Pertumbuhan Rohani dan Kitab Suci
Tanyakan kepada banyak orang Kristen dari berbagai usia dan tingkat kedewasaan rohani tentang apa yang mereka yakini sebagai cara terbaik untuk bertumbuh sebagai seorang Kristen, dan jawaban yang paling umum adalah "berdoa dan membaca Alkitab." Dan itu adalah jawaban yang baik. Seorang Kristen yang bertumbuh secara rohani terus berkembang dalam iman, harapan, dan kasih kepada Allah dan sesama (1 Korintus 13:13; Matius 22:36-40). Doa dan pembacaan Alkitab merupakan dasar pertumbuhan rohani setiap orang percaya.
Dalam buku "Move: What 1,000 Churches Reveal About Spiritual Growth", para penulis, Hawkins dan Parkinson, menggambarkan penelitian yang mereka lakukan terhadap 250.000 orang di 1.000 gereja. Studi ini meneliti 50 faktor berbeda yang memengaruhi pertumbuhan rohani -- yang mereka definisikan sebagai mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Temuan mereka?
Tidak ada yang memiliki dampak lebih besar pada pertumbuhan rohani daripada refleksi atas Alkitab. Jika gereja hanya dapat melakukan satu hal untuk membantu orang-orang di semua tingkat kematangan rohani bertumbuh dalam hubungan mereka dengan Kristus, pilihan mereka jelas. Mereka akan menginspirasi, mendorong, dan membekali jemaat untuk membaca Alkitab -- khususnya untuk merenungkan Alkitab demi menemukan makna bagi hidup mereka. Alkitab adalah katalisator paling kuat untuk pertumbuhan rohani. Kekuatan Alkitab dalam mendorong pertumbuhan rohani tidak tertandingi oleh apa pun yang telah ditemukan.

Mengapa Kitab Suci begitu penting bagi pertumbuhan rohani? Kitab Suci hidup dan aktif (Ibrani 4:12-13), memberikan kebebasan (Yakobus 1:25), menyingkapkan kebenaran (Mazmur 19:7-11), dan membekali kita untuk pelayanan (2 Timotius 3:16-17). Semua ini dan lebih lagi adalah benar, tetapi mungkin alasan yang paling mendasar bersumber dari deskripsi sederhana bahwa Alkitab adalah "firman Tuhan." Seperti yang dikatakan Timothy Ward, "Bertemu dengan kata-kata Kitab Suci adalah bertemu dengan Allah yang bertindak" (Timothy Ward, "Words of Life", 2009). Setiap kali kita datang kepada Alkitab, kita dapat bertemu dan mengenal Allah. Berinteraksi dengan Alkitab adalah proses relasional, sarana utama melalui yang Allah memakai untuk berinteraksi dengan orang percaya.
Pada akhirnya, bukankah memiliki hubungan yang dalam, bermakna, dan hidup dengan Allah adalah sesuatu yang Anda rindukan dalam hidup? Itulah tujuan kita diciptakan.
Membaca untuk Mengenal Allah -- Sebuah Proses Relasional
J. I. Packer, dalam bukunya "Knowing God", menulis bahwa memiliki hubungan dengan Allah adalah tujuan utama kita. "Untuk apa kita diciptakan? Untuk mengenal Allah. Apa tujuan hidup kita? Untuk mengenal Allah. Apa kehidupan kekal yang diberikan Yesus? Untuk mengenal Allah. Apa hal terbaik dalam hidup? Untuk mengenal Allah. Apa yang paling menyenangkan Allah dalam diri manusia? Pengenalan tentang diri-Nya." Alkitab adalah sarana melalui yang kita bertemu dengan Allah, mengenal dan menikmati Dia, serta memenuhi tujuan hidup kita.
Eugene Peterson, dalam buku "Eat This Book", menyatakan bahwa keterlibatan dengan Kitab Suci (atau "pembacaan rohani") adalah proses relasional: "Yang ingin saya tekankan adalah bahwa tulisan rohani -- tulisan yang berasal dari Roh -- membutuhkan pembacaan rohani, yaitu pembacaan yang menghormati kata-kata sebagai sesuatu yang kudus, kata-kata sebagai sarana dasar untuk membentuk jaringan hubungan yang rumit antara Allah dan manusia, antara segala sesuatu yang terlihat dan tak terlihat." Proses mendengarkan atau membaca Alkitab harus dilakukan dengan penuh perhatian karena Anda sedang memasuki hadirat Allah yang kudus.
