Film klasik tahun 1987, "The Princess Bride", dibuka dengan seorang cucu yang sedang sakit dan dengan enggan mengizinkan Kakeknya membacakan sebuah buku berisi "duel pedang, pertempuran, penyiksaan, balas dendam, raksasa, monster, pengejaran, pelarian, cinta sejati, dan keajaiban."[1] Pada akhir film, anak itu begitu terhanyut hingga menginginkan lebih banyak lagi. Saat Kakek menutup buku dan bersiap pulang, sang cucu berkata, "Mungkin Kakek bisa datang lagi besok dan membacakannya lagi untukku."
Siapa yang tidak menyukai sebuah cerita yang bagus? Ketika sebuah kisah disampaikan dengan penuh keterampilan, kisah itu menarik perhatian kita, membangkitkan imajinasi, membawa kita masuk ke dalam adegan, dan mengundang kita merasakan apa yang dialami para tokohnya.
Di masyarakat yang melek huruf, anak-anak duduk di pangkuan orang tua mereka ketika mendengarkan cerita dibacakan. Ketika mereka mulai bisa membaca sendiri, mereka bergerak dari buku bergambar ke buku cerita, lalu ke buku anak yang sudah tersusun dalam bab-bab. Pembaca muda pada akhirnya mungkin akan beralih ke bagian nonfiksi di perpustakaan, tetapi kekuatan sebuah narasi tetap menjadi daya tarik utama hingga mereka dewasa -- baik melalui buku, teater, maupun film.
Di masyarakat lisan, anak-anak tumbuh dengan mendengarkan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita itu dituturkan dengan berbagai irama dan bentuk, entah berupa mitos atau melodi, epik atau elegi. Kisah-kisah tersebut menjaga kesinambungan budaya dan berfungsi "untuk menghibur, memberi informasi, dan menyebarkan tradisi serta nilai-nilai budaya."[2]
Cerita-cerita di Alkitab
Kisah Alkitab menuntut kita untuk menjadi pembaca yang aktif, yang berupaya mengidentifikasi bukan hanya bagaimana cerita-cerita itu terhubung dengan kisah besar, tetapi juga bagaimana kita sendiri berada di dalam kisah tersebut.
Alkitab berada di persimpangan dua dunia, sebuah "interaksi kompleks antara mentalitas lisan dan literat."[3] Di satu sisi, Alkitab merupakan karya sastra -- sebuah perpustakaan utuh yang terdiri dari enam puluh enam buku, ditulis dalam tiga bahasa oleh puluhan penulis selama ribuan tahun. Di sisi lain, para tokoh dan penyusun Alkitab hidup dalam budaya lisan, sehingga banyak teks ditulis untuk dibacakan atau dipentaskan.
Tidak mengherankan bila Alkitab dipenuhi begitu banyak kisah. Layaknya The Princess Bride, cerita-cerita itu penuh dengan "duel pedang, pertempuran, penyiksaan, balas dendam, raksasa, monster, pengejaran, pelarian, cinta sejati, dan mukjizat." Dan sering kali, kisah-kisah inilah yang pertama kali menarik seseorang kepada Alkitab.
Saat Anda memikirkan isi Alkitab, mungkin Anda merenungkan keagungan dan kehadiran Allah. Mungkin Anda mempertimbangkan misteri Tritunggal, kekuatan suara para nabi, makna penyerahan diri, atau anugerah kasih karunia.
Namun, lebih sering kita justru mengingat kisah-kisahnya: kisah penciptaan yang megah; Musa dan semak yang menyala; lembu emas; Yosua dan tembok Yerikho; Simson dan Delila; Daud dan Batsyeba; Elia menghadapi nabi-nabi Baal; Yesus yang menenangkan badai; hari Pentakosta; atau Paulus di jalan menuju Damaskus. Kisah-kisah inilah yang kita ceritakan kepada anak-anak ketika memperkenalkan mereka kepada Kitab Suci dan pelajaran yang Allah berikan melalui Kitab Suci.
