam Kristus Yesus (Rom. 11:33-36; Ef. 1:9-10; Kol. 1:15-20).

Dari Kejadian hingga Wahyu, pesan Alkitab pertama dan terutama adalah tentang Allah Tritunggal. Pesan ini berpusat pada nama dan kemuliaan-Nya, serta bagaimana Dia, dalam kasih karunia-Nya, memilih untuk menyatakan diri-Nya kepada kita -- meskipun Dia sempurna dan cukup dalam diri-Nya sendiri -- sehingga kita menaikkan pujian atas kasih karunia-Nya yang mulia dan menerima kebaikan kekal dari-Nya (Ef. 2:1-10).

Kisah Alkitab yang panjang dan berlapis-lapis dapat digambarkan dengan beberapa cara. Pertama, kita dapat melihatnya melalui empat gerakan utama cerita: penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan penciptaan baru. Kedua, kita dapat memahami rencana kekal Allah yang berjalan dari penciptaan hingga penciptaan baru melalui perkembangan perjanjian-perjanjian dalam Alkitab. Mari kita menelusuri kedua pendekatan ini untuk merangkum kisah dan pesan Alkitab secara menyeluruh.

Kisah dan Pesan Alkitab Melalui Gerakan Plotnya

Dengan menelusuri gerakan alur cerita Alkitab, kita dapat memahami garis besar kisah dan pesan Alkitab, sekaligus melihat bagaimana pandangan dunia Alkitab berbeda dari pandangan-pandangan lain. Pendekatan ini membantu kita menjawab empat pertanyaan mendasar yang ditanyakan setiap orang: Dari mana kita berasal? Apa yang salah? Apa solusi bagi masalah kita? Ke mana arah sejarah ini?

Penciptaan

Dari mana segala sesuatu berasal? Kejadian 1-2 memberikan kisah penciptaan Allah atas segala sesuatu, termasuk kita -- makhluk-Nya dan pembawa gambar-Nya. Walaupun bagian Alkitab ini singkat, bagian ini sangat penting secara teologis dan menjadi fondasi bagi seluruh kisah yang mengikuti, menyiapkan panggung bagi drama Alkitab selanjutnya.

Di bagian ini kita diperkenalkan kepada sejumlah tokoh utama dan mulai memahami latar cerita Alkitab. Selain itu, dalam penciptaan ditetapkan berbagai pola tipologis yang kelak mencapai penggenapannya dalam Kristus dan perjanjian baru (misalnya: istirahat hari ketujuh [Kej. 2:1-3; Kel. 20:8-11] yang digenapi dalam peristirahatan keselamatan di dalam Kristus [Ibr. 3:7-4:13]; Eden sebagai tempat suci yang menemukan kepenuhannya dalam Kristus sebagai bait suci baru; serta pernikahan yang menunjuk pada realitas yang lebih besar, yaitu hubungan Kristus dengan umat-Nya [Kej. 2:24-25; Ef. 5:32]). Semua pola ini nantinya dijelaskan secara bertahap melalui perjanjian-perjanjian selanjutnya, seluruhnya bergerak menuju tujuan akhir dan menolong kita memahami kisah Alkitab.

Kejatuhan

Apa yang salah? Dalam Kejadian 3, segalanya berubah di dunia baik ciptaan Allah. Adam, manusia pertama, mengubah arah sejarah untuk selamanya melalui pilihannya untuk memberontak melawan Allah. Ketika digoda oleh ular, Adam mendurhakai Allah dan menjerumuskan seluruh umat manusia ke dalam dosa, kematian, dan penghukuman. Kejatuhan menetapkan masalah besar yang menjadi fokus seluruh kisah Alkitab sesudahnya.

Tanpa Kejadian 3, kita tidak dapat memahami rencana penebusan Allah atau bagaimana manusia dapat berdiri dibenarkan di hadapan Allah yang kudus, mengingat keadaan kita yang berdosa. Karena dosa Adam dan karena kita diusir dari hadirat Allah, satu-satunya harapan kita terletak pada inisiatif Allah yang penuh kasih karunia untuk menebus dan membalikkan dampak dosa serta kematian yang dihasilkan oleh tindakan Adam.

