Sorotan pada Sophie
Pada suatu malam di awal September, saya menelepon keponakan saya yang berusia enam tahun, Sophia, dan meminta dia untuk menceritakan sebuah kisah. Secara khusus, saya memintanya untuk menceritakan kisah tentang Bayi Yesus.
Setelah sejenak terdiam untuk mengumpulkan pikirannya -- sesuatu yang wajar, mengingat tahun ajaran baru saja dimulai, daun-daun masih hijau dan menempel di pohon, dan dia mungkin belum banyak memikirkan cerita ini selama sembilan bulan terakhir -- dia pun mulai bercerita:
"Maria adalah ibu. Yusuf adalah ayah. Yesus adalah bayi dan dia mencintai kita."
"Maria adalah ibu. Yusuf adalah ayah. Yesus adalah bayi dan dia mencintai kita. Dan ada malaikat di atas (set kelahiran Yesus) yang bernyanyi, ‘Kami mencintai Engkau, Tuhan Yesus, dan memohon agar Engkau tetap dekat dengan kami selamanya dan mencintai kami. Berkatilah semua anak-anak yang terkasih dalam perawatan-Mu yang lembut dan bawalah mereka ke surga untuk hidup bersama-Mu di sana.’"
Pada usia enam tahun, Sophia sudah mengenal kisah tentang Bayi Yesus, atau setidaknya tokoh utamanya. Pada usia enam tahun pula, dia sudah mampu menceritakan kisah ini sebagai kisahnya sendiri. Dia tahu bahwa Yesus mencintai dia. (Ibunya meyakinkan saya bahwa, pada puncak musim Natal, dia juga tahu bahwa Yesus adalah Tuhan.) Dia tahu bahwa Yesus ingin memberkati anak-anak, dan bahwa berada dekat dengan Yesus adalah sesuatu yang baik dan istimewa.
Dalam penuturan seorang anak, ketidakhadiran dan penambahan mungkin tampak lebih mencolok. Namun, jika kita jujur, masing-masing dari kita mendekati kisah ini seperti kita mendekati setiap kisah lain: dengan cara yang mencakup sekaligus mengesampingkan hal-hal tertentu, sesuai dengan kemampuan, preferensi, dan niat kita.
Para penulis Kitab Injil pun tidak berbeda dalam hal ini. Markus, ketika menulis catatan paling awal tentang peristiwa-peristiwa ini, bergerak cepat menuju inti persoalan dan melewatkan narasi kelahiran sepenuhnya. Yohanes, yang menulis jauh kemudian, lebih tertarik pada makna dan penafsiran daripada pada narasi faktual. Karena itu, sebagian besar pemahaman kita tentang kisah kelahiran Yesus bergantung pada Matius dan Lukas.
Sebagian besar pertunjukan gereja mengandalkan potongan-potongan narasi dari setiap Kitab Injil untuk membentuk satu kisah Natal yang utuh. Hasilnya terasa akrab, lengkap, dan tentu saja tidak keliru. Namun, ada sesuatu yang hilang dalam penyusunan semacam ini.
Apa yang akan kita dengar dengan kejernihan baru jika, untuk sesaat, kita memberikan sorotan sepenuhnya kepada Lukas, lalu memberikan perhatian yang sama kepada Matius?
Kita jarang mendengar Matius menceritakan kisah ini sebagai kisahnya sendiri. Kita juga jarang menghormati Lukas dengan membiarkannya menyampaikan kisah ini dengan caranya yang khas. Saya penasaran, apa yang akan kita dengar dengan kejernihan baru jika masing-masing dari mereka diberi ruang untuk berbicara dengan suaranya sendiri?
Sorotan pada Lukas
Dr. Lukas memulai ceritanya dengan memperkenalkan kredensialnya: "setelah menyelidiki segala sesuatu dengan cermat sejak awal, aku pun memutuskan untuk menulis sebuah catatan yang teratur."
Pertama, malaikat menampakkan diri kepada Zakharia, dan Elisabet mengandung seorang anak. Kemudian malaikat yang sama -- yang disebutkan dalam kedua kisah -- mengumumkan kepada Maria bahwa dia akan melahirkan Anak Allah. Maria dan Elisabet bertemu untuk berbagi kisah tentang kehamilan mereka. Maria bernyanyi, Yohanes Pembaptis lahir. Zakharia bernyanyi, dan Yesus pun lahir.