Pesan Moral Cerita
Sayangnya, semua kisah itu kerap membuat kita gagal melihat cerita utama yang mengikat seluruh Alkitab. Pada tahun 2019, Phil Vischer -- pencipta VeggieTales -- menyesali bahwa fokusnya pada moralitas dalam kisah-kisah Alkitab justru tidak membawa anak-anak masuk ke dalam cerita besar tersebut. "Kita belum menjelaskan kepada anak-anak bahwa mereka adalah bagian dari cerita yang lebih besar. Injil terlalu sering dipersempit menjadi sekadar tips untuk pernikahan yang lebih baik, atau tips agar bisa menyelesaikan kuliah tanpa menjadi ateis."[4]
Kenyataannya, banyak orang memperlakukan Alkitab seperti buku panduan suci, mencari nasihat untuk mengendalikan amarah dan stres,[5] urusan bisnis,[6] hubungan dan kencan,[7] pendidikan,[8] peran gender,[9] kesehatan dan diet,[10] politik,[11] dan banyak hal lainnya.[12] Seperti yang dikatakan Vischer, "Jauh lebih mudah mengajarkan moralitas. Jauh lebih mudah menceritakan sebuah kisah Alkitab, menarik sebuah nilai moral darinya, lalu menutupnya dengan satu ayat."[13]
Namun, bukan demikian cara Alkitab dimaksudkan untuk berfungsi. Dalam karya pentingnya tentang otoritas Kitab Suci, N.T. Wright menegaskan bahwa "agar Alkitab memberi dampak seperti yang memang dimaksudkan, gereja harus mendengarkannya sebagaimana adanya, bukan memotong-motongnya untuk dijadikan sesuatu yang lain."[14] Maka, apa sebenarnya dampak yang dimaksudkan Alkitab? Dan bagaimana kita menghindari memperlakukan Alkitab hanya sebagai kumpulan cerita pendek yang sarat pelajaran moral?
Untuk pertanyaan pertama, Peter Enns menyatakan bahwa "tujuan utama Kitab Suci adalah agar gereja menyantap dan menghayati isinya, sehingga semakin memahami siapa Allah, apa yang telah Dia lakukan, dan apa artinya menjadi umat-Nya -- umat yang ditebus melalui Anak-Nya yang tersalib dan bangkit."[15] Untuk pertanyaan kedua, sangat penting bagi kita memahami Alkitab sebagai satu kisah yang utuh, bukan hanya kumpulan cerita terpisah atau ayat-ayat hafalan.
Alkitab sebagai Cerita
Jujur saja, membaca Alkitab sebagai satu kisah yang utuh tidak selalu terasa alami bagi banyak dari kita. Kita telah lama dibentuk oleh anggapan bahwa Alkitab adalah kumpulan cerita dan "ayat-ayat kehidupan." Selain itu, cara penyajian kisah dalam Alkitab sering kali membuat pembaca kasual merasa kesulitan mengikuti alurnya. Ada bagian-bagian yang tampak terputus, ada pengulangan, ada isyarat tentang hal-hal yang akan datang, gangguan sejarah, dan adegan yang sekilas terlihat tidak saling berkaitan.[16] Namun, justru ketidakteraturan itu membuat memahami keseluruhan kisah Alkitab menjadi semakin penting, karena kisah Alkitab jauh lebih besar daripada sekadar gabungan kisah-kisah di dalamnya.
Mengenali kisah besar ini bukan sekadar untuk membantu kita memahami bagian-bagiannya atau memberi arahan praktis sehari-hari. Kita dipanggil untuk mempelajarinya karena kisah inilah kisah gereja -- dan kisah kita sendiri.