Penebusan

Di mana kita menemukan harapan? Dalam Kejadian 3:15, Allah berjanji bahwa seorang keturunan perempuan -- "benih" itu -- akan suatu hari mengalahkan ular dan membalikkan apa yang dilakukan Adam. Meskipun manusia pantas menerima kematian karena dosa mereka (Roma 6:23), kematian tidak akan menjadi kata terakhir. Sepanjang Alkitab, melalui semua kisah, tokoh, sistem persembahan, dan peristiwa penyelamatan, Allah perlahan-lahan mengungkapkan janji "kabar baik" ini -- sebuah garis cerita yang akhirnya membawa kita kepada Kristus.

Seiring berjalannya sejarah, Kristus akhirnya datang -- Anak Allah sendiri -- dan melalui hidup-Nya, kematian-Nya, serta kebangkitan-Nya, Bapa membentuk umat yang baru, yaitu gereja. Umat ini menikmati pengampunan dosa yang penuh, hati yang diperbarui, dan akses kepada Bapa melalui Roh Kudus. Dalam Kristus, apa yang Allah Tritunggal rencanakan sejak awal untuk ciptaan-Nya, yang telah rusak akibat Kejatuhan, kini mulai dipulihkan.

Penciptaan Baru

Ke mana sejarah menuju? Arah sejarah adalah menuju penciptaan baru -- tujuan dan puncak dari janji penebusan Allah. Tatanan sekarang adalah ciptaan lama di dalam Adam, tetapi Kristus akan membawa ciptaan baru. Para nabi Perjanjian Lama menggambarkan penciptaan baru ini sebagai kedatangan Raja dan Mesias Allah. Melalui hidup dan karya salib-Nya, Yesus menghadirkan ciptaan baru itu. Dalam kedatangan-Nya yang kedua, ciptaan baru itu akan disempurnakan sepenuhnya, sebagaimana digambarkan dengan indah dalam Wahyu 21-22. Namun, bahkan sekarang, sebagian dari apa yang dilihat Yohanes sudah hadir dalam diri umat Kristus, yang adalah ciptaan baru dan menjadi koloni zaman yang akan datang, meskipun kita masih menantikan kepenuhannya ketika Kristus kembali.

Keempat gerakan cerita ini merupakan salah satu cara untuk merangkum kisah Alkitab. Pendekatan ini menolong kita melihat bagaimana Allah merencanakan segala sesuatu dalam kekekalan dan menggenapinya dalam sejarah untuk memuliakan diri-Nya dengan menghancurkan dosa dan menebus umat-Nya di dalam Kristus.

Namun, cara lain untuk memahami pesan Alkitab adalah dengan menelaah bagaimana rencana penebusan Allah, dari penciptaan hingga penciptaan baru, terungkap secara bertahap melalui perjanjian-perjanjian dalam Alkitab.

Kisah dan Pesan Alkitab Melalui Perjanjian-Perjanjian yang Berkembang

Gerakan alur cerita Alkitab membantu kita memahami pesan Alkitab, tetapi perjanjian-perjanjian menjadi struktur utama yang menyatukan semua bagian kisah tersebut. Perjanjian menggambarkan siapa Allah sebagai Tuhan Perjanjian dan bagaimana Dia dengan kasih memilih untuk menjadi Allah kita -- "Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi jemaat-Ku" (Yer. 31:33, AYT). Melalui perjanjian-perjanjian inilah kita mengenal rencana kekal Allah. Setiap perjanjian, mulai dari Adam hingga Kristus, berperan dalam rencana tersebut dan pada akhirnya menunjukkan kepada kita bagaimana seluruh janji Allah digenapi dalam Kristus.

Perjanjian Allah dengan Penciptaan melalui Adam dan Nuh

Inserted image

Seperti telah disebutkan sebelumnya, Alkitab membuka kisahnya dengan penciptaan dunia dan manusia, tetapi narasi itu dimulai dengan memperkenalkan Allah terlebih dahulu sebagai Pencipta dan Tuhan (Kej. 1-2; Mzm. 103:19; Dan. 4:34-35; Kis. 17:24-25). Karya penciptaan Allah merupakan penggenapan rencana kekal-Nya di dalam sejarah (Ef. 1:11; Why. 4:1), yang diarahkan kepada tujuan akhir yang telah Dia tetapkan. Seiring sejarah berlangsung, rencana Allah dinyatakan melalui hubungan-hubungan perjanjian yang tertentu sehingga semuanya mengarah kepada Kristus (Kol. 1:15-20).