Berkat Lukas, kita tahu bahwa Yesus lahir pada zaman Kaisar Augustus, bahwa Yusuf dan Maria bepergian ke kota kecil Betlehem untuk didata dalam sensus, dan bahwa bayi itu dibaringkan di dalam palungan. Menurut Lukas, para gembala menjaga kawanan domba mereka pada malam hari, dan suara malaikat-malaikat terdengar dari tempat yang tinggi.
Akhirnya, dalam catatan Lukas, bayi itu dibawa ke Bait Suci untuk menggenapi penglihatan Simeon dan Hana yang setia, dan supaya Yusuf serta Maria melakukan "segala sesuatu yang diperintahkan oleh Hukum Tuhan" sebelum kembali ke Nazaret, tempat Yesus "tumbuh dan menjadi kuat," serta dipenuhi dengan "kebijaksanaan dan kasih karunia Allah." Teliti dan teratur memang, Dr. Lukas!
Mengapa suara ini? Di luar keinginannya untuk menyusun laporan yang teliti dan teratur, Lukas juga memiliki kisah khusus yang ingin dia sampaikan. Lukas secara konsisten menulis dengan perhatian pada mereka yang berada di pinggiran kerumunan. Dia menulis bagi pendengar non-Yahudi, orang-orang yang tidak diizinkan mendekati Bait Suci.
Lukas sangat peduli dan bersemangat terhadap mereka yang terpinggirkan, yang tersisih, yang dipandang tidak masuk hitungan dalam masyarakat -- orang-orang yang bertanya-tanya apakah kisah yang megah dan agung ini sungguh-sungguh juga ditujukan bagi mereka. Bagi mereka inilah Lukas membuat sejumlah pilihan penafsiran yang spesifik:
1. Malaikat menonjol dalam kisah Lukas. Utusan-utusan surga ini turun ke bumi untuk menyingkapkan kedekatan hadirat Allah yang menyertai kita.
2. Pengalaman perempuan sangat ditekankan dalam kisah Lukas. Berdasarkan apa yang kita ketahui dari Matius, Maria tampaknya bersin dengan keras dan tiba-tiba Bayi Yesus pun muncul -- sempurna, kemerahan, dan siap dibungkus jubah ungu sambil menanti kedatangan para Majus. Lukas, seorang dokter, tahu bahwa pengalaman persalinan seorang perempuan perlu disebutkan untuk kembali menegaskan kedekatan Allah, kenyataan daging dan darah Allah yang bersama kita.
3. Lukas memasukkan kisah para gembala -- orang-orang biasa, tidak istimewa -- yang berjumpa dengan pasukan surga yang luar biasa. Orang-orang biasa yang tidak menyangka, bertemu dengan Juru Selamat yang baru lahir, Mesias, dan TUHAN. Orang-orang biasa yang tidak menyangka, lalu kembali menjalani hidup dengan membawa sebuah kisah baru.
4. Lukas menulis setelah gereja -- Jalan Pengikut Kristus -- secara resmi terpisah dari Yudaisme. Kehadiran adegan di Bait Suci mengingatkan kita bahwa selalu ada kesinambungan antara kesetiaan Hana dan Simeon yang mengarah ke depan dengan kesetiaan yang hidup di bawah bayang-bayang palungan, salib, dan kubur yang kosong.
Lukas 19:10 sering dipahami sebagai pernyataan tesis Injil Lukas: “Sebab, Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Di sini, seperti di sepanjang narasi Lukas, penyertaan orang luar dan orang-orang yang tersisih menarik mereka yang terpinggirkan menuju pusat Injil.
Kisah tentang Anak Manusia yang lahir melalui penderitaan seorang perempuan, diumumkan oleh malaikat, dan dipuji oleh para gembala biasa diceritakan oleh Lukas dengan sengaja. Sorotan diarahkan pada hadirat yang mengagumkan, imanensi, dan sifat Allah yang “beserta kita” di dalam Yesus Kristus.
Lukas menahan argumen puncaknya hingga peristiwa pembaptisan Yesus. Setelah Roh Kudus turun ke atas Yesus dan suara dari surga menyatakan, “Engkau adalah Anak-Ku,” Lukas menyertakan silsilah yang menelusuri garis keturunan Yesus hingga kepada “anak Set, Anak Adam, Anak Allah.”
Lukas ingin memastikan bahwa kita tahu Bayi Yesus ini adalah salah satu dari kita. Bayi Yesus ini adalah untuk kita. Bayi Yesus ini adalah Allah yang beserta kita.