Chris Webb, dalam "The Fire of the Word", juga menulis bahwa berinteraksi dengan Alkitab adalah proses relasional. Chris menjelaskan bahwa Alkitab adalah "tempat yang tipis" -- yaitu tempat yang menggambarkan keadaan ketika batas antara surga dan bumi seakan menipis. Kitab Suci adalah "tempat ketika batas antara surga dan bumi telah terhapus ... Ketika kita membuka Alkitab, itu tidak berkata kepada kita, 'Dengarkan: Allah ada di sana!' Sebaliknya, suara Roh Kudus berbisik melalui setiap baris, 'Lihat: Aku ada di sini!'" Alkitab adalah firman Tuhan yang diilhamkan (2 Timotius 3:16). Melalui Alkitab, Allah berbicara kepada kita; melalui Alkitab, Roh Kudus menunjukkan kepada kita siapa Allah sebenarnya. Seiring kita semakin mengenal Dia, kita diubah sedikit demi sedikit menjadi serupa dengan Dia
Dr. Fergus Macdonald (dari Taylor University Center for Scripture Engagement) mencatat bahwa setiap Pribadi Tritunggal terlibat dalam proses relasional keterlibatan dengan Kitab Suci. "Adalah Roh Kudus yang memungkinkan teks berbicara untuk dirinya sendiri; ketika teks berbicara, yang terdengar adalah suara Allah Bapa; dan adalah Yesus Kristus yang melalui teks membuat klaim unik kepada pembaca dan pendengar." Dengan membaca firman Tuhan yang tertulis, kita sebenarnya menemukan Firman-Nya yang hidup, yaitu Yesus Kristus. Mari, temui Allah dalam Kitab Suci!
Apakah Anda Tahu Caranya?
Apakah ada yang pernah mengajarkan Anda bagaimana membaca Alkitab untuk bertumbuh secara rohani? Mungkin Anda pernah disuruh membaca Alkitab, tetapi besar kemungkinan Anda tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana cara membacanya. Anda tidak menerima instruksi yang jelas tentang proses membaca, sehingga Anda mungkin pernah menghabiskan banyak waktu merasa bingung di dalam Alkitab, padahal beberapa panduan sederhana dapat membawa dampak yang mendalam bagi kehidupan rohani Anda. Kami ingin Anda belajar bagaimana berinteraksi dengan Alkitab untuk mengenal Allah, bukan hanya mengetahui tentang Allah.
Keterlibatan dengan Kitab Suci
Apa itu keterlibatan dengan Alkitab? Dr. Fergus Macdonald menulis, "Keterlibatan dengan Alkitab adalah interaksi dengan teks Alkitab dengan cara yang memberikan kesempatan yang cukup bagi teks tersebut untuk berbicara sendiri melalui kuasa Roh Kudus, memungkinkan pembaca dan pendengar untuk mendengar suara Allah dan menemukan sendiri klaim unik yang Yesus Kristus ajukan kepada mereka." (Lihat artikel "Defining Scripture Engagement".)
Alkitab sendiri mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita mendekati firman Tuhan. Kata-kata yang digunakan Alkitab meliputi "merenungkan" (Mazmur 1:2; Yosua 1:8), "memikirkan" (2 Timotius 2:7), "meneliti" (Yakobus 1:25), "tinggal" (Kolose 3:16), "merenungkan dengan saksama" (Mazmur 119:95), "memerhatikan" (Yeremia 2:31), dan bahkan "memakan" (Yeremia 15:16; Wahyu 10:9-11). (Lihat artikel "Scripture Engagement Bible Passages".) Frasa yang merangkum seluruh proses ini adalah "keterlibatan dengan Kitab Suci."
Alkitab adalah sarana melalui yang kita bertemu dengan Allah, mengenal dan menikmati Dia, serta memenuhi tujuan hidup kita.
Mungkin beberapa gambaran dapat membantu menjelaskan makna "keterlibatan dengan Kitab Suci." Salah satu istilah yang digunakan Alkitab untuk menggambarkan cara mendekatinya adalah kata "merenungkan." Dalam Mazmur 1, kita diberi tahu bahwa orang yang diberkati merenungkan hukum Tuhan siang dan malam. Selain itu, dalam Mazmur 63:6 kita membaca, "Ketika aku mengingat akan Engkau di tempat tidurku, aku merenungkan Engkau sepanjang waktu jaga malam (AYT)..."
Eugene Peterson, dalam bukunya "Eat This Book", menjelaskan bahwa kata Ibrani yang digunakan di sini untuk "merenungkan" adalah hagah, kata yang sama yang digunakan dalam Yesaya 31:4 untuk menggambarkan singa lapar yang menggeram di atas mangsanya. Salah satu cara kita mendekati Alkitab adalah dengan merenungkannya atau "menggeram" di atasnya. Bayangkan seekor singa lapar yang, dengan seluruh kekuatannya, fokus, serius, dan terkonsentrasi pada setiap bagian mangsanya, menggeram karena kenikmatan dan intensitas saat dia makan. Kita perlu datang kepada Alkitab dengan tujuan dan kesungguhan seperti itu, ingin menangkap setiap kata yang mungkin Tuhan sampaikan untuk menyehatkan jiwa kita yang lapar.