Sejak Kejadian 1, Allah menyingkapkan diri-Nya sebagai Pribadi yang tidak diciptakan, mandiri, dan mencukupi diri-Nya sendiri, yang menciptakan serta memerintah seluruh ciptaan melalui firman-Nya (Kej. 1-2; Mzm. 50:12-14; Kis. 17:24-25; bandingkan Yoh. 1:1). Sebagai Pencipta dan Tuhan, Allah hadir sepenuhnya dan berelasi dengan ciptaan-Nya: Dia dengan bebas, berkuasa, dan penuh tujuan menopang serta mengarahkan segala sesuatu menuju kehendak-Nya (Mzm. 139:1-10; Kis. 17:28; Ef. 1:11). Sebagai Pribadi, Allah memerintah, mengasihi, menghibur, dan menghakimi sesuai dengan karakter-Nya. Seiring kisah penebusan berkembang, Allah juga menyatakan diri-Nya bukan sebagai Pribadi tunggal, tetapi sebagai tiga Pribadi -- Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Allah juga adalah Yang Kudus (Kej. 2:1-3; Kel. 3:2-5; Im. 11:44; Yes. 6:1-3; bandingkan Rom. 1:18-23). Kekudusan-Nya berkaitan erat dengan kemandirian dan aseitas-Nya ("hidup dari diri-Nya sendiri"). Sebagai Allah, Dia ada dengan sendirinya dan menjadi standar moral bagi seluruh ciptaan. Dia "terlalu suci untuk melihat kejahatan" dan tidak dapat menoleransinya (Hab. 1:12-13; bandingkan Yes. 1:4-20; Yes. 35:8). Allah harus bertindak dengan keadilan yang kudus ketika umat-Nya memberontak melawan Dia. Namun, Dia juga mengasihi umat-Nya dengan kasih yang kudus dan perjanjian (Hos. 11:9). Kekudusan dan kasih Allah tidak pernah saling bertentangan (1Yoh. 4:8; Why. 4:8). Namun, ketika dosa memasuki dunia dan Allah berjanji dengan murah hati untuk menebus umat-Nya, timbul pertanyaan besar: bagaimana Dia akan melakukannya sambil tetap setia kepada karakter-Nya? Inilah pertanyaan yang menjadi inti dari kisah Alkitab yang berkembang.

Selanjutnya, kita diperkenalkan kepada Adam, manusia pertama, yang menjadi kepala perwakilan bagi seluruh umat manusia dan ciptaan. Kitab Suci menempatkan seluruh manusia di bawah dua kepala perwakilan: Adam dan Kristus (Rom. 5:12-21; 1Kor. 15:12-28). Dalam rencana Allah, Adam adalah gambaran Kristus -- yang menunjuk kepada Dia sebagai Adam yang terakhir (Rom. 5:14). Namun, Adam, melalui tindakan ketidaktaatan yang ia lakukan sebagai wakil manusia, menjerumuskan seluruh umat manusia ke dalam dosa, dan akibatnya berdampak pada seluruh ciptaan. Namun, sesuai janji Allah (Kej. 3:15), seorang "anak/benih" akan datang untuk menghapus kutuk dosa dan memulihkan umat manusia kepada Allah.

Namun, dari janji ini muncul pertanyaan: siapakah "benih" itu? Mengingat kekudusan Allah, bagaimana manusia yang jatuh dapat dibenarkan di hadapan-Nya? Allah tidak dapat mengabaikan dosa kita; Dia harus tetap setia pada tuntutan keadilan-Nya terhadap dosa. Namun, bagaimana Allah dapat tetap adil sekaligus menjadi pembenar bagi orang-orang yang tidak layak? Pertanyaan inilah yang menjadi tema besar yang menggerakkan keseluruhan kisah Alkitab. Allah harus menghakimi dosa manusia, tetapi karena Dia telah berjanji untuk menebus, terbentuklah ketegangan dalam hubungan perjanjian-Nya. Allah berjanji untuk menjadi Allah kita dan menempatkan kita dalam hadirat-Nya, tetapi Dia kudus sedangkan kita tidak. Tidak diragukan lagi, dalam perjanjian-perjanjian berikutnya Allah menyediakan berbagai sarana untuk menangani dosa (misalnya imamat, sistem persembahan, dan Kemah Suci-Bait Suci [Im. 17:11]). Namun, di bawah Perjanjian Musa, semua itu memang tidak dimaksudkan untuk cukup. Allah sedang mengajar umat-Nya tentang keterbatasan sistem tersebut, yang justru menunjuk kepada penyediaan dan perjanjian yang lebih besar. Seiring rencana Allah tersingkap, satu-satunya cara untuk menyelesaikan ketegangan ini adalah melalui hadirnya seorang Anak yang spesifik -- seorang manusia yang juga Anak Allah yang ilahi. Hanya Dia yang sanggup menebus dan membenarkan kita (Rom. 3:21-26). Namun, ini masih mengarah kepada apa yang belum tergenapi saat itu.