Sorotan pada Matius
Matius memulai tepat di tempat Lukas berhenti -- dengan silsilah Yesus Kristus. Di dalam silsilah ini tersirat tesis Matius, yaitu kisah tentang “Yesus Sang Mesias, anak Daud, anak Abraham.” Perhatikan dengan saksama -- setiap detail yang disertakan atau dihilangkan sejak titik ini bertujuan untuk meneguhkan klaim tersebut.
Silsilah itu menelusuri keluarga Yusuf kembali kepada Raja Daud dan bapa Abraham. Segera setelah itu, narasi kelahiran Yesus dimulai, dengan fokus utama pada pergumulan dan keputusan Yusuf di tengah kehamilan Maria yang tampaknya mustahil.
Seorang malaikat yang tidak disebutkan namanya menampakkan diri dan memberi tahu Yusuf apa yang harus dia lakukan. Malaikat itu menghubungkan pengalaman Yusuf dengan nubuat Perjanjian Lama tentang kelahiran Mesias yang akan datang dari seorang perawan. Setelah itu, para raja dari Timur membawa persembahan dan menempuh perjalanan panjang. Mereka memasuki wilayah kekuasaan Herodes dan meminta izin untuk mencari “yang telah lahir sebagai Raja orang Yahudi.”
Setelah melihat dan menyembah Yesus, para Majus kembali ke negeri mereka, Yusuf dan Maria melarikan diri ke pengasingan, dan Raja Herodes membiarkan darah anak-anak tak bersalah mengalir di jalan-jalan Betlehem.
Sebab, Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
Mengapa suara ini? Matius memiliki sebuah klaim yang harus dia pertahankan -- bahwa anak ini, pada kenyataannya, adalah Mesias, anak Daud, anak Abraham. Inilah kisah khusus yang ingin Matius sampaikan. Sementara Lukas menoleh ke pinggiran kerumunan, Matius justru memberi perhatian pada mereka yang paling dekat dengan kisah ini, agar mereka tidak melewatkannya.
Matius menulis bagi audiens Yahudi yang terdidik dan terlatih dengan baik, sebuah audiens yang pengharapannya akan Mesias telah dibangun dari generasi ke generasi, dan yang membutuhkan bukti yang jelas dan tak terbantahkan bahwa kisah ini -- pribadi ini -- keselamatan ini -- adalah apa yang selama ini mereka nantikan.
Oleh karena itu, bagi audiens inilah Matius memilih untuk menyertakan hal-hal berikut:
1. Alih-alih menelusuri silsilah-Nya hingga Adam, Matius memilih untuk menautkan warisan Yesus pada Daud dan Abraham. Raja Daud yang berkuasa dan Abraham, bapa perjanjian, adalah para pendahulu yang diperlukan bagi anak ini -- Mesias yang telah lama dinantikan -- yang datang untuk memerintah sebagai Raja dan menggenapi janji-janji perjanjian Allah kepada umat-Nya.
2. Kehadiran para Majus dalam kisah Matius bukanlah kebetulan -- melainkan disengaja untuk kembali menegaskan kuasa dan otoritas kerajaan yang melekat pada anak kecil ini. Para raja dari Timur melakukan kunjungan resmi kepada Bayi yang disebut sebagai “Raja orang Yahudi.” Emas, kemenyan, dan mur menonjolkan kehormatan serta penghargaan yang layak diterima oleh seorang raja.
3. Lalu, ada Herodes. Kita tidak banyak mendengar tentang Herodes, dan perannya dalam kisah ini terasa mengganggu. Jauh lebih mudah membayangkan Yesus yang mungil di palungan daripada seorang tiran kejam di atas takhta. Namun, Herodes memahami dan bertindak berdasarkan kebenaran yang sering kita abaikan, terutama di tengah musim perayaan dan seruan kebaikan bagi semua orang: bayi ini datang untuk menggulingkan kekuasaan dunia kita.
Di sini, seperti di sepanjang kisah Matius, kekuatan subversif Kerajaan Allah menuntut kesetiaan kita. Sementara Lukas mengundang kita untuk menerima penghiburan Allah yang rela menjadi Allah beserta kita, Matius mengakui bahwa bayi ini -- meskipun sama manis dan menggemaskan seperti bayi manusia mana pun -- juga mulia, kuat, dan berkuasa. Dia menuntut kesetiaan dan ketaatan dari semua orang, tanpa membiarkan ada bagian hidup kita yang tetap tidak tersentuh.
