Saya Rindu Menceritakan Kisah Saya Bersama Yesus

Bolehkah saya menceritakan kisah saya bersama Yesus? Saya rasa saya belum pernah membagikannya di blog ini. Namun, perjalanan iman saya memperlihatkan bagaimana Tuhan dengan setia menuntun saya hingga menjadi pribadi seperti sekarang ini.

Inserted image

Sejak lahir, orang tua saya mengarahkan saya kepada Yesus. Mereka membawa saya ke gereja, berdoa bersama saya dan untuk saya, serta membangun kebiasaan ibadah keluarga di rumah. Selama masa pertumbuhan, saya menghafal ayat-ayat Alkitab, mengikuti Sekolah Alkitab Liburan, dan bernyanyi di paduan suara remaja. Suatu pagi Minggu, ketika saya berusia delapan tahun, saya maju ke depan saat lagu undangan, mengaku iman kepada Yesus, dan dibaptis. Pada hari itu, nama saya tercatat dalam daftar gereja, tetapi belum tercatat di Kitab Kehidupan Anak Domba. Meski demikian, saya menghabiskan dua dekade berikutnya berusaha melakukan semua hal yang dianggap sebagai ciri seorang Kristen yang baik.

Setelah Wayne dan saya menikah, kami bergabung dengan sebuah gereja lokal dan terlibat aktif di dalamnya. Kami setia menghadiri ibadah, menjalin pertemanan dengan sesama orang percaya, dan mengajar Sekolah Minggu remaja. Saya menjalani seluruh rutinitas iman itu, tetapi tidak benar-benar merasa terhubung dengan Tuhan. Kehadiran-Nya terasa jauh dan sulit saya alami secara nyata. Saya rindu mencerminkan Yesus dan karakter-Nya, tetapi justru merasa tidak berdaya.

Titik Balik dalam Kisah Saya bersama Yesus

Saya mulai menyadari kekurangan dalam hidup saya ketika membandingkannya dengan kehidupan orang lain, terutama seorang teman gereja. Suatu hari, saat kami bermain bersama anak-anak balita kami, saya memberanikan diri untuk membagikan pergumulan hati saya kepadanya. Dengan lembut dia berkata, "Mungkin kamu belum diselamatkan." Tanggapan itu mengguncang saya, tetapi sekaligus mempersiapkan hati saya agar Tuhan dapat bekerja. Saat itu, hati saya terbuka untuk menerima apa yang Tuhan ingin berikan.

"Saya rindu mencerminkan Yesus dan karakter-Nya, tetapi justru merasa tidak berdaya."

Tidak lama setelah momen kejujuran tersebut, saya bergabung dengan kelompok studi Alkitab wanita di gereja kami. Sebelumnya, saya belum pernah mengikuti studi Alkitab yang mendalam -- hanya kelas Minggu tanpa pembelajaran pribadi. Dan Tuhan tidak sekadar membiarkan saya mencicipi firman Tuhan untuk pertama kalinya. Tidak! Dia langsung menceburkan saya ke bagian terdalam Alkitab melalui Kitab Roma yang kaya akan Injil.

Ketika saya mulai menyerap kebenaran-Nya, saya merasa seolah-olah Tuhan menyalakan sebuah sakelar rohani di dalam jiwa saya. Saya akhirnya "mengerti" apa yang telah saya lewatkan selama lebih dari dua dekade mencoba menjalani iman dengan kekuatan sendiri. Keselamatan sejati adalah mengenal Juru Selamat. Keselamatan adalah relasi yang intim dengan Sang Pemberi Hidup. Pada saat itu, saya berhenti berjuang dan sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya. Hidup saya kini diserahkan kepada Tuhan dan Raja saya. Kisah saya bersama Yesus pun baru saja dimulai.

Selama lebih dari dua puluh lima tahun, saya terbenam dalam kehidupan dan aktivitas gereja, tetapi entah bagaimana saya melewatkan kebenaran itu. Saya melakukan semua hal yang dianggap benar -- menghadiri gereja, menaati aturan, maju ke depan saat panggilan iman, bahkan dibaptis. Namun, semua itu tidak menyelamatkan saya. Namun, selama tahun-tahun perjuangan pribadi dengan upaya diri, Tuhan dengan setia terus menarik saya kepada Yesus. Kemudian, pada waktu-Nya, Dia memakai pengajaran mendalam dari Kitab Roma untuk merebut hati saya. (Ingin tahu lebih banyak tentang hubungan penyelamatan dengan Yesus?)

Cinta kepada Yesus dan firman Tuhan

Saya tidak hanya jatuh cinta kepada Yesus selama masa studi itu, tetapi juga jatuh cinta kepada firman Tuhan. Waktu yang saya habiskan dalam Surat Roma memulai sebuah perjalanan seumur hidup untuk mempelajari Alkitab secara pribadi, mengajarkannya kepada orang lain, dan membantu para wanita belajar bagaimana mempelajarinya sendiri. Firman Tuhan sangat penting bagi setiap orang percaya. Saya mulai mengajar di tempat saya pertama kali belajar -- kelompok kecil studi Alkitab wanita. Dari sana, saya mengajar di gereja dan juga di kelompok lingkungan sekitar.

Kemudian, ketika kami tinggal di Kanada, Tuhan mulai membawa orang-orang dewasa yang belum pernah ke gereja dan belum pernah mempelajari Alkitab ke jemaat kami. Setelah beberapa waktu mengajar para pencari ini menggunakan kurikulum yang saya temukan, Tuhan memimpin saya untuk menulis kurikulum sendiri yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadi, saya melakukannya. Itulah studi pertama yang pernah saya tulis. (Jika Anda tertarik, studi tersebut berjudul "Kebenaran Allah yang Terungkap: Dasar-Dasar Alkitabiah untuk Iman Kristen." Anda dapat mempelajarinya lebih lanjut melalui situs web saya atau melihatnya di Amazon.)

Dan karena saya mencintai Surat Roma ...

Ya, Surat Roma memegang tempat yang sangat penting dalam perjalanan iman pribadi saya. Namun, Surat Roma juga memiliki dampak rohani yang kuat bagi setiap orang percaya, bahkan bagi mereka yang sedang mencari Kristus untuk pertama kalinya.

Dari awal hingga akhir, Surat Roma merupakan penjelasan yang indah tentang Injil Yesus. Manusia telah jatuh dan terpisah dari Tuhan karena dosa kita. Namun, Tuhan dengan murah hati menyediakan penebusan dan pendamaian melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang penuh pengorbanan. Mereka yang berada "di dalam Kristus" dapat hidup dalam kemenangan dan kesalehan hari ini melalui Roh Kudus yang diam di dalam kita, yang memberikan kekuatan dan tuntunan ilahi bagi kehidupan sehari-hari.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Kathy Howard
Alamat artikel : https://www.kathyhoward.org/id-love-to-tell-you-my-story-with-jesus/
Judul asli artikel : I’d Love to Tell You My Story with Jesus
Penulis artikel : Kathy

Mulai PA Online sekarang!