Dalam kisah Nuh, kita juga melihat bagaimana tujuan penciptaan Allah tetap berlanjut. Ketika Allah menghakimi dunia melalui air bah, Dia menyelamatkan Nuh, keluarganya, dan dua ekor dari setiap makhluk. Nuh dan keluarganya menjadi "awal baru" bagi ciptaan. Seperti perintah yang Allah berikan kepada Adam, Nuh juga diperintahkan untuk memenuhi bumi dan menguasainya. Ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh (Kej. 9:13), perjanjian itu meneguhkan kembali dasar yang sama dari perjanjian dengan Adam dan ciptaan. Namun, perjanjian dengan Nuh diberikan dalam konteks dunia yang telah jatuh dan masih menuju penghukuman. Karena janji Allah, kita tahu bahwa Dia akan memelihara ciptaan hingga akhir zaman meskipun dosa manusia terus berlangsung, dan melalui garis keturunan Nuh, Allah akan menghadirkan benih yang dijanjikan itu -- Dia yang akan membalikkan seluruh dampak dosa Adam.

Perjanjian Allah dengan Abraham dan Keturunannya

Ketika keturunan Nuh bertambah banyak, mereka hidup seperti nenek moyang mereka, melanjutkan pola pemberontakan manusia terhadap Allah. Menara Babel menjadi bukti bahwa ambisi manusia yang menentang Allah -- seperti pada zaman Adam -- terus berlangsung. Dosa berpindah dari generasi ke generasi, dan kita pun bertanya bagaimana Allah akan membalikkan dampak dosa dan kematian serta memulihkan manusia kepada peran mereka sebagai pembawa gambar-Nya.

Jawaban atas pertanyaan itu adalah Perjanjian Abraham. Dalam konteks Kejadian 1-11, Perjanjian Abraham menjadi cara Allah menepati janji-Nya untuk menebus dan memulihkan. Melalui satu keluarga -- Abraham dan keturunannya -- Allah berjanji untuk membalikkan dampak dosa dan kematian. Dengan anugerah-Nya yang berdaulat -- bukan karena apa yang dilakukan Abraham atau karena keistimewaannya -- Allah memilih Abraham, seorang penyembah berhala, dan berjanji untuk memberkatinya dengan nama yang besar, tanah, dan keturunan yang akan membawa keselamatan kepada segala bangsa (Kej. 12:1-3; bandingkan Yos. 24:2-4). Melalui Perjanjian Abraham, Allah memperjelas bagaimana janji keselamatan itu akan digenapi. Dalam pengukuhan perjanjian di Kejadian 15, Allah menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya yang akan memenuhi janji keselamatan itu. Janji-janji Allah bergantung pada kesetiaan-Nya terhadap firman-Nya, dan Abraham menerimanya melalui iman semata (Kej. 15:6).

Di Eden, Allah mengusir Adam dari hadirat-Nya. Kini, anak-anak Abraham -- yakni mereka yang percaya dan taat kepada Allah -- menjadi umat Allah yang dipulihkan ke hadirat-Nya dan dibentuk ulang untuk menjalankan maksud Allah bagi manusia.

Perjanjian Allah dengan Israel melalui Musa

Keturunan Abraham berkembang dan menjadi bangsa Israel. Dalam perkembangan kisah ini, Allah mengadakan perjanjian lebih lanjut dengan mereka. Dalam perjanjian Allah dengan Israel yang dimediasi Musa, janji Allah kini terarah kepada satu bangsa -- bangsa yang kudus dan kerajaan imam, yang disebut Allah sebagai anak-anak-Nya (Kel. 4:22; Kel. 9:6). Allah membebaskan umat-Nya dari Mesir melalui peristiwa Keluaran, yang menetapkan Israel sebagai umat perjanjian-Nya dan menjadi pola bagi tindakan penyelamatan Allah yang akan datang.