Kita sering melewatkan penekanan ini, karena lebih memilih menghiasinya dengan dedaunan holly dan menuntut suasana gembira pada masa yang disebut sebagai waktu paling indah sepanjang tahun. Kita melewatkan sesuatu yang bahkan Raja Herodes yang jahat pun pahami. Pendeta Anglikan Joy Carroll Wallis menulis: “Kelahiran anak ini merupakan ancaman bagi kerajaan Herodes, ancaman bagi jenis dominasi dan pemerintahan semacam itu. Yesus menantang struktur kekuasaan zaman jahat ini.”
Matius ingin memastikan bahwa kita tahu Raja Yesus ini mengubah segalanya. Raja Yesus ini mengubah kita. Raja Yesus ini mengubah dunia, supaya kerajaan-Nya datang dan “kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga.” Sesungguhnya, “milik-Nya lah kemuliaan dan kerajaan dan kuasa selamanya. Amin” (Mat. 5:10, 13).
Sorotan pada Anda
Matius mendapat sorotan dalam kisahnya sendiri. Lukas mendapat sorotan dalam kisahnya sendiri. Bahkan Markus dan Yohanes memiliki sudut pandang mereka masing-masing tentang makna kelahiran Yesus. Pada masa lalu, para ahli sering kebingungan menghadapi perbedaan di antara kisah-kisah ini, lalu berusaha menyelaraskannya dan menghaluskan ketegangan yang tampak. Sekarang, kita memasuki masa penelitian yang lebih bersedia membiarkan setiap kisah berdiri sebagai perspektifnya sendiri, dan menurut saya, itu adalah hal yang baik.
Saya baru-baru ini menonton film "The Manchurian Candidate" (1962 dan 2004). Dalam cerita ini, seorang prajurit yang pemarah dan terasing, Raymond Shaw, pulang sebagai pahlawan perang. Setiap prajurit di unitnya dapat menceritakan bagaimana Shaw, di bawah tekanan yang luar biasa dan intens, menyelamatkan nyawa mereka. Namun, perlahan-lahan, kisah-kisah itu mulai runtuh. Bukan karena ketidakkonsistenan, melainkan justru karena setiap prajurit menceritakan kisah yang persis sama, hingga ke pilihan kata dan intonasinya.
Seperti yang diketahui oleh siapa pun yang pernah menyaksikan sebuah kecelakaan lalu lintas lalu menceritakan versinya sendiri, sudut pandang, perspektif, pengalaman hidup, dan niat selalu memengaruhi kisah yang kita sampaikan. Bukan karena niat jahat. Bukan karena kebohongan. Melainkan karena begitulah cara pikiran dan pengalaman manusia bekerja.
Demikian pula, Matius dan Lukas menceritakan kisah mereka masing-masing sesuai dengan sudut pandang, perspektif, pengalaman hidup, dan niat mereka. Masing-masing meyakini bahwa peristiwa-peristiwa sejarah dalam kehidupan Yesus relevan bagi jenis manusia seperti apa yang seharusnya kita hidupi hari ini, dan bahwa peristiwa sejarah kelahiran Yesus mengajarkan sesuatu tentang apa yang seharusnya kita percayai mengenai Allah.
Pada Natal, kita memiliki kesempatan untuk kembali menceritakan kisah Yesus, bukan hanya melalui khotbah atau pertunjukan, tetapi juga kepada para tetangga dan di pesta Natal perusahaan. Karena itu, saya bertanya-tanya: bagaimana saya menceritakan kisah Yesus?
Dengan keyakinan bahwa peristiwa-peristiwa lama ini masih relevan di lingkungan saya, di tengah keluarga dan teman-teman saya, bagian mana dari kisah kelahiran Yesus yang menolong saya memahami apa yang Tuhan sedang coba lahirkan dalam hidup saya pada Natal ini dan di tahun yang akan datang? Apakah saya membutuhkan penghiburan dari “Allah yang menyertai kita” untuk menemani saya melewati cobaan dan penderitaan yang mendalam? Ataukah saya membutuhkan Kerajaan Allah untuk menantang penyesuaian mudah saya terhadap nilai-nilai kerajaan keserakahan, materialisme, atau kenyamanan? Bagaimana Yesus masih harus dilahirkan dalam hidup saya, dan bagaimana saya dapat menemukan kata-kata untuk membagikan kisah ini dengan suara saya sendiri?
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Christian Reformed Church |
| Alamat artikel | : | https://www.thebanner.org/features/2011/11/the-ways-we-tell-the-story |
| Judul asli artikel | : | The Ways We Tell The Story |
| Penulis artikel | : | Meg Jenista |
- Log in to post comments