Alkitab adalah kisah tentang Yahweh dan Adam, tentang anak yang hilang dan Bapa surgawi yang penuh kasih; tentang manusia yang memberontak dan Allah yang terus menunjukkan anugerah-Nya. Narasi ini dimulai di Eden dan berlanjut hingga Yerusalem Baru berdiri dengan kemegahannya. Ini adalah satu kisah yang menyeluruh. Dan jika Anda adalah seorang percaya, ini adalah kisah Anda.[17]
Kisah Kristen tidak dimulai di Injil Matius dan berakhir di kitab Wahyu. Kisah itu dimulai pada penciptaan dan terus berlanjut melalui kehidupan gereja. Ketika kita memahami tempat kita dalam kisah ini, kita mengetahui bagaimana seharusnya kita mengambil bagian di dalamnya. Seperti yang dinyatakan Josh McNall dengan indah, "jika kita ingin bertindak dengan baik, kita harus mengetahui naskahnya -- dan naskah itu adalah Kitab Suci."[18]
Cerita Alkitab
Naskah besar itu dimulai ketika Allah berfirman dan menciptakan alam semesta, lalu memenuhi ciptaan itu dengan kehidupan: ikan di laut, burung di udara, dan segala binatang di darat. Allah menyempurnakan karya penciptaan-Nya dengan membentuk manusia, Adam, menurut gambar-Nya, lalu mengembuskan napas kehidupan ke dalam diri mereka. Sebagai pembawa citra Allah, Adam dipanggil untuk mewakili Allah di dunia, menjadi rekan Allah dalam memerintah wilayah baru yang disebut bumi. Namun, ketika Adam menghadapi pilihan antara hidup dan mati, dia memilih jalan kematian dengan memberontak terhadap Allah demi ambisi menjadi seperti Dia. Pergulatan antara hidup dan mati, antara berkat dan kutuk, menjadi panggung bagi sisa keseluruhan kisah Alkitab.
Hubungan antara Allah dan Adam pun terputus. Tanggapan Allah adalah memulai bentuk hubungan baru yang disebut perjanjian -- pertama dengan Nuh (Kejadian 9), lalu dengan Abraham (Kejadian 15), Ishak dan Yakub (Keluaran 2:24), dan Musa (Ulangan). Setelah Israel menjadi kerajaan, Allah membuat perjanjian dengan keluarga Daud (2 Samuel 7), menempatkan kembali perjanjian Musa dalam konteks kerajaan yang baru berdiri itu.
Perjanjian, dalam bentuk yang paling sederhana, adalah suatu kesepakatan yang mengikat dua pihak. Pada masa itu, kedua pihak lazimnya memotong seekor hewan menjadi dua bagian, berjalan di antara potongan-potongan itu, dan bersumpah bahwa bila salah satu melanggar perjanjian, mereka akan bernasib seperti hewan itu (Yeremia 34:18). Ritual ini menegaskan betapa pentingnya komitmen dalam hubungan perjanjian: ketaatan membawa kehidupan, tetapi ketidaktaatan membawa kematian.
Dalam perjanjian Allah dengan Israel, ketentuannya jelas: (1) hanya setia kepada Allah dan (2) memperlakukan sesama sebagai pembawa citra Allah -- apa yang oleh para penulis Perjanjian Lama disebut sebagai keadilan dan kebenaran. Karena itu, kisah Alkitab adalah kisah tentang hubungan perjanjian tersebut. Berlandaskan kasih setia Allah (hesed), Allah berkomitmen untuk tetap setia pada perjanjian itu (Mazmur 136), sekalipun para mitra perjanjian-Nya berkali-kali gagal. Bagi umat Allah, komitmen terhadap hubungan ini menuntut keterlibatan mendalam, bukan sekadar menjalankan ritual ibadah dengan benar. Keadilan dan kebenaran mengharuskan umat Allah masuk ke dalam misi-Nya: menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yesaya 49:1–6) dan mengundang mereka yang tertindas dan terbuang untuk turut serta sebagai bagian dari komunitas iman (Yesaya 56:1–8).