Terlalu sering kita mendekati Alkitab dengan santai, tidak benar-benar lapar, dan tanpa harapan bahwa kita akan menerima apa yang kita butuhkan. Firman Tuhan adalah makanan yang sangat diperlukan oleh jiwa kita. Terlalu sering kita berakhir dalam keadaan "anoreksia rohani" karena kita mengabaikan firman Tuhan (Ulangan 8:3; Matius 4:4).
Metafora lain yang digunakan untuk menggambarkan keterlibatan dengan Kitab Suci adalah "mengunyah kembali." Bayangkan seekor sapi yang mengunyah rumput sepanjang hari. Dibutuhkan banyak pengunyahan untuk mendapatkan nutrisi dari rumput, sehingga sapi mengunyahnya berulang kali, membawa kembali rumput yang sudah ditelan ("cud") dari salah satu dari empat bagian perutnya, lalu mengolahnya kembali sedikit demi sedikit. Sapi membutuhkan nutrisi itu untuk hidup, sehingga dia dengan sabar dan perlahan "mengunyah kembali" apa yang dibutuhkannya. Demikian juga, kita perlu dengan perlahan dan berulang kali "mengunyah" firman Tuhan sepanjang hari, menyadari bahwa berada bersama Allah memberi kita hidup. Membaca sekilas satu ayat atau satu bagian Alkitab sekali seminggu tidaklah cukup. Bagian itu perlu dihadapi berulang kali agar kita dapat menikmatinya sepenuhnya dan diberi makan secara rohani olehnya.
Gagasan "memakan" firman Tuhan ini memiliki dasar dalam beberapa ayat Alkitab, termasuk Yeremia 15:16, Yehezkiel 3:1-3, dan Wahyu 10:9-11. Penting untuk diingat bahwa ketika Rasul Yohanes "memakan" firman Tuhan dalam Wahyu 10:9-10, firman itu terasa "manis" di mulutnya tetapi menjadi "pahit" di perutnya. Firman Tuhan, meskipun selalu benar dan baik, tidak selalu mudah diterima karena firman itu memanggil kita untuk taat dan percaya. Bertemu dengan Allah bukanlah proses yang "jinak"; Allah sedang melatih kita bagi Kerajaan-Nya -- dan pelatihan selalu melibatkan kerja dan perubahan.
Kesimpulan
Lalu, apa itu keterlibatan dengan Kitab Suci? Itu adalah cara mendengarkan dan membaca Alkitab dengan kesadaran bahwa melalui Kitab Suci kita terutama bertemu dengan Allah. Ini mencakup merenungkan, memikirkan, merenung, tinggal dalam, dan mempertimbangkan Kitab Suci, sehingga terjadi "keterlibatan yang transformatif" dengan Allah. Selain istilah "keterlibatan dengan Kitab Suci," beberapa frasa lain yang digunakan untuk menyampaikan gagasan serupa antara lain "perhatian suci", "pembacaan rohani," "pembacaan partisipatif," "pembacaan yang membentuk," dan "pembacaan eksistensial".
Akan sangat membantu untuk memahami bahwa keterlibatan dengan Kitab Suci tidak persis sama dengan mempelajari Alkitab; keterlibatan dengan Kitab Suci merupakan pelengkap bagi studi Alkitab . Meskipun keduanya diperlukan untuk pertumbuhan rohani, situs web ini terutama menyoroti praktik keterlibatan dengan Kitab Suci.
Mendengarkan dan membaca Alkitab tentu lebih baik daripada tidak melakukan apa pun, tetapi keterlibatan dengan Alkitab bertujuan mengoreksi pendekatan umum yang ternyata tidak memadai terhadap Alkitab. Terlalu banyak orang mendekati Alkitab dengan cara yang kurang tepat, lalu berhenti membaca karena mengira ada sesuatu yang salah dengan Alkitab, atau dengan diri mereka sendiri. Dengan sedikit pelatihan dan dorongan, sifat Alkitab yang mengubahkan dapat dialami oleh siapa saja.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Bible Gateway |
| Alamat artikel | : | https://www.biblegateway.com/resources/scripture-engagement/main/what-is-scripture-engagement |
| Judul asli artikel | : | Scripture Engagement: What Is It? |
| Penulis artikel | : | Bible Gateway |
- Log in to post comments