Di Gunung Sinai, Allah memberikan hukum perjanjian-Nya kepada Israel (Kel. 19-20). Musa bertindak sebagai perantara perjanjian, dan Allah menyingkapkan rencana-Nya bagi bangsa itu. Rencana tersebut mencakup peran nabi, imam, dan raja -- masing-masing mencerminkan bagian dari peran asli Adam di Eden. Sekali lagi terlihat bahwa perjanjian Allah dengan Israel dibangun di atas perjanjian-perjanjian sebelumnya, terus mengembangkan satu rencana penebusan dan maksud Allah bagi manusia. Perjanjian itu mencakup berkat bagi ketaatan dan kutuk bagi ketidaktaatan, dan melalui ketaatan Israel, mereka akan mengalami berkat dari Allah.

Namun, seiring waktu, meskipun Israel kadang taat, pola hidup mereka terutama ditandai ketidaktaatan. Meski dipanggil secara khusus, Israel justru bertindak seperti Adam dalam pemberontakan dan penolakan mereka terhadap Allah. Karena itu, perjanjian lama -- meskipun berasal dari Allah -- menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar. Perjanjian itu tidak cukup pada dirinya sendiri; ia menandakan kebutuhan akan keselamatan, tetapi tidak menyediakan pemenuhannya secara penuh.

Dalam rencana Allah, perjanjian ini dimaksudkan untuk mengarahkan pandangan Israel kepada Kristus dan perjanjian baru (Yer. 31:31-34). Perjanjian Israel memang bersifat sementara, menjadi bagian dari rencana Allah yang berkembang melalui perjanjian-perjanjian lainnya. Perjanjian itu dengan murah hati memungkinkan Allah berdiam di tengah Israel, tetapi juga mengungkapkan kebutuhan akan perjanjian yang lebih besar, perantara yang sempurna, dan korban yang memadai. Perjanjian lama menjalankan beberapa tujuan penting: ia mengungkapkan sifat dosa (Rom. 7:13), memperlihatkan besarnya kasih karunia Allah, dan mengantisipasi kebenaran Allah dalam Injil (Rom. 3:21), sambil berfungsi sebagai penjaga yang menuntun kita kepada Kristus (Gal. 3:19-4:7).

Perjanjian Allah dengan Daud dan Anaknya

Melalui Perjanjian Daud, fokus janji Allah kini diarahkan kepada seorang individu: sang raja. Semua perjanjian sebelumnya mencapai puncaknya dalam perjanjian ini, karena Allah menjanjikan seorang "anak/raja" yang akan memerintah dunia untuk selama-lamanya (2Sam. 7:14, 19).

Dalam janji tentang "anak" ini, kita mendengar gema identitas Israel sebagai anak Allah (Kel. 4:22). Lebih jauh lagi, kita mendengar gema janji Allah tentang seorang "anak/keturunan" yang akan membatalkan pekerjaan Adam (Kej. 3:15). Inti dari rencana penebusan Allah adalah pemulihan peran manusia sebagai wakil Allah melalui keturunan tersebut. Ketika kita sampai pada perjanjian dengan Daud, kita mulai melihat bahwa pemulihan ciptaan akan terjadi melalui raja keturunan Daud, sebagaimana ditunjukkan dalam Kitab Para Nabi dan Mazmur (Mzm. 2, 8, 45, 72; Yes. 9:6-7; Yes. 9:11; Yes. 9:53). Namun, Daud dan anak-anaknya gagal menaati Allah, sehingga janji keselamatan Allah seolah berada dalam tanda tanya. Namun, Allah tetap berjanji akan menghadirkan Sang Raja yang dijanjikan -- raja keturunan Daud -- sehingga muncul pertanyaan: di manakah Raja itu?

Pertanyaan ini membawa kita kepada pesan para Nabi dan harapan akan perjanjian baru. Para Nabi menubuatkan hukuman Allah atas Israel karena pelanggaran mereka terhadap perjanjian, tetapi mereka juga menyampaikan kabar pengharapan. Mereka menggambarkan pola pembaruan yang menggemakan sejarah penebusan masa lalu sambil memproyeksikannya ke masa depan. Para Nabi menegaskan bahwa Allah akan menepati janji-Nya untuk menebus, dan Dia akan melakukannya melalui seorang raja Daud yang setia (Yes. 7:14; Yes. 9:6-7; Yes. 11:1-10; Yes. 42:1-9; Yes. 49:1-7; Yes. 52:13-53:12; 55:3; 61:1-3; Yer. 23:5-6; Yeh. 34:23-24). Dalam raja ini -- yang dikenal sebagai "hamba YHWH" -- perjanjian baru atau perjanjian kekal akan datang bersama pencurahan Roh (Yeh. 36-37; Yoel 2:28-32), pemerintahan penyelamatan Allah bagi bangsa-bangsa, pengampunan dosa (Yer. 31:34), dan hadirnya penciptaan baru (Yes. 65:17). Dengan demikian, harapan para Nabi berpusat pada perjanjian baru.