Cerita ini menggambarkan Allah yang tanpa henti mengejar umat yang berkecenderungan melanggar perjanjian. Berulang kali, Allah mengangkat para nabi untuk menuntun umat-Nya kembali kepada perjanjian itu. Para bijak, penyair mazmur, dan pujangga memuji keajaiban Allah, merenungkan jalan hikmat dan bahaya kebodohan, serta berseru atas ketidakadilan dan ketidakbenaran yang tampaknya terjadi di antara umat Allah maupun para pembawa citra-Nya. Setiap halaman dalam kisah ini menantang kita untuk menilai apakah komunitas perjanjian benar-benar hidup sesuai ketentuan perjanjian tersebut. Apakah mereka mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan? Apakah mereka menerapkan keadilan dan kebenaran kepada sesama pembawa citra-Nya? Dan lebih daripada itu, kisah ini mendesak kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama kepada diri kita sendiri.
Bukti kegagalan mereka tidak dapat disangkal. Mitra perjanjian Allah telah gagal dengan begitu tragis. Mereka memilih jalan kematian, bukan kehidupan. Namun, alih-alih membatalkan perjanjian itu, Allah justru memperbaruinya. Dia merancang sebuah perjanjian baru -- perjanjian yang ditulis di hati umat-Nya (Yeremia 31:31–34). Dalam Perjanjian Baru, perantaranya bukan lagi seorang nabi atau imam, tetapi Adam yang terakhir (1 Korintus 15:45); bukan sekadar pembawa citra Allah (Kejadian 1:26–27), tetapi gambaran Allah itu sendiri (Kolose 1:15). Ibadah yang sejati tidak lagi diselesaikan melalui darah kambing dan domba, tetapi melalui darah Anak Domba (Ibrani 9:11–22). Di bawah Perjanjian Baru, Anak Domba Allah mengalahkan Kematian dengan tuntas (1 Korintus 15:26), dan memberikan hidup yang berlimpah serta kekal (Yohanes 10:10).
Meskipun demikian, Perjanjian Baru tetaplah sebuah perjanjian. Itu berarti Perjanjian Baru tetap menuntut ketaatan penuh (Lukas 14:15–33). Perjanjian Baru tetap menuntut keadilan dan kebenaran (Matius 25:31–46; Yakobus 2:14–17). Perjanjian Baru juga tetap menuntut agar umat Allah menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Matius 5:14–16) dan mengundang mereka yang tertindas serta terbuang untuk turut serta dalam misi ini sebagai bagian dari keluarga Allah (Matius 11:5).
Seperti yang Diceritakan
Sebagai mitra perjanjian dengan Allah yang setia untuk selamanya, gereja kini diundang -- bahkan didorong -- untuk mengambil bagian dalam misi Allah dengan masuk ke dalam kisah Allah. Kisah Alkitab "adalah kisah misi Allah. Ini adalah kisah yang utuh dengan klaim universal. Namun, ini juga kisah yang mengafirmasi kemanusiaan dalam segala keragamannya. Ini adalah kisah universal yang memberi tempat di bawah matahari bagi seluruh kisah kecil,"[19] sebab kisah itu memberi makna dan tujuan bagi semuanya. Kisah Alkitab menuntut kita untuk menjadi pembaca yang aktif, yang berupaya mengidentifikasi bukan hanya bagaimana cerita-cerita itu terhubung dengan kisah besar, tetapi juga bagaimana kita sendiri berada di dalam kisah tersebut.
Kisah-kisah Alkitab memang memikat imajinasi kita dengan alur yang kuat dan prinsip-prinsip yang bermakna.
