7 Kisah/Perikop Alkitab yang Membantu Saya Saat Iman Saya Bergumul

Kita hidup di dunia yang kacau, yang tampaknya semakin tidak menentu dari hari ke hari. Saya ingin bisa mengatakan bahwa saya tidak pernah bergumul untuk memercayai Allah, tetapi ada saat-saat ketika saya harus berjuang lebih keras untuk melakukannya. Pada masa-masa yang lebih sulit itu, kisah dan perikop berikut menolong saya:

Inserted image

1. Ketika saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, saya kembali membaca 2 Tawarikh 20, ketika Raja Yosafat dan pasukannya menghadapi tiga kekuatan yang bersekutu melawan mereka. Sang raja berseru kepada Allah, mengakui ketidakberdayaan dan kebingungannya dalam situasi itu. Namun, dia menutup doanya dengan berkata, "Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami terarah kepada-Mu" (2 Tawarikh 20:12, AYT). Kata-kata itu sangat menolong saya -- tetap arahkan mata kepada Allah!

2. Ketika hidup terasa di luar kendali dan Allah tampak jauh, saya berpaling kepada Markus 4:35-41. Teks ini berbicara tentang badai sungguhan, jadi saya tidak ingin menarik penerapannya terlalu jauh. Namun, kita belajar bahwa Yesus sepenuhnya berkuasa atas hal yang membuat para murid takut dan gentar. Dia dapat memerintah badai karena Dialah yang menciptakan angin dan gelombang.

3. Ketika saya terjerat kekhawatiran, perkataan Yesus dalam Matius 6:25-34 menjadi penghiburan bagi saya. Saya bisa saja berfokus pada semua rincian dalam perikop itu, tetapi tiga kali Yesus mengatakan tepat seperti yang perlu saya dengar: "Jangan khawatir" (ay. 25), "Jadi, jangan khawatir" (ay. 31), dan "Karena itu, jangan khawatir" (ay. 34). Ketika Anak Allah mengucapkan kata-kata itu, saya perlu mendengarkannya -- terutama ketika Dia mengulanginya karena Dia tahu kita cenderung tidak mendengarkan.

4. Ketika hati saya hancur memikirkan seseorang yang belum percaya, saya kembali kepada salah satu ayat pertama yang saya hafalkan sebagai orang percaya baru: Yohanes 3:16. Saat itu, teks tersebut mengajarkan kepada saya betapa besar kasih-Nya kepada saya. Sekarang, saya menambahkan kebenaran ini: betapa besar pula kasih-Nya kepada orang-orang yang sedang saya doakan. Tanggung jawab saya adalah memberitakan Injil, terus berdoa, dan memercayai Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada keluarga dan teman-teman saya yang belum percaya.

5. Ketika saya diserang musuh, saya mengutip perkataan Daud dalam 1 Samuel 17:47 dan Yahaziel dalam 2 Tawarikh 20:15. Daud tahu bahwa "pertempuran ini milik TUHAN," dan Yahaziel menggemakan kebenaran yang sama: "pertempuran ini bukan milikmu, melainkan milik Allah." Pergumulan saya mungkin berupa pencobaan yang berat, tawar hati, kekhawatiran yang menguasai, atau konflik rohani lainnya. Namun, perikop-perikop ini mengingatkan saya bahwa ini bukan pertempuran saya. Sang Pemenang berperang bagi saya.

Dia masih mengundang kita datang kepada-Nya, dan Dia masih memberi kelegaan bagi jiwa kita.

6. Ketika saya lelah karena pekerjaan pelayanan dan pergumulan hidup, perkataan Yesus dalam Matius 11:28 masih berbicara kepada saya, bertahun-tahun setelah pertama kali saya mendengar dan menghafalkannya: "Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberimu kelegaan" (AYT). Dia masih mengundang kita datang kepada-Nya, dan Dia masih memberi kelegaan bagi jiwa kita.

7. Ketika saya perlu memercayai pengampunan Allah, saya sebenarnya kembali kepada beberapa ayat yang menunjukkan bagaimana Allah menangani dosa kita. Bacalah ayat-ayat itu dalam tulisan ini -- dan bersyukurlah kepada Allah atas belas kasihan-Nya!

Kisah atau perikop apa yang paling menolong Anda ketika iman Anda sedang bergumul?

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : The Center for Preaching and Pastoral Leadership
Alamat artikel : https://www.pastorscenter.org/blog/7-bible-stories-passages-that-help-me-when-my-faith-struggles/
Judul asli artikel : 7 Bible Stories/Passages That Help Me When My Faith Struggles
Penulis artikel : Chuck Lawless
Memuat data...

Mulai PA Online sekarang!