Tentang perjanjian baru ini, seluruh Nabi berbicara, tetapi Yeremia 31 mungkin adalah teks Perjanjian Lama yang paling terkenal. Yeremia menyoroti inti dari perjanjian baru, yaitu janji pengampunan dosa yang sempurna (31:34). Dalam perjanjian Israel, pengampunan dosa diberikan melalui sistem persembahan. Namun, Allah tidak pernah bermaksud agar sistem itu menjadi tujuan akhir (Gal. 3-4), sebagaimana terlihat dari pengumuman-Nya bahwa dalam perjanjian baru dosa akan "tidak diingat lagi" (ay. 34). Yang diharapkan dalam perjanjian baru adalah dipulihkannya persekutuan dengan Allah dan Allah berdiam bersama umat-Nya di dalam penciptaan baru -- penggenapan akhir dari janji dalam Kejadian 3:15.

Perjanjian Baru Allah dalam Kristus

Pertanyaan besar dalam Perjanjian Lama adalah kapan dan bagaimana Allah akan menepati janji-janji-Nya -- janji yang dinyatakan melalui perjanjian-perjanjian-Nya dengan Adam, Nuh, Abraham, Musa, dan Daud. Dengan kedatangan Kristus, semua janji Allah menjadi "ya" di dalam Dia (2Kor. 1:20). Sebagaimana telah direncanakan Allah sejak kekekalan, melalui perjanjian baru yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus, Allah Tritunggal memulai kerajaan penyelamatan-Nya di dunia. Dalam inkarnasi-Nya, Anak Allah yang ilahi menjadi Anak Manusia yang dijanjikan, keturunan Abraham, Israel yang sejati, dan Anak Daud yang lebih besar, dan Dia menebus kita melalui karya-Nya. Melalui hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, serta pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, Dia menebus dosa kita, membentuk kita sebagai ciptaan baru-Nya, dan menghapus kutuk dosa atas ciptaan. Hanya di dalam Kristuslah seluruh janji Allah digenapi dan tujuan awal penciptaan manusia diwujudkan untuk selamanya.

 

Alkitab merupakan wahyu yang terpadu yang mengungkapkan satu pesan yang utuh.

 

Kebenaran-kebenaran mulia ini digambarkan dengan indah dalam Wahyu 21-22. Setelah penghakiman terakhir atas dosa terlaksana, ciptaan baru hadir dalam kepenuhannya. Dalam kedatangan Kristus, ciptaan baru itu mencapai kesempurnaannya, sehingga seluruh ciptaan menjadi tempat Allah Tritunggal menyatakan kehadiran perjanjian-Nya yang penuh kemuliaan di tengah umat-Nya. Eden telah digantikan oleh ciptaan yang baru, dan apa yang Allah kehendaki bagi kita sejak semula -- yaitu tinggal dalam hadirat-Nya sebagai umat-Nya -- kini terwujud sepenuhnya dan untuk selamanya. Amin!

Alkitab, sebagai firman Tuhan yang tertulis, berpusat pada apa yang telah dilakukan Allah Tritunggal untuk memuliakan diri-Nya melalui penebusan umat-Nya, penghakiman atas dosa, dan pembaruan segala sesuatu di dalam Kristus. Bagi gereja, pesan ini adalah kabar baik yang seharusnya menggerakkan kita kepada iman, harapan, kasih, dan kesetiaan kepada Kristus. Namun, pesan Alkitab juga mengingatkan kita bahwa di luar Kristus hanya ada penghakiman akhir -- sebuah kebenaran yang seharusnya mendorong kita untuk memberitakan Injil dengan setia.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : The Gospel Coalition’s
Alamat artikel : https://www.thegospelcoalition.org/essay/the-story-and-message-of-the-bible/
Judul asli artikel : The Story and Message of the Bible
Penulis artikel : Stephen Wellum

Mulai PA Online sekarang!