Namun, kisah utama Alkitab jauh lebih penting untuk terus kita ceritakan, ulangi, pentaskan, dan tanamkan dalam hati. Kisah Alkitab mengundang para pembawa citra Allah untuk masuk ke dalam hubungan perjanjian dengan Allah yang selalu setia. Saat kita menjumpai kisah ini, kita ditantang untuk memeriksa motif, niat, dan terutama kesetiaan kita. Seperti Israel kuno, kita terus berhadapan dengan pilihan mengenai tuhan mana yang akan kita layani (Yosua 24:15). Meskipun kematian telah dikalahkan, komitmen kita terhadap perjanjian ini diuji di setiap momen -- apakah kita akan dibentuk oleh daya tarik dan aliansi dunia, ataukah kita akan mempersembahkan diri sebagai korban yang kudus bagi Allah (Roma 12:1–2).
Seperti Kakek dalam "The Princess Bride", mungkin kita pun perlu kembali dan membacanya lagi esok hari.
Catatan
[1] "The Princess Bride", disutradarai dan diproduseri oleh Rob Reiner (Twentieth Century Fox, 1987).
[2] "Storytelling and Cultural Traditions," https://www.nationalgeographic.org/article/storytelling-and-cultural-traditions/.
[3] Susan Niditch, "Oral World and Written Word: Ancient Israelite Literature, Libraries of Ancient Israel" (Louisville, Westminster John Knox, 1996), 133.
[4] Kara Bettis, "Phil Vischer Wants More Gospel in the Veggies," dalam Christianity Today (9/9/2019), https://www.christianitytoday.com/ct/2019/september-web-only/phil-vischer-wants-more-gospel-veggietales.html
[5] Wayne A. Mack, "Anger and Stress Management, God’s Way" (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2017).
[6] Larry Burkett, "Business by the Book: The Complete Guide of Biblical Principles for the Workplace" (Nashville: Thomas Nelson, 1988).
[7] Greg Laurie, "God’s Design for Christian Dating" (Kerygma, 2011).
[8] Glen Schultz, "Kingdom Education: God’s Plan for Educating Future Generations", 2nd ed. (Nashville, Lifeway, 2013).
[9] John Piper dan Wayne Grudem (eds), "Recovering Biblical Manhood and Womanhood: A Response to Evangelical Feminism", Edisi Revisi (Wheaton, IL: Crossway, 2021).
[10] Rick Warren, Daniel Amen, dan Mark Hymen, "The Daniel Plan: 40 Days to a Healthier Life" (Grand Rapids: Zondervan, 2013).
[11] Wayne Grudem, "Politics According to the Bible: A Comprehensive Resource for Understanding Modern Political Issues in Light of Scripture" (Grand Rapids: Zondervan, 2010).
[12] Charles R. Swindoll, "The Owner’s Manual for Christians: The Essential Guide for a God-Honoring Life" (Nashville, Thomas Nelson, 2011).
[13] Kara Bettis, "Phil Vischer Wants More Gospel in the Veggies."
[14] N. T. Wright, "Scripture and the Authority of God: How to Read the Bible Today" (New York: HarperOne, 2005), 25.
[15] Peter Enns, "Inspiration and Incarnation: Evangelicals and the Problem of the Old Testament" (Grand Rapids, Baker Academic, 2005).
[16] Menambah rasa ketidakberkesinambungan itu adalah nama-nama yang sulit diucapkan, catatan silsilah, daftar sensus, dan berbagai katalog hukum kuno.
[17] Sandra L. Richter, "The Epic of Eden: A Christian Entry into the Old Testament" (Downers Grove, IL: IVP, 2008), 15.
[18] Joshua McNall, "Long Story Short: The Bible in Six Simple Movements" (Franklin, TN: Seedbed, 2018), 9.
[19] Christopher J. H. Wright, "The Mission of God: Unlocking the Bible’s Grand Narrative" (Downers Grove, IL: IVP Academic, 2006), 47.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | DAI |
| Alamat artikel | : | https://daintl.org/blog/articles/biblicalstudies/bible-stories-and-the-bibles-story/ |
| Judul asli artikel | : | Bible Stories and the Bible’s Story |
| Penulis artikel | : | Dr. Kyle Greenwood |
- Log